Showing posts with label DailyLife. Show all posts
Showing posts with label DailyLife. Show all posts

Sunday, July 21, 2019

[DAILY LIFE] 24 y.o and What I've Learned




1. Apa sih yang dicari?

Pertama dan utama sekali mari kita bersyukur mengucap Alhamdulillah karena dunia ini tidak selamanya kekal. Semua hingar bingar, ketamakan, ketidaksetaraan beserta derivatnya ini hanya sementara. Bahkan dunia dan seisinya ini pun ga lebih berharga dari sebelah sayap nyamuk.

Dunya is worth-less. Akhirah is price-less.

Jadi, sebenarnya apa sih yang dicari?

Kita sama-sama manusia. Sama-sama numpang tinggal di bumi. Sama-sama diuji. Sama-sama sementara. Dramanya aja yang berbeda. Ada yang dikasi hiasan berlebih. Rezekinya melimpah, rumahnya megah, anak-anaknya gagah. Ada juga yang hidupnya monokrom. Bisa bernapas dan makan 3x sehari aja udah syukur. Dan ternyata membandingkan drama hidup sendiri dengan drama hidup orang lain itu memang gak pas, karena ya memang naskahnya beda. 

But you know what? 'Kesenjangan' itu, that's okay. Itu sah-sah saja. Namanya juga dunia.

Toh ujung-ujungnya sama-sama kembali ke tanah.

Jadi, sebenarnya apa sih yang dicari?

Tiap hari banting tulang, dan banting emosi. Entah itu bekerja, entah itu belajar, entah apapun itu namanya. Setinggi-tingginya pendidikan adalah menjadi profesor. Setinggi-tingginya perkerjaan mungkin menjadi CEO atau founder (?). Dan sayangnya ga semua orang dikasi kesempatan atau bahkan punya keinginan buat sampai di titik itu.

But you know what? That's okay. Itu sah-sah saja.

Jadi, sebenarnya apa sih yang dicari?

Jangan berani sebut "pengakuan sosial", atau istilah lainnya "pencitraan", atau kasarnya lagi "pujian orang lain". Sama-sama numpang kok saling ngebandingin drama masing-masing. Lagipula itu drama kan yang bikin Tuhan. Mau nge compare cerita bikinan Tuhan?

Jadi, sebenarnya apa sih yang dicari?


2. It's already that hard to be just kind.

Sama-sama punya beban. Sama-sama puyeng. Intensitas dan ruang penerimaannya aja yang beda. Jadi gausah ngeluh.
Positivity dan negativity itu sama-sama kuat. Sama-sama contagious. Kamu mau nularin yg mana?

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Yang saling menguatkan, saling membantu untuk mencapai tujuan masing-masing.

Jadi orang baik itu 'kayaknya' gak gampang. Harus diusahakan. Dan dipertahankan.


3. Harus 'kuat' dulu, baru bisa nolong orang lain.

Pasti kalian pernah tahu tentang cerita sahabat Rasulullah yang dulu wafat kehausan di padang pasir. Kalo ga salah, kisahnya tu begini. Setelah mereka menunggu lama, akhirnya datang bantuan seteguk air. Sahabat pertama menolak, katanya berikan saja ke sahabat yang lain. Sahabat kedua pun begitu, dan seterusnya. Pada akhirnya mereka menolak dan tidak ada yang meminum air tersebut, dan mereka semua berakhir meninggal kehausan.

Pernah terpikir aja, bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? Bukan maksud untuk menyalahkan kesetiakawanan para Sahabat, tapi andai kata ada satuu aja yang meminum air saat itu, apakah jalan ceritanya akan berbeda?

Gampangnya gini. Di pesawat selalu di edukasi kalau terjadi apa-apa, masker oksigen bakal turun dan kita disuruh make masker kita sendiri dulu baru abis itu nolong orang lain, nolong yang disebelah kita.

Menolong itu butuh power, butuh kekuatan. Andaikata jalan ceritanya berbeda, andaikata ada satu saja dari mereka yang meminum air tersebut dan kemudian beliau mendapat energi dan punya kemampuan untuk bergerak dan mencarikan pertolongan untuk sahabat-sahabatnya yang lain, mungkin akhir ceritanya bisa berbeda. Mungkin.

Kalau kita ga punya kekuatan, zero power, maka kita masih punya satu hal yang bisa diandalkan, nurani. 'Seminimal-minimalnya' kekuatan adalah doa. 

Allah selalu bilang ikhtiar itu punya dua komponen kan: usaha yang dibarengi dengan doa.

