Showing posts with label Friends. Show all posts
Showing posts with label Friends. Show all posts

Saturday, December 9, 2017

[FRIENDS] 22 Tahun untuk Nadya

.................
...............................
...............................................


Selamat subuh nad! Hadiah ini mulai kubuat di suatu subuh di hari Sabtu. Hari ketika semua beban sekolahku sudah jauh berkurang. Bukan hilang seutuhnya, karena di hari Sabtu yang semoga cerah ini, aku ada jadwal jaga di RS mulai jam 8 pagi nanti sampai jam 8 pagi besoknya. Tapi setidaknya pikiranku sudah tidak berat lagi oleh ujian yang bertumpuk. Hehe.

Cinad apa kabar? Aku sangat merindukan Cinad :"

Di dalam hadiah yang semoga bermanfaat ini, aku ingin memberitahukan Cinad akan banyak sekali hal. Tentang kehidupanku dan bagaimana ia menempa. Tentang orang-orang disekitarku dan bagaimana ia membentuk. Tentang apapun yang ingin kuceritakan disetiap episode rindu.

Bagaimana rasanya menua, Nad? Ternyata kita tidak bisa bertahan untuk tetap idealis layaknya muda dulu. Wkkwkw kayak udah tua banget aja. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Ada banyak jiwa yang perlu di empatikan. Keputusan hidup itu, pada akhirnya perumusannya melibatkan banyak orang ya?

...

Nad aku ingin memberitahu Nad suatu hal bahagia, bahwa aku sangat amat mensyukuri jalanku saat ini. Segala perkara kebetulan, pada akhirnya akan menemukan hikmahnya sendiri. Butuh waktu dan butuh ruang penerimaan yang amat luas untuk mendapatkannya. Dan aku ingin sekali tahu bagaimana kehidupanmu saat ini juga sama halnya seperti aku, membuatmu bersyukur bahwa jalan hidupmu adalah seperti ini. Seperti detik ini.

...

Nad, I've seen so many people passing all the hospital corridors. Hidup dan mati itu, sebertetangga itu. Yang katanya disebut 'Malaikat Maut menziarahi kita setiap 21 menit disetiap harinya', aku yakin justru tiada detik tanpa aku bertemu Malaikat Maut. Berdiri tepat disampingnya pun mungkin aku pernah. Setelah aku pikir-pikir, ternyata mengerikan juga. Bagaimana jika sewaktu-waktu, ia salah cabut nyawa dan malah mencabut nyawaku? Hehe ga mungkin salah cabut ya. Tapi itu pernah ‘terjadi’. Maksudku, di suatu hari pernah ada kejadian seorang keluarga pasien tiba-tiba jatuh disaat solat. Semua berkumpul dan berusaha memberikan pertolongan pada ibunya. Tapi, kalau sudah waktunya, tidak ada yang bisa mengelak ya. Justru keluarga penunggu pasiennya yang dipanggil lebih dulu.

.....

Nad, aku baru menyadari kehidupan yang aku jalani saat ini bisa dibilang sangat tidak normal. Layaknya pengabdi negara yang melepas titel 'warga sipil'nya. Aku dan seluruh budak-budak RS ini secara tidak langsung juga melepas titel 'manusia normal'nya. Tidur tidak pernah cukup. Makan tidak pernah beres. Terpapar infeksi-infeksi berat setiap hari. Perihal waktu? Jangankan untuk orang-orang sekitar, jangankan untuk keluarga, waktu untuk diri sendiri saja rasanya sudah dibabat habis. Waktu untuk Tuhan? Astaghfirullah. 

Tapi,

syarat kehidupan agar terus belanjut adalah harus selalu ada pengorbanan, bukan?
Setiap ibu harus berkorban rasa sakit hingga nyawa untuk melahirkan kehidupan baru. Setiap supir, masinis, pilot, dan pengemudi apapun harus berkorban agar disetiap hari raya semua orang bisa berkumpul bersama keluarga.

...

