Showing posts with label Reminder. Show all posts
Showing posts with label Reminder. Show all posts

Thursday, September 8, 2016

[REMINDER] Beristirahat dengan 'Tenang'



Hari ini aku lelah. Hari ini usahaku sia-sia. Hari ini waktuku terbuang percuma. Hari ini aku ditikam dari belakang. Hari ini aku menyedihkan. Hari ini aku kepayahan. Hari ini aku ketakutan. Hari ini aku kesakitan. Hari ini aku meluap akan kekesalan. Hari ini aku digagalkan. Hari ini aku disengsarakan. Hari ini aku diabaikan. Hari ini aku dicampakkan. Hari ini difitnahkan. Hari ini aku dilumer dan dimakan. Hari ini aku ingin dipulangkan.

Kubuang saja semuanya ke bak sampah, biar dikunyah oleh kucing kelaparan. Atau kutenggelamkan di lautan, biar lautan penuh sampah bertebaran. Atau ku bakar saja  di pekarangan, biar asapnya menyesakkan pernapasan.  Atau kumakan saja semuanya, biar sesaat kemudian aku dimakamkan.

Tapi kemudian, azan berkumandang. Dan aku teringat, Allah sudah lama ku"lupakan".

.....................

Dengan ke Maha Cinta-an-Nya terhadap hamba-Nya, Dia berlari dan memeluk mengatakan "Aku melihatmu sayang. Aku telah bersamamu dan bersama masalahmu."

Kemudian merangkul dan melanjutkan, "Ini semua sandiwara. Aku menciptakan kesengsaraan agar kau kapok dan tidak lagi ingin merasakannya. Jika hanya dengan sentilan fitnah saja kau sudah tumbang, bagaimana kau akan melawan neraka yang Kubuat?"

Kesadaranku mendaki perlahan. Dia meneruskan, "Aku tidak ingin kau mencicipinya, kau tidak akan tahan. Biarlah para pembangkang saja yang merasakannya. Kau jangan. Oleh karena itu Aku beri kau pertanda-pertanda. Tapi mengapa kau tutup mata dan telinga? Disaat sepersekian detik lagi waktumu akan binasa?"

Melalui lima pertemuan wajib dalam sehari, melalui keromantisan di setiap sepertiga malam terakhir, melalui setiap bibir yang berzikir, Dia menerima segala pengharapan dan keluh kesah. Kecuali dari si sombong yang dikata sanggup mengatasi semua.

.......................

"Dunia ini sudah cukup melelahkan. Jangan kau sambung jua kelelahan, ketakutan, dan kesakitan itu di pekuburan. Tidakkah kau ingin suatu saat nanti bisa beristirahat dengan tenang tanpa siksaan?".

Tuesday, August 30, 2016

[REMINDER] MOST Recommended Islamic Channels on Youtube!!

Kalau kalian merasa 'kurang tertarik' dengan postingan mengenai apapun yang berkaitan dengan islam dalam bentuk "tulisan", atau merasa 'masih kurang' terhadap postingan dalam bentuk "gambar" seperti yang sering di posting di instagra*, mungkin menonton video dari channel-channel berikut ini patut dicoba!

SERIUS.

Ada banyak (banyak sekali!) video-video dakwah yang beredar di Youtube, but I strongly recommend you all to watch and even subscribe these channels! Why ?

1. Video ini sebenarnya adalah ceramah-ceramah para Ustadz 'high class' yang diedit sedemikian rupa sehingga paduan antara visual dan audionya sangat mendukung terciptanya suasana yang ........ tidak bisa diungkapkan. Kamu harus merasakannya sendiri. Hard to describe by words!

2. Sejujurnya ada sedikit rasa bersalah saat mengetik "ustadz 'high class'", karena bagaimanapun, apa sih pekerjaan di dunia ini yang lebih mulia dari seorang pendakwah yang senantiasa mengajak orang-orang kearah kebaikan, meski dengan segala keterbatasan yang ada? Tapi disatu sisi, as a human being, kita tidak bisa menolak bahwa kita sudah terlahir sepaket dengan sifat suka membandingkan segala sesuatu
Ceramahnya diambil dari ustadz-ustadz luar negri (yaiyalah! yang bikin channelnya juga orang luar ._.)
Lah, terus kenapa kalau ustadz luar negri?