Singkatnya, harus ada yang 'kelebihan' supaya dia dapat menetralisir yang punya 'kekurangan'. Harus ada yang berilmu supaya dia bisa mengedukasi mereka yang kurang ilmunya. Harus ada yang sehat agar dapat membantu yang sakit. Sederhana aja, simbiosis mutualisme. Yang kekurangan jadi bahagia karna terbantu, yang kelebihan jadi bahagia karna membuat orang lain bahagia.

*kecuali jiwanya cacat, seret liat orang lain senang, itu beda cerita.

4. Life is choices over choices

(Nomor 4 ini terinspirasi dari videonya Gitasav dan mba Suhay Salim, jadi gaya bahasanya agak beda ya).

Hidup itu repetitif, berulang kali kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang harus diputuskan, choices over choices, mild to a heavy one, dari masalah mau makan apa sampe masalah mau nikah ama siapa, dan lo musti paham dengan setiap pro dan cons dari keputusan yang lo ambil, musti agreed dengan terms & conditionsnya, karna setiap keputusan itu ada untungnya dan ada resiko terburuknya, jadi apapun yg terjadi ya balikin lagi ke diri lo.

Misalnya lo memutuskan utk makan pedes, ya lo musti terima kalo nanti ada kemungkinan lo bisa mencret. Atau misalnya nanti lo memutuskan buat menjalin hubungan ama seseorang. Sebagus apapun prospek kedepannya, bakal tetap ada risiko kan? Kalau suatu saat nanti kenapa-napa, ya jangan serta-merta nge-blame tu orang, it needs two people to build a relationship, lo yang memutuskan untuk menjalaninya, ya lo harus siap dengan segala konsekuensinya. 

Sunday, March 10, 2019

[DAILY LIFE] Dunno Whether This Brother Got Mad at Her or Not


A summary of dozens conversation ----

Le Sister:
After those countless gripes

Le Brother:
Itu mentality dek. Baguslah kalau kamu sadar kamu masih belum cukup matur. Kamu punya kekurangan. Trus selanjutnya kamu mau apa? Gak mau berubah? Ya gak harus sempurna. Dan memang ga akan ada orang yang sempurna yang bisa menghilangkan semua sifat jeleknya. Tapi Tuhan itu ngeliat hasil apa usaha? Usaha kan? Okelah. Kamu dah pengen ni. Tapi apalah arti pengen kalo gak dilakukan. Sama aja mental kamu kayak orang yang bilang "aku tak sanggup di neraka tapi tak pantas di surga". Emangnya Tuhan bikin opsi lain? Mau sampai kapanpun dimanapun opsi itu cuma ada dua. Ya atau tidak. Theres nothing in between. Pilih salah satu. Jangan labil. Dunia tu keras. Kamu dah besar. Kalau kamu rasa itu salah, ya perbaiki. Jangan jadiin pembelaan "aku orangnya emang gitu/aku emang pemalas/aku emang procrastinator/im a bad decision maker/dan ke bullshit-an lainnya." Tolonglah. Jangan manja. Kamu yang harus keras ke diri kamu sendiri, kalau gak dunia yang bakal keras sama kamu. Apalagi kalau kelabilan kamu itu sampai ke tahap merugikan orang lain.

Le Sister:
Facing the situations where some ppl left me out

Le Brother:
Jangan lebay. Setiap orang punya prioritas dan masalah masing-masing. Kamu itu cuma satu dari sekian urusan yang ada di kepala dia. Kalau kamu dikacangin ya pilihanya dua, dia memang sehectic itu, yang bisa bernapas aja udah syukur, atau kamu gak termasuk prioritas dia. Trus kamu termasuk yang mana? Ya gak usah kamu terka-terka. Itu bukan kapasitas kamu. Ngabisin waktu aja.

Le Sister:
Talking about quarter life crisis

Le Brother:
Ya wajar sih. Kan kita terbiasa disuapin. Abis SD ya SMP. Abis SMP ya SMA. Abis SMA bisa belok dikit, kuliah atau kerja atau not at all. Kalo kuliah, trus wisuda, trus selanjutnya siapa lagi yang mau nyuapin? Ga ada kan? Kamu yang nentuin kamu mau makan apa, kamu mau hidup kayak gimana. Makanya rata-rata pada pusing. Ya karna emang udah fasenya begitu dan suka gak suka kamu harus lewati.