Nad, maafkan jika beberapa paragraf awal justru kesannya seperti aku yang bercerita, kesannya tidak seperti hadiah. Tapi yang pasti aku ingin Nad tahu suatu hal. Bahwa waktu kita tidak lama lagi dan mungkin disuatu hari, aku bagimu atau kamu bagiku hanya tinggal sebatas foto dalam galeri. Hanya tinggal sebatas percakapan-percakapan usang, hanya tinggal wajah dalam ingatan. Waktu tidak pernah ada yang tahu. Tapi hingga detik ini dan insyaAllah hingga sampai kapanpun aku bernapas di dunia ini, Nad harus tahu kalau Nad sudah menjadi bagian yang krusial dari hidup seorang Zahara Bunga.

...

Nad, maafkan jika sekarang atau di suatu hari, waktuku jadi susah untuk dibagi, even for just making this small gift. Aku masih belajar untuk beradaptasi dengan semua tuntutan ini dan semoga adaptasiku tidak memerlukan waktu lebih lama lagi. Berkat ini, aku jadi terpikir banyak hal. Sekarang saja membagi waktu rasanya sesulit itu, bagaimana nanti kalau aku sudah menjadi istri seseorang? Ibu seseorang?

...

Cinad, apa kabar detik ini?
Semoga hari ini dan seterusnya, aku tidak akan menemukan Nad di rumah sakit manapun sebagai pasien. Semoga Nad justru datang berkunjung untuk membawakanku makan siang misalnya. Hehe.

Aku ingin tahu banyak sekali perihal kehidupan Nad yang sudah banyak terlewat. Aku ingin sekali tahu bagaimana lingkunganmu membuat Nad menjadi seorang Nadya hari ini. Menjadi seorang Nadya yang tetap menjadi teman terbaikku dan low profile seperti adanya dulu.

Aku ingin bertemu dan tetap bertemu Nad untuk beberapa tahun lamanya. Menceritakan keresahan disetiap periode kehidupan. Menceritakan kegalauan, kebaperan, keputusan-keputusan hidup, bahkan merk popok anak yang tidak bikin bokongnya merah-merah. Hehe.

...

Ternyata, kita sudah sampai di fase dimana kegalauan kita tidak lagi hanya sebatas jodoh, tapi juga perihal kehidupan itu sendiri. Tapi, bagaimanapun kerasnya kekuatan jarak dan waktu memisahkan, semoga Nad akan selalu ada di setiap fase kehidupanku, dan begitupun aku selalu ada di setiap fase kehidupanmu Nad.

...

Selamat menua, Nad!

Selamat mencicipi usia baru. Selamat menikmati hari-hari yang tersisa. Semoga segala badai, segala petir, segala kerikil, segala pisau yang menghujam, membuat Nad tumbuh menjadi manusia yang lebih kebal. Menjadi manusia yang lebih beriman dan cinta pada Tuhan. Menjadi jiwa yang kelak kedatangannya di langit disambut beribu malaikat.



With tons of love
1 jam sebelum sampai di RS





(dr.) Zahara Bunga H., (Sp.JP-K)

Thursday, March 30, 2017

[FRIENDS] 3rd: Paragraf untuk Dhayika





One of those people I'm grateful to know.

It was approximately 6 years ago. Living in a boarding school makes the introvert me didnt get to know better friends outside. People I did chitchat everyday were just my roommate, my neighbor-mate, my 'sal'-mate, particularly just these friends who got to see me every dawn and every night.

But, who knows? It seemed like I'm not that strongly-introvert ones. Chances were always come. I'm not bragging out but yes, I was quite active in many school events, being part of committes. Day by day I started to talk with more non-dormy friends. But this friend I'm gonna tell you about is one the exceptions. As I remembered, I've never got a chance. I only knew her name, then matched that with the face. "Oh! So it's her!" She was that kind of quite-popular ones in our school. Intan (one of my dormy friend) also talked about her sometimes. 


..........


*Cailah gaya banget pake bahasa Inggris --'


Allah emang ga pernah kehabisan skenario tentang cara mendatangkan orang-orang baru di lingkaran kehidupan kita. Apakah dengan menempatkan kami berdua di kampus yang sama membuat kami otomatis bisa langsung ngobrol ngalor ngidur ngobrolin jodoh yang entah kapan datang serta perasaan-perasaan yang telah hambar? Nope. It took time.

I've never expected that eventually I get to know this buddy even more. And when I did, it was nothing but thankful.