Sama sekali bukan karena "alasan dangkal" apapun itu yang kalian pikirkan. Kalian kenal tidak dengan Nourma Ali Khan atau Mufti Menk? Pernah mendengar bagaimana mereka berceramah? Ya, kira-kira seperti itulah! Tegas dan mengena!

____________________________________________________________________________

Okay, sepertinya prolog-nya sudah cukup panjang. IMHO these are my most favourite channels! 

1. TheMercifulServant



2. TheProphetsPath



3. YaseenMedia



4. LoveAllah328



5. iLovUAllah



6. TalkIslam



7. LampuIslam (in Bahasa, channelnya orang kita)




________________________________________________________________________________


Sunday, August 7, 2016

[REMINDER] Ketika Hujan Datang




Jadi sejak kemarin sore, hujan turun, lebat, dan lama, hingga sekitar jam satu dini hari. Lalu berhenti, dan kembali hujan di pagi hari. Sudah bisa ditebak? Banjir dimana-mana. Ada yang semata kaki, ada yang sedada orang dewasa. Ada yang masih bisa bermain lego di ruang tamu, ada yang lagi sibuk menyapu-nyapu air keluar rumah, dan juga ada yang rumahnya sudah jadi kolam. 

.............................................................

Hujan.
Di bulan Ramadhan.

Kita tahu betul siapa yang menciptakan hujan. Kita tahu betul siapa yang menurunkan hujan. Kita tahu betul hujan datang atas kehendak siapa.

Tapi.

Kita tak benar-benar tahu dengan “Sang Pencipta Hujan”. Kita tak benar-benar tahu dengan “Sang Penurun Hujan”. Kita tak benar-benar tahu dengan “Siapa Yang Berkehendak Atas Turunnya Hujan”.

Karena,
ternyata kita masih mengumpat hujan.
(dan tanpa kita sadari) ternyata kita masih mengumpat Sang Pemilik Hujan.

“Hujannya masih lama nii..?”
“Hujannya awet banget ya..”
"Gara-gara hujan sih, gak jadi pergi..!"
“Kalo sampai pagi, mau sedalam apa lagi ini banjirnya..?”

Padahal Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu (QS 2:29) 
sedangkan kita tidak mengetahui apa-apa.

Kalaupun terjadi sesuatu yang buruk dibalik turunnya hujan..
Kalaupun terjadi kebanjiran, kerepotan, kepayahan, dibalik turunnya hujan..
Bukakah Dia sudah mengatakan..
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS 94:5)

Lalu karna ke-Maha Tahu-an Nya atas hamba-Nya, Dia mengulang sekali lagi
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”  (QS 94:6)

[REMINDER] Pertemuan


Ingin rasanya segera kembali pada-Nya. Berharap bertemu dengan-Nya. Berharap bertemu dengan orang-orang yang mendambakan pertemuan dengan-Nya.

Tapi,

ternyata denyut nadi masih teraba. SA Node masih bekerja normal. Rupanya ia ingin mengingatkan kalau detik ini belum waktunya untuk istirahat. Masih ada perkara-perkara yang harus diselesaikan, masih ada tanggung jawab yang harus dituntaskan, masih ada dosa-dosa yang harus dihanguskan,

sebelum ‘pulang’.

[REMINDER] Dibalik Peristiwa



Don’t be panic dear, I’m with you. If it means to be, I’ll make it for you. Kun fayakun..
- Allah
................................................................................................................