Le Sister:
Talk about a person who gave up the half way

Le Brother:
Ya ngapain sih. Satu, jangan bucin. Ya meskipun abang tau emang udah kodratnya sebagian besar perempuan kayak gitu, perasaannya udah nyampe di gunung tapi otaknya masih ketinggalan di got. Lebih butuh emotional security daripada hal-hal realistis. Laki-laki beda dek. Dia tu mikirnya sampai "ntar ini anak gadis orang mau dikasih makan apa? Mau diajak tinggal dimana?"

Dua, kalau ada masalah tu ngomong. Jangan lari. Jangan nggantung. Learn to communicate. Yang kayak begini aja kalian secemen itu buat diskusi, gimana ntar mau bahas air PDAM mati? Genteng bocor? Uang les anak? Untuk perkara seumur hidup kayak gini, kalian gabisa main-main. Harus janji tidak ada yang boleh lari ketika kalian diujung tanduk. Karna tujuan nikah itu bukan buat cuma senggama doang kan? Kalian itu bakal jadi teman hidup masing-masing. Harus jadi partner yang saling bisa diandalkan. Kalau berat sebelah, bakal jadi gunung es. Abang jamin.

Tiga, laki-laki kok lemah. Masalah pride dan kepercayaan diri itu urusan masing-masing. Mau kamu berbusa-busa ngomong berusaha meyakinkan dia, tapi kalau dianya gak mau yakin sama diri dia sendiri, ya useless dek. Dan kalau gitu kebalik dong, kamu yang cowoknya dan dia yang jadi ceweknya. Harusnya vice versa kan? Seimbang. Melengkapi. Empowering each other. Gak ada cerita kamu lowering your quality just  for you being equal with him. Sampek kejadian abang coret kamu dari KK. Trus sekarang iya ngomongnya "gapapa kok I'll help you as much as I can". Tapi mau sampai kapan? Kamu tu punya limit dek, karna kamu manusia. Selapang-lapangnya hati manusia, dia punya pagar. Kadang kitanya aja yang suka ga peka sebenarnya kita itu udah mencapai limit apa belum. Ujung-ujungnya zhalim sama diri sendiri.

Tapi meskipun abang bilang begitu, I cant judge and I dont have rights untuk melarang-larang kamu. Itu hanya pertimbangan dari abang. Keputusan tetap ada di kamu. Ada kok orang yang di PHP in 2 tahun dan dia tetap bertahan dan karena kebertahanannya itu mereka justru nikah dan malah live a happy life.

Nah, trus kamu jadi bingung kan, mau bertahan atau mau stop dari awal sebelum attachment kamu sama dia makin kuat dan pada akhirnya untuk melepas pun harus berkorban air mata lima liter? Telaah lagi, se worth it apa dia untuk kamu tunggu? Apa hal baik yang ada pada dia yang objectively gak kamu temukan di orang lain? Last step, ambil wudhu, istikharah. Shalat kamu dek. Pasti itu ketemu jawaban. Langsung dari Tuhan.

Le Sister:
*tearin up, gettin emotional

Le Brother:
U're my holy and only sister so It's my lifetime duty to teach and guide you the proper things. Gak usah sok terharu. Ambilin minum dong haus nih daritadi ngoceh mulu.

Sunday, March 3, 2019

[DAILY LIFE] Overthinking


Somehow what makes living a nightmare is.. manusia suka sekali memikirkan hal yang sebenarnya bukan kapasitas dia untuk memikirkan itu.

Seperti misalnya hal-hal berbau takdir.

"Kapan aku mati?"

Ah. Ini tidak tepat. Jarang yang mikir 'kapan ya aku mati?' Seringnya adalah mereka pada minta mati atau bunuh diri saat itu juga. Iya, saat di puncak masalah.

"Ini udah bener ga si aku kuliah disini? Kok makin lama aku makin hilang minat."

Hmm begini. Tuhan nyediain sebuah fasilitas khusus bernama shalat istikharah. Kalau hal ini terdengar asing, maka jangan lupa, ada juga sebuah fasilitas umum bernama doa. Sebuah sarana penyampaian kesan, pesan, komplain, permintaan, dan hal-hal egoistik lainnya, langsung kepada Tuhan. Ga pake perantara.

"Aku lolos ga ya kalo nyoba daftar kerja disitu?

Padahal yang perlu dia lakukan cuma isi formulir pendaftaran, ikuti tesnya, terus berdoa. Dah. Kelar. Ya jangan lupa juga persiapan buat tes nya kalik. Sarapan dulu sebelum tes juga perlu. Kalo keburu pingsan gimana mau ikut tes cobak.

"Aku jodoh ga ya ama dia?"