Kira-kira September tahun lalu, aku bikin tulisan disini tentang seorang teman luar biasa yang kehidupannya lebih dari sekedar inspirasi, Puspita Alwi. Aku ngepost dia di instagram, numpang bikin caption super panjang di kosan orang yang akan dideskripsikan di postingan ini. Terus disaat lagi ngobrol-ngobrol itu, anak ini tiba-tiba bilang "Ngek, bikinin juga Dhayi tulisan kayak gini di blog Ngek ya. Ntar pas dhayi ulang tahun lah biar surprise!"

As I remembered, September tahun lalu itu kami memang sudah dekat. Tapi aku selalu punya alasan atas apa yang aku kerjakan. Apalagi perkara menceritakan seseorang di blog ini. I'm not saying I'm picky, but unconsciously aku mikir, seinspiratif/seberharga/se-precious apa sih seorang teman ini sehingga aku mau meluangkan satu dari sekian postingan di blog ini, didedikasikan untuk dia? 

And I should say. Saat itu aku belum punya alasan yang cukup. Untunglah dia melanjutkan dengan kata-kata "Ntar pas dhayi ulang tahun lah-". Okay. Time always heals and makes everything.

And Time, it really did its fate.


......


Dia adalah seseorang yang.. terlihat selalu bahagia. Yang selalu punya bercandaan paling receh tapi bikin ketawa. Ketika kamu kelimpahan cinta dan kasih sayang dari orang paling dekat yang kamu punya di dunia, orang tua, then the only thing you know you should do is to share that love to other people. And yes, she did it. It's always fun everytime she told me about her parents who never got angry with her. Bagaimana orangtuanya seakan selalu 'menjaga', meng-'keep' perasaannya. It's quite unique I guess because I personally think that kind of people usually ended up being 'manja'. But this friend is exactly not one of those.

Dia adalah seseorang yang.. sangat menyenangkan. Dia selalu punya cara untuk dekat dengan orang disekitarnya, dengan orang dari latarbelakang berbeda, dengan orang dari pemahaman berbeda. Dia punya that kind of aura yang bikin orang disekitarnya itu merasa nyaman.

Kita pasti punya selingkupan orang-orang terdekat. Selanjutnya, kita punya lagi selingkupan orang yang lebih dekat, on another level. Selingkupan orang yang menjadi sasaran pertama disegala hal. Orang pertama yang tahu ini, orang pertama yang tahu itu. And this particular friend of mine, congratulation for joining this gold-circle of me! Congratulation for eventually being mentioned on this blog! Dia menjadi satu dari tiga teman terpenting dari tahapan hidup terkrisis dalam 21 tahun aku hidup, tahapan 'pencarian jati diri'. Dia adalah teman sesama penggemar top-five. What  is top-five? It's a vocabulary that only us know what it means. Dia adalah teman pertama yang aku hubungi saat Mbah meninggal dan aku harus segera take off ke Jawa di H-3 ujian. Dia adalah teman pertama yang tahu saat aku jatuh hati pada kebaikan 'seseorang'. Dia adalah satu-satunya teman yang menyaksikan percakapan via teleponku dengan 'seseorang' yang aku sudah berpisah 3 tahun dengannya. Dia adalah satu dari dua teman yang aku kirim email rahasia, yang yang hanya boleh dibuka kalau aku sudah cabut dari dunia ini nantinya. (Incase I live shorter than what I expected)

Dia adalah seseorang yang semoga aku bisa berteman baik dengannya selama di bumi hingga di Jannah nantinya. Dia adalah teman yang apabila aku tidak menemukannya di surga, selama Allah mengizinkan, aku akan pastikan untuk mencarinya. Semoga dia tetap menjadi dia yang saat ini, dan tidak akan pernah berubah melainkan kearah kebaikan.


I always believe that the greatest thing someone ever give was a their own writing. So with this late but sincere paragrapghs, I bring along this bunch of Du'a for you:

Oh Allah, may this year lets her get to know herself better and may it lets her to get to know her best friends and her family beter and may it makes strangers close friends. May she has just as many laugh as tears. May she smiles broadly everyday. May she learns from books and from movies and from family and friends and strangers and from simply living. May she learns every single moment something she didn't know before. May she not just hear, but listen. May she not just see, but observe. May she changes, for the better. May she gets a perfect ending in the hereafter and greets You in Your jannah later.

Aamiin.