3 dari sekian/tak terhingga jumlah contohnya :
1. Acara Doc’s Date 2016 (acara mengenai pengenalan berbagai ilmu spesialisasi di kedokteran) selama dua hari. Untuk hari kedua, dimulai dengan pembahasan spesialis bedah-jantung-gizi jam 8 pagi, di hari Minggu. –my biggest dream in dunya : Cardiolog– dan ternyataastaghfirullah tertidur sampai jam 8! ga ada yang bisa ngantar dan harus naik angkot! what a hectic & panic morningTapi kalau Allah sudah berbuat, apapun bisa terjadi. –acaranya ngaret– Aku tiba sangat sangat tepat waktu, sangat tepat sebelum acaranya mulai . Dan… bisa mendengar pembahasan tentang Cardio (Sp.JP) seutuhnya…….
2. Janji ketemu pembimbing jam 8 pagi di rumah sakit. Tapi ternyata jadwal kuliah di hari itu kurang bersahabat, harus bolos kuliah kalau ingin bertemu pembimbing yang cukup tidak mudah ditemui :”). Akhirnya demi tidak bolos, berniat nyelip di kelas lain.  Tapi kalau Allah sudah berbuat, apapun bisa terjadi. Pagi itu datang jarkoman kalau kuliahnya nya batal.Alhamdulillah…… bisa mengerjakan satu kewajiban tanpa mengorbankan kewajiban yang lain…….
3. Agustus 2015. Pulang maghrib dari Padang Panjang ke Padang naik travel. Waktu itu udah dinasehati, “Pulangnya besok aja, di Padang lagi badai & hujan lebat. Nanti di jalan kenapa-kenapa”
Tapi karena tetap keukeuh ingin pulang, akhirnya jadilah kami berangkat maghrib itu, karena di Padang Panjang belum hujan, hanya mendung.
Separuh perjalanan berlalu dengan aman. Saat hampir tiba di Lubuk Alung, tiba-tiba hujan sangat sangat lebat. Jalanan licin dan jarak pandang bahkan hampir hilang. Tidak nampak lagi jarak antara satu kendaraan dengan lainnya. Perasaan mulai ga enak.
Dan beberapa saat kemudian, perasaan tak enak itu terbukti…
Travel kami tabrakan, beruntun. Mobil di depan mobil kami berhenti mendadak, sehingga mobil kami menabrak mobil tsb, dan mobil dibelakang kami jadi ikut menghantam dari belakang…
-speechless- tiba-tiba langsung teringat perkataan orang tua..
Jadi hectic. Karena pemilik mobil ingin membereskan urusan -tabrakan- itu, kami berdua, perempuan, terlantar ditepi jalan di Lubuk Alung, mendekati jam 9 malam.
Panik. gatau lagi mau pulang ke Padang pakai apa. Menunggu lama, tapi ga satupun travel yang berhenti..
Rupanya Allah menyuruh bersabar. Beberapa saat kemudian tiba-tiba muncul seorang teman SMA kami, laki-laki, sebut saja A. Temanku yang lebih kenal dengannya menceritakan kejadiannya. Kemudian A bercerita kalau ia dan teman-temannya sedang berkumpul di rumah T (T juga teman SMA kami yang berasal dari Lubuk Alung). Pada akhirnya, A membawa kami ke rumah T, lalu T yang mengantarkan kami ke Padang dengan mobilnya…
………..
Satu hal lagi yang hampir lupa disyukuri :
Alhamdulillah tabrakannya hanya depan-belakang… Alhamdulillah kami aman…. Kalau seandainya di jalan yang licin dan jarak pandang yang nyaris hilang itu, tabrakan terjadi dari arah samping, atau terjadi hal-hal yang lebih buruk dari itu……
This blog (maybe) would never exist… 

[REMINDER] Jadi, Maunya Apa?!



Kalau berpikir tentang impian-impian di dunia…
Bukan main semangatnya! Selalu cari-cari quotes yang mendorong agar selalu berusaha, do your best!, pantang menyerah, tidak ada yang mustahil di dunia ini! Menciptakan planning-planning masa depan yang tak terhitung banyaknya. Di umur segini wisuda. Umur segini dapat kerja. Umur segini lanjut sekolah lagi. Umur segini menikah. Umur segini punya anak. Umur segini pergi umrah sekeluarga. Umur segini …… ~keinginan manusia itu tak terhingga, kan?

Tapi,

kalau berpikir tentang impian-impian di akhirat….
Ingin masuk surga.. lalu menguntai kata-kata, “Allah, aku tak pantas di surga-Mu, namun aku juga tak sanggup bertahan di neraka-Mu walau sekejap..”

Jadi, maunya apa?

Meminta belas kasihan Allah tanpa mau berubah untuk kebaikan sedikitpun?
Kalimat ini sebenarnya bagus, tapi kalo cuma sekedar kata-kata, tanpa diikuti usaha, yaah ga heran sih jika sedetik kemudian rayuan nafsu datang, langsung dituruti tanpa pikir panjang.
Padahal tadi udah mengemis “aku tak sanggup bertahan di neraka-Mu..”
…………
Kalau memang merasa tak sanggup di neraka, ya janganlah lakukan sesuatu yang akan menjerumuskan ke neraka!
Kalau merasa tak pantas di surga, kenapa tidak mencoba berusaha memantaskan diri? Kenapa ga coba beribadah dan beramal baik lebih banyak?
Tak usahlah pikirkan hasilnya, Allah itu memandang usaha, bukan hasil! Tak usahlah buru-buru berputus asa, “ah dosaku sudah terlanjur banyak. beribadah sebanyak apapun kayaknya ga bakal bisa mengimbangi dosaku.” 
Dia tidak tahu, atau lupa, atau pura-pura lupa, padahal ampunan dari Allah itu tak berbatas!  Dia tidak tahu, atau lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Allah adalah Maha atas segala sesuatu!
Segera atau sekarang juga buat momentum! Kalau hati sudah paham bahwa kematian itu bisa datang kapan saja, maka menunda bertaubat/istighfar sedetik saja rasanya takut setengah mati!