Padahal jauh sebelum dia mencuat dari vagina ibunya, diatas langit ketujuh sana, namanya sudah tertuliskan bersanding dengan nama lain. Gak jomblo.

...............................

Those paragraphs above seem practical and applicable. But reality surely aint ever easy.

Monday, September 17, 2018

[DAILY LIFE] Just Please.. Be Nice



Life's already this hard. Don't you dare make it harder by your mouth!

Benar adanya bahwa judging sebesar biji zarrah pun yang terdengar di telinga atau telihat oleh mata itu efeknya bisa berhari-hari. Only God really knows how much it'll hurt us. Only God really knows how much it'll consumes our mind, unconsciously. Standar penerimaan setiap orang berbeda-beda. Ada yang di judge sedikit, dianya bodo amat. Ada yang paranoid, padahal ga ada yang nge-judge tapi dianya udah stres duluan. People's level of tolerance are absolutely and will always be different. So at this level, could you just please understand?

You know what's bitter? People's interruption.

They want us to live life according to the values they trust, to their standards of living. They told us that we shouldn't be living like this or that. Oh man.. could you just please stop? 

Everyone deals with a lot of things each day. Can you just please be a good companion for them? To concole everytime it gets hard?
If it bothers you so could you just.. sit still and be quiet?

To everyone's decision, good or bad, that's a lot for them to deal with. So can you just please.. respect it? 

Just mind your own business and just please be nice. That really means a lot.

Sunday, August 12, 2018

[DAILY LIFE] Our Own Path



Untuk yang sebentar lagi akan beranjak keluar dari zona nyaman.

---------------------------------------------------------------------------------------

Oke. Disini kita akan belajar mengurus hidup sendiri-sendiri.

Ini tidak akan mudah. Kamu tidak bisa mundur karena ini sudah jatahmu. Kamu sudah mengantri secara tidak sadar. Kamu sudah tiba di masanya. Tidak ada jalan lain.

Ini tidak akan mudah. Kamu harus menutup mata dan menjadi budeg secara selektif. Kamu harus belajar memilih mana yang harus dilihat dan harus didengar. Kamu juga belajar berjalan di shirattal mustaqim-mu sendiri, dimana yang membuatmu teguh atas perjalanan itu hanyalah Tuhan dan dirimu sendiri. Tidak ada yang akan memegangi karena setiap orang cemas dengan perjalanannya masing-masing.

Keluar dari zona nyaman tidak akan pernah mudah. Semua akan terasa serba sulit mulai saat ini dan intensitasnya akan terus meningkat. Kamu dituntut untuk menyesuaikan. Untuk beradaptasi. Kalau tidak, kamu akan berakhir meloncat dari atap gedung itu.

Urusan hidupmu, terimalah saran-saran yang baik dari orang-orang terdekatmu, namun tolong pastikan bahwa keputusan-keputusan besar itu tercipta setelah percakapanmu dengan Tuhan diatas sajadah. Setelah doa-doa panjang yang kamu lirihkan disetiap malam. 

Tuntutan sosial itu mengerikan. Jika kamu adalah seorang sarjana dari suatu universitas ternama, maka sosial menuntutmu agar kamu bekerja dan mendapatkan upah yang sesuai menurut takaran mereka. Jika kamu seorang dokter, maka sosial menuntutmu untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, menjadi spesialis ternama, tanpa peduli anakmu dirumah tidak ada yang mengurusi. Jika pekerjaanmu di mata sosial bukanlah sesuatu yang menghujankan uang sekian karung, namun dilihatnya rumahmu bak istana, maka sosial akan menghujammu "pasti korupsi!" tanpa peduli bahwa kamu punya bisnis halal yang kamu usahakan diam-diam. Jika kamu adalah seorang wanita berusia kisaran 25-27 tahun, maka kamu akan dihujat pertanyaan "kenapa belum menikah?".  Jika kamu telah menikah lebih dari setahun dan belum memiliki keturunan, maka sosial akan menghujammu pertanyaan "kenapa belum ngisi?"

Sosial tidak akan peduli apa dampak dari pertanyaan yang mereka utarakan.

Tuntutan sosial itu mematikan. Oleh karenanya, dilarang menjalani hidup demi memuaskan sosial. Tuntutan mereka tidak punya batas. Mulut-mulutnya tidak bisa disumpal, mata-matanya tidak bisa ditutup, kaki-kakinya tidak bisa dijerat dari mendoktrinisasi manusia atas segala peraturan yang mereka buat-buat sendiri. 