To one of 'The Best of the Best'
Dhayika A. Besari







Tuesday, December 6, 2016

[FRIENDS] 2nd: Hadiah Ulang Tahun untuk Nadya



“Hoi!”
                Bang Egi seperti biasa, muncul tiba-tiba dengan segelas besar lemon tea sambil menjitak (agak) keras kepalaku. Aku tak menggubris. Anak itu sudah biasa diabaikan.

                “Lagi bikin apa?”

                Aku malas menjawab. “Coba tengok aku lagi ngetik apa.”

                “Hmmm. Udah beres rumus sampelnya?”

                “Aku jadinya total sampling, bang!” Kataku sambil memelas. Kemudian baru saja teringat kalau aku belum mengabarinya sama sekali mengenai ini.

                “Demi apa, dek??? Lima ratus loh itu! Dikali dua jadi seribu! Mampus lah kamu, dek!”

                Aku menampuk kepalanya dengan bantal sofa, sangat keras. Bang Egi hanya tertawa, iya tertawa. Sangat keras. Terdengar sangat puas. Aku mendengus.

                “Emang ga boleh pake rumus, ya?”

                “Demi keamanan seisi bumi dan langit lebih baik aku total sampling bang. Macam abang lupa aja penguji aku siapa.”

                Bang Egi menyeruput lemon tea nya hingga tinggal separuh gelas.

                “Padahal aku udah banyak tanya sama kawan aku bang. Udah ngerecokin dia sering-sering buat nanyain rumus ini itu.”

                “Sama kawanmu yang kuliah statistik itu?”

                Aku mengangguk. Menekan tanda silang diujung kanan layar. Menampilkan wallpaper dengan foto aktor yang menurut mataku parasnya terindah sedunia, Kento Yamazaki. Baiklah. Aku terbuai. Terbuai wajahnya yang mashaAllah tampan. Pandanganku jatuh sekilas di kalender. Dan kemudian terhening.

                “BANG! Mampuslah aku! Kawan aku ni besok ulang tahun! Dua jam lagi udah ganti hari bang! Aku belum siapin apa-apa!”

                Ternyata aku lupa. Aku lupa bahwa bang Egi sedang khusyuk bersama lemon tea-nya saat aku menepuk pundaknya keras dan ia terjungkal ke depan. Tumpahlah sekian persen isi lemon tea tersebut ke lantai. Mampus. Bang Egi si maniak lemon tea bakal geram besar sama aku.

                “He-he-he-he. Maaf lah bang! Aku kaget beneran tadi. Coba kasih aku inspirasi mau ngapain bang. Nulis ‘selamat ulang tahuunn!! Semoga gini semoga gitu’ udah pernah bang. Nulis yang puitis-puitis gitu juga dah pernah bang. Aku mau edit foto terus di collage cantik-cantik, tapi kok rasanya kurang greget gitu ya bang. Karena menurut aku hadiah terbaik itu tetap tulisan dari hati bang!”

                Bang Egi menatapku, geleng-geleng, sambil melap serakan lemon tea di tempat kejadian perkara yang aku ciptakan. “Coba kamu bikin cerpen tentang dia. Daripada bikin cerpen isinya baper mulu pengen nikah.”

                “Cerpen? Kayak mana lah ceritanya itu bang? Aku bikin dia jadi pemeran utamanya? Nanti ujung-ujungnya cinta-cintaan juga bang!”

                “Dasar kepala jones! . Bikin kek tentang pertemuan dulu kalian kayak apa, apa pengaruh terbesar yang dia ciptakan sehingga kamu jadi alay kayak gini, atau kebaikan-kebaikan dia yang gak mungkin kamu lupain, atau apa kek gitu. Makanya kamu itu sekali-kali belajar dari keromantisan abang sama kak Dina.”

                Aku memeletkan lidah kearahnya. “Dia teman SMA aku bang. Tiga tahun aku sekelas sama dia. Pendiam gitu dia awalnya bang, eh ternyata aku salah kira. Ternyata dia bisa banyak ngomong juga. Oh iya, aku ingat! Dulu waktu kami kelas dua, ada acara kelas di lapangan, dia duduk paling belakang dekat pohon-pohon. Tiba-tiba ada ulat besar hinggap di jilbabnya bang!”

                “Kamu tu kayaknya gak ada memori buat nginget yang bagusan dikit ya! Yang diinget yang jelek mulu.”