Saturday, August 6, 2016

[REMINDER] Kenapa Masih Memburu Dosa?



Mengapa orang masih suka berbuat dosa, kejahatan, kecurangan, menyakiti, enggan mengikuti perintah-Nya? Kenapa?
Mungkin karena mereka tidak tahu kapan mereka akan mati (atau justru mereka lupa apa itu mati?). Coba saja kalau setiap orang tahu kapan dia akan pergi. Pasti sudah pontang-panting mereka beribadah ini itu, berbuat baik kesana kemari, dan sebagainya.
ATAU justru sebaliknya. Bagi mereka yg tahu bahwa mereka berumur panjang, maka mereka akan membagi waktu hidupnya menjadi 2 porsi : 1 porsi untuk berfoya-foya, 1 porsi untuk bertaubat.
WAH ternyata mengetahui kapan kita mati itu bukan “solusi” terbaik.
Lalu apa lagi? Hm, coba saja kalau setiap orang diberi kemampuan untuk melihat secara nyata bagaimana neraka dan siksaan akhirat itu. Hm, rasanya manusia normal tidak ada yg ingin disiksa. Karena (mungkin) yg ada di pikiran mereka adalah mati dengan tenang di pelukan orang terkasih (bisa jadi someone haraam?) seperti cerita di roman remaja, lalu berangan langsung menuju surga. Mereka ber-positive thinking saja mereka akan mendapat kenikmatan akhirat sementara ibadah pun tak secuil dikerjakannya, maksiat sudah seperti bernapas, tak henti2 dilakukannya.
Memangnya Allah itu buta?
TAPI mungkin ini juga bukan “solusi” terbaik. Mereka sudah tahu kapan mereka akan mati, mereka juga sudah melihat secara nyata bagaimana siksaan akhirat itu. Tapi mereka masih tetap berbuat zhalim?
Oke, aku akan berhenti menulis sampai disini. Kenapa? 
Karena aku masih belum menemukan solusi selanjutnya. Atau aku tidak tahu lagi harus menyebutnya bagaimana. Masak aku harus menyebutnya orang yg mampu menghindari Allah, atau orang yang tidak takut sama sekali dengan Allah, Pemilik Seluruh alam semesta beserta isinya?”

[REMINDER] Pesan Dari Langit



Hidayah itu diminta, dijemput, dan diusahakan, bukan ‘ditunggu' !

Kalau ‘ingin’ atau 'diberi kesempatan untuk’ berubah menjadi lebih baik, do it immediately! Jangan tunggu 'keinginan’ atau 'kesempatan’ itu menjadi -MASA LALU-, karena masa lalu tidak akan pernah kembali. Bcoz in matter of time, once you take a step, there’s no turning back, bcoz you already have no land to step behind!

[REMINDER] Aku Harus Belajar - Aku Harus Percaya



Aku harus belajar untuk memahami bahwa orang lain itu adalah manusia, yang notabenenya tidak sempurna dan tidak akan pernah.
___________________________________________________________
 Aku harus belajar bahwa jika hari ini hariku sangat buruk maka aku tidak ber hak melampiaskannya pada orang lain.
Aku harus belajar bahwa jika hari ini hariku sangat buruk, maka aku tidak berhak membuat hari orang lain juga menjadi buruk.
 Aku harus belajar bahwa jika hari ini hariku sangat buruk, maka aku harus percaya bahwa hari buruk itu memang harus dan perlu terjadi.
 Aku harus percaya bahwa Allah tidak pernah bercanda saat membuat skenario hidup manusia.
 Aku harus percaya bahwa daun yang menguning di pepohonan akan jatuhsesuai kehendak Allah.
Kalau akhirnya daun itu jatuh karena terpaan badai, maka memang itulah akhir kehidupan dari daun itu. Kalau akhirnya daun itu harus jatuh karna senggolan tangan manusia, maka emang itulah takdirnya.
Manusia adalah sebaik baik ciptaan Allah. Dan Allah adalah sebaik baik pembuat skenario.
Jadi jika suatu hari datang hari yang sangat buruk di hidupku,..
Aku harus sadar, kepada siapa seharusnya aku bercerita. Kepada siapa harusnya aku bertanya penyelesaian masalah.