                “Abis nyeremin banget bang. Ulatnya gede parah, keliatan berat gitu. Hiii.” Aku bergidik sendiri. Aku melanjutkan.

                “Terus apa lagi ya? Banyak bang! Kami sering cerita-cerita. Dia itu tipikal yang suka di bully gitu tapi dia baik hati macam malaikat, siang malam sama abang. Oh iya! Waktu kami liqoq terakhir, dia juga jatuh dari ojek bang! Kakinya kalau gak salah memar. Terkilir apa ndak ya? Lupa aku. Pokoknya kami panik banget waktu itu bang.”

                “O iya? Terus langsung dibawa ke RS waktu itu?”

                “Nggak bang. Karna rasanya waktu itu yang nampak memarnya aja. Jadi diobatin sementara sama kakak mentor kami. Terus abis itu lanjut ke Malibo Anai. Kami tukaran kado. Waktu itu aku nyiapin kado boneka Winnie The Pooh karena berharap yang dapat Nadya ini bang. Dia gilak kali sama Winnie The Pooh”

                Bang Egi mendengar dengan seksama  --Kejadian langka dengan prevalensi 5%-- “Terus gimana? Jadi dia yang dapat?”

                “Nah itulah bang! Ndak rezeki dia sayangnya. Winnie The Pooh-nya jatuh ke tangan kakak mentor aku.”

                “Hmm. Kasian ya.”

                “Padahal dia lulus loh bang di FK Unand. Tapi dia ambil di STIS jadinya. Tau ndak bang, senang kali aku bang waktu tau dia lulus FK Unand tu. Dapat kawan aku. Eh, kiranya ndak jadi. Sedih kali aku bang.”

                “Tapi kalau dia ndak di STIS, ndak bisa dia bantuin skripsi kamu kan? Ambil hikmahnya aja.”

                “Iya juga ya bang.”

                “Kalau dia di FK Unand, kamu ga bakal tau rasanya kangen sama teman itu seperti apa. Terkadang jarak bisa membuat kita paham apakah kita memang sedekat yang selama ini kita kira. Jarak bisa buat kita paham apakah setelah berpisah ini, dia akan menjadi teman yang saat jika kalian bertemu kembali, menjadi seseorang yang kamu tidak tahu harus mengobrol apa, bikin kamu gugup serasa bertemu teman baru, atau justru kamu akan berbicara seperti dulu yang biasa kalian lakukan. Yaah, kamu pasti ngerti maksud abang, kan?”

                “Tumben isi otak abang agak lumayan hari ini.” Aku memujinya, setengah hati. Separuh membenarkan. Separuh berjaga-jaga kalau narsisnya jadi akut.

                Bang Egi hanya diam. Waw, tidak sesuai ekspektasi. Baiklah, aku lanjutkan.

“Aku ketemu dia tahun lalu bang. Waktu aku tahun tiga, kalau gak salah. Kami masih ngobrol panjang lebar seperti biasanya bang! Malahan rasanya lebih heboh dari sebelum-sebelumnya. Kami pergi makan es krim mahal, pergi karaoke, kemana lagi ya? Banyak lah. Bahkan kami saling curhat-curhatan tentang akang imam masa depan! Dia ceritain kawan kampusnya. Aku juga ceritain cemceman aku. Benar juga kata abang, perasaan bertemu teman dekat yang udah lama gak ketemu itu luar biasa bahagianya bang. Duh, kangen aku jadinya sama dia!”

                “Atau kalau kamu ndak bisa bikin cerpen, coba kirim voice note. Nyanyi selamat ulang tahun. Atau telpon dia.”

                “Aku juga kepikiran itu tadi bang, tapi aku itu ada tendensi low self esteem gitu. Malu aku dengar suara sendiri di rekaman.”

                Bang Egi tertawa mengejek. “Cempreng sih. Wajar malu.”

                Aku menjitak kepalanya tanpa ragu-ragu. Bukankah hubungan antar saudara itu memang penuh akan kekerasan fisik?

                “Kamu mau tau apa hadiah yang paling dahsyat?” Tiba-tiba bang Egi terlihat lebih serius.

                “Apa emangnya?”

                “Doa. Diam-diam. Hanya kamu dan Dia yang tahu isi doamu untuk dia. Kalau mau lebih mustajab, di sepertiga malam terakhir di tanggal ulang tahun dia. Kamu doakan apapun yang terbaik yang kamu harapkan untuk dia. Karena wishes-wishes yang 'tertuliskan' kadang hanya serangkaian kata formalitas. Belum pasti sepenuhnya dari hati.”

                Bang Egi berkata bijak.  Ini kejadian langka. Aku bertepuk tangan demi mengapresiasinya.

                “Itu yang abang lakukan tiap kak Dina ulang tahun ya? Yang abang bilang romantis itu?”

                “Oh, jelas!” Bang Egi mengangguk mantap, pongah.

                “Okelah. Setengah jam lagi udah jam 00.00. Aku ke kamar dulu bang, siapa tau dapat inspirasi hadiah lain, selain ‘doa romantis di sepertiga malam terakhir di hari ulang tahun dia’ ala abang itu.”

                “Nanti kalau ke suami kamu hadiahnya harus beribu kali lebih romantis ya dek!”


                Aku mendecak bangga. “Oh, jelas! Sejuta kali lebih romantis dari yang abang lakukan ke kak Dina!”


_____________________________________________________________________________


Ps :
to one of the best people in my years, Nadya El Khair.
Happy 21 y.o! (Dec 6th 2016)
Doanya rahasia :D

Sunday, August 14, 2016

[FRIENDS] 1st: When You're Sincerely Happy for Your Friend

So tonight I'd like to share something kinda personal with you all. I have a friend. I call her Puspit/Upit while her actual name is Puspita Alwi. We've known each other since 2010. She was my chairmate in highschool.  We always keep company since Allah did us part in 2013, when she was accepted in University of Indonesia (UI) while mine is Andalas University (Unand).

We've been a good listener for each other. We wrote as many dreams as we want. I still remember she fully wrote 6 pages in my journal when one of my biggest dream came true, "I (finally) go to Japan as an Indonesian Delegation for Jenesys Programme in 2012". It was an extremely amazing achievement I've ever had. She wrote any words she wants. Her dreams, her desires, her pray, her farewell message, and of course asking for 'oleh oleh'. I should say, it was the first time in my life I read the most sincere 'farewell notes' above all.

In the 3rd year of SHS life, we made an agreement, if one of us got accepted in our dream university, I should buy her/she should buy me a coffee in Starbucks. The agreement was written on a small note bordered by green decoration.




Guess what, later we found out that it was her who should buy me a coffee in Starbucks, bcos ITB didnt accept me :") I'm studying medicine at Unand instead :"). Actually we still remember about the agreement we've made, but had no time for making it real. We each other live too far away. Finally about several months later, she sent me a picture of Starbucks coffee she bought. It really boosted my mood!

She also told me many things about her college life esp her dedication to BEM and her researches as well (I dunno how to call it, she often published someting like 'research' on her SNS, and asked me to share it to my friends). She's just a hardworking but great mate for me. She personally didnt do me anything big but her spirit really does!

And today, August 13th 2016, about quarter to six at evening, she sent me a message that she's gonna fly to Oxford in less than 10 minutes!! I forgot to tell you that actually she gave me this news about 2 months ago, and today is D-Day!! I'm EXTREMELY happy and of course envy as well. Travel to UK is in my "bucket list before I die", I DO REALLY WANT TO GO THERE BUT SHAME ON ME I DIDNT DO ANYTHING TO ACHIEVE IT UNTIL NOW. I WAS BUSY MAKING PLANS BUT NEVER RUN IT. I WAS BUSY OF BEING LAZY ALL THE TIME.

She DID it. She finally achieved one of her biggest dreams she wrote on a journal back then in highschool. She helped me realize that life is all about being success. What is the meaning of being success? It means when you set a target then you achieve it! It means when you write a target then you give a "checked" symbol besides bcos you accomplished it!

Dear my one of the best of the best in life, I pray for you a meaningful life, a life that full of joy not sorrow, a life that full of smile not tears, a life that full of His ridha not His 'murka'. Thankyou is never enough. You deserve all of the best. Let Allah guards and guides you so someday we could greet each other in Jannah.

I sincerely love you coz Allah.

_____________________________________________________________________________

I dont think I could write any words for your upcoming birthday this year. This post is all I have. The only thing remaining is my du'a for your entire life.