[REMINDER] Karena Manusia Sering Lupa untuk Bersyukur



“…… Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.”(QS. Yunus : 60)
Sudah sangat sering bukan, kita membaca atau mendengar teori tentang bersyukur? Coba diingat lagi, bahkan sejak usia kita belum mencapai separuh dasawarsa pun orang tua kita sudah mulai menyelipkan ajaran untuk bersyukur baik secara implisit maupun eksplisit.
“Kakak makannya dihabisin ya, nanti nasinya nangis lho.” 
Atau ketika berhenti di lampu merah perempatan jalan. “Kasian ya kak, mereka gak punya mama-papa, gak ada yang beliin mereka mainan baru yang bagus-bagus kayak punya kakak.”
Lalu saat mulai masuk sekolah formal pun, guru-guru senantiasa mengajarkan anak muridnya akan banyak hal termasuk cara beryukur, yang meskipun pada umumnya materi yang diajarkan itu tidak benar-benar dipraktekkan dan hanya dihafal dalam kepala agar bisa lulus ujian, untuk kemudian dilupakan. Lalu sebagian orang tua dengan gamblangnya berkomentar, “maklum lah namanya juga anak kecil. Nanti juga kalau sudah besar bakal ngerti sendiri!”
Wahai diri kita yang selalu bergelimang kesalahan, syukur itu sungguh gampang di teori. Namun sangat sulit pada kenyataannya, bagi kita yang belum terbiasa. 
Coba pikir, pernahkah kita sekalipun tidak mengeluh ketika terik matahari menyirami bumi, “panas banget gak sih hari ini?”. Atau ketika hujan turun berbondong-bondong untuk kemudian memercik di aspal, “Kok hujan sih? Lebat banget pula!” sambil mendumel tentang rencana-rencana yang terpaksa harus diundur hingga hujan reda.
Padahal kalau saja kita mau mendalami Surat Cinta-Nya, kita akan mendapatkan bahwa sesungguhnya Allah adalah sebaik-baiknya Pemberi Rezeki, seperti yang tertera dalam QS. Ibrahim : 32-34
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
Segala sesuatu itu dimulai dari hal-hal kecil. Oleh karena itu mulailah dengan mencoba mensyukuri panas terik dan hujan lebat, yang senantiasa akan selalu menghampiri kita silih berganti. Coba bayangkan, jika dengan hujan lebat saja kita sudah mengeluh, lantas bagaimana cara kita mensyukuri dan mengambil makna akan cobaan yang lebih besar di masa depan nantinya? Bagaimana cara kita mengerti bahwa hujan lebat yang kita anggap perusak rencana itu adalah nikmat bagi orang lain diluar sana?

[REMINDER] Kalaulah



Kalaulah tidak akan tersenyum, setidaknya jangan cemberut.
Kalaulah tidak akan membantu, setidaknya jangan menyusahkan.
Kalaulah tidak akan memperjuangkan, setidaknya jangan merusak agama.
Kalaulah tidak memperbanyak ibadah, setidaknya jangan menambah dosa.

[REMINDER] Berdua dengan Allah Tak Pernah Tak Seromantis Ini



Kalau kau tanya padaku apa aktivitas yang (mungkin) bernilai ibadah yang paling kusukai, ah tentu saja semua aktivitas akan bernilai ibadah jika kita berniat melakukannya karena-Nya dan memulainya dengan Bismillah. Tapi ada satu kegiatan yang kutunggu-tunggu tuk melakukannya setiap hari.

Bercakap-cakap dengan-Nya.

Aku, tentu saja bercakap dalam bahasaku sendiri, bahasa tanah air ini. Lalu kau mulai berpikir, “ha, tentu saja siapapun selalu bercakap dengan Tuhan-nya setiap hari. Saat seseorang tersandung batu saja dia akan secara tidak sadar mengucap ‘astaghfirullah’, ‘ya ampun’, atau paling tidak ‘oh my God’” Lalu aku membalas dalam hati, seberapa yakin kau seluruh orang yang tersandung batu di bumi ini akan berkata demikiran? Seberapa yakin kau orang tersebut tidak akan mengumpat atau justru mengeluarkan ‘sampah’ dari mulutnya.

Atau kau berpikir begini, “tentu saja siapapun selalu bercakap dengan Tuhannya setiap hari. Saat seseorang ditikam permasalahan, paling tidak di hari itu dia pasti ada mengatakan ‘Ya Tuhan bagaimana ini’?”

Kalau kau berpikir begitu, baiklah aku tidak mungkin menyalahkanmu.

Tapi bercakap yang aku maksud disini adalah ‘menceritakan’ seluruh hal yang hatimu rasakan sepanjang hari selama sekian menit, atau bahkan beberapa jam. Kalau di kamus sih namanya ‘Curhat’.

Ini hal sepele, tapi akhir dari seluruh penceritaan itu selalu dengan hati yang berdebar-debar seakan ia tak henti-henti mengucap ‘Allah-ku sungguh romantis’.

Apa kau mau tau apa yang kuceritakan pada-Nya hari ini?

Hari ini aku tidak menceritakannya secara gamblang, tapi aku tahu pasti Dia menganggapku sedang jatuh cinta.

Tapi aku sendiri tidak tahu pasti sedang jatuh cinta dengan apa atau dengan siapa.

Kalau aku boleh berhipotesa, aku rasa aku sedang (dan semoga selalu) jatuh cinta pada-Nya.
Bagaimana tidak, setiap hari aku selalu berlari menjauh dari-Nya. Setiap jam aku selalu tenggelam mencari-cari harta bumi-Nya yang jelas-jelas fana. Setiap menit aku selalu membuat repot malaikat tuk mengisi catatan amal buruk ku. Setiap detik, ah aku tak sanggup lagi mengatakannya.

Tapi setiap hari juga Dia selalu berlari meraihku agar kembali. Setiap jam juga Dia menunjukkan padaku hal-hal indah yang justru membuatku malu pada-Nya, membuatku merasa tersindir. Setiap menit juga Dia berusaha agar Malaikat-ku menulis di buku catatan yang lain, buku catatan amal kebaikan. Setiap detik, ah tentu saja Dia mencintai makhluk yang hanya mengaku-ngaku mencintai-Nya ini setiap detik.

Kalau boleh jujur, saat menulis ini, aku tak ingin Malaikat melihatnya. Karena aku hanya ingin tulisan ini hanya dibaca olehku dan oleh-Nya. Kenapa? Karena aku takut mereka yang setiap saat sibuk mengisi catatan amal burukku menertawakanku. Ah, aku yang labil, aku yang sebentar beriman, sebentar kemudian kafir. Tak punya pendirian. Sok-sok an menulis sesuatu seperti ini.
Meskipun ada pepatah yang mengatakan ‘iman kita itu kadang naik kadang turun’, tapi kali ini kalau boleh berharap juga, kalau boleh berangan juga, aku ingin sekali, INGIN sekali, punya hati yang stabil. YANG TIDAK BERUBAH-UBAH SEPERTI INI.’. Karena aku bahkan tidak tahu, apa yang terjadi pada hatiku saat aku bangun pagi esok hari.

So the iceberg of my feelin’ now is, aku ingin berterima kasih, pada Dia yang Terkasih, karena masih belum (dan tak akan pernah) bosan meraihku.

Bahkan aku tak berani membayangkan bagaimana jika setiap kali aku berbuat salah ia tak pernah menegurku lagi. Ia tak pernah menyindirku lagi. Tentu saja ‘air mata taubat’ kata orang-orang itu takkan pernah ada. Dan aku justru menjadi sebaliknya, setiap hari merasa pantas akan semua kemunafikan dan kebajingan yang aku lakukan, merasa logis atas semua kepahaman dusta duniawi ini, merasa halal atas sesuatu yang sudah pasti haram, merasa  bahagia dalam perjalananku menuju neraka-Nya.

Ah, sekarang hatiku jadi semakin berdebar-debar. Jadi begini rasanya jatuh cinta pada Dzat yang Maha Mencintai? Tapi apa daya, hati yang sedang jatuh cinta ini hanyalah hati seorang manusia. Aku bahkan tak berani menjamin hati ini akan selalu berdebar-debar sampai batas waktu usia ini. Lihat saja nanti, apakah aku akan rutin membaca sekian juz Surat Cinta-Nya setiap hari, misalnya.

.....

nb : When you speak to Allah, don’t be embarrassed to tell Him anything. The most beautiful thing is that He knows what you are about to tell Him and yet He still listens..