Permasalahanmu akan bertambah variasinya. Tak lagi sekedar uang jajan habis, melainkan bagaimana cara menghasilkan uang dengan cara yang diridhoi-Nya. Tak lagi sekedar ketakutan menghadapi dosen killer, melainkan menghadapi atasan jahannam yang bisa memecatmu kapan saja.

Mulai titik ini, kesulitan akan semakin meningkat intensitasnya. Kamu harus kuat.

Dan jangan lupa, dekati Tuhan.

Saturday, July 7, 2018

[DAILY LIFE] The Altruists


Sebutkan salah satu jenis kebaikan yang sudah ada dari zaman dulu dan masih bertahan sampai detik ini?

Pengorbanan.

Untuk orang lain. Atau makhluk lain.

Say Alhamdulillah to Him for making this temporary world tidak hanya berisi orang-orang jahat namun juga orang-orang baik yang senantiasa memberikan kebaikannya pada orang lain. We call them the 'altruists', yang menempatkan kepentingan orang lain diatas kepentingannya sendiri. Yang menekan egonya sendiri demi ego orang lain.

Dahulu sekali, ada Khadijah RA yang merelakan hartanya demi dakwah Rasulullah. Ada Bilal bin Rabbah yang rela dihimpit batu besar demi mengumandangkan azan dan mempertahankan keyakinannya. 

Setiap hari Senin di seluruh Indonesia, selalu ada upacara bendera. Hampir selalu ada yang mengeluh panas, haus, berkeringat, padahal dia tidak melakukan kegiatan apapun selain berdiri. Berdiri ditengah lapangan itu tidak mengancam nyawanya. Tapi dia tetap saja mengeluh. Padahal sekian tahun silam, demi berkibarnya sang merah putih itu, sudah berapa liter darah yang tumpah?

Setiap hari di seluruh pelosok dunia, selalu ada wanita yang melahirkan. Ada yang diberi rezeki oleh-Nya proses melahirkan yang normal. Ada yang harus merasakan perihnya pisau operasi. Apapun prosesnya, keduanya meminta tebusan yang besar. Keduanya mengemis nyawa. Dan si anak kemudian akan terus mengeluh sampai dia sendiri yang merasakan sakitnya melahirkan.

Setiap malam di bangsal-bangsal rumah sakit, ada yang tiap sebentar memeriksa tekanan darah, ada yang bersedia duduk standby di konter menunggu keluhan keluarga pasien. Suatu hari di hari raya Idul Fitri, di sebuah bangunan kecil berukuran 1,5x1,5 m ada seorang bapak yang standby menaik-turunkan palang tanda kereta akan lewat. Suatu hari di hari raya Idul Fitri, ada orang-orang yang bekerja semakin keras di tempat-tempat wisata, meninggalkan anak-anaknya yang juga merengek minta pergi liburan.

Orang-orang seperti itu, terlepas dari ikhlas seutuhnya atau tidak, Alhamdulillah masih ada. Dan akan selalu ada.


[DAILY LIFE] Generasi 'Golput'



"Mau makan dimana?"
"Terserah."
"Aku ngikut aja."
"Apapun lah, yang penting makan."

"Weekend ini mau jalan kemana?"
"Terserah."
"Aku ngikut aja."
"Kemanapun lah, yang penting jalan. Ngilangin suntuk."

"Kita bagi tugasnya gimana? Mau kerjain bareng-bareng apa sendiri-sendiri?"
"Terserah. Aku ngikut."
"Dua-duanya boleh."
"Bareng gapapa. Sendiri-sendiri gapapa juga."


Dan.. gitu aja terus. Sampai lebaran monyet.

Jangankan untuk milih yang berat-berat semacam presiden, gubernur, walikota, dll. Milih makanan aja golput. Milih mau jalan kemana aja golput. Sekalinya disodorin opsi makanan malah komentar. Diajak jalan kesana, ngeluh.

'Terserah' atau 'ngikut' atau apapun sinonimnya itu, sama sekali bukan jawaban yang bermanfaat.

Mbok ya, apa salahnya kalo ditanya "mau makan dimana?" sebutin aja noh nama tempat makan dari ujung utara sampe selatan kota: nasi padang, pizza hut, KFC, McD, AW, dll dsb dst. "Mau jalan kemana?" sebutin itu nama tempat satu-satu: pantai utara, pantai selatan, hutan belantara, kolam renang, puncak cemara, puncak gunung, kawah belerang, mall, dll dsb dst. 


Emangnya kalo ditanya "Mau nikah sama siapa?" masih mau jawab:
"Terserah."
"Ngikut aja."
"Sama siapapun boleh, yang penting nikah."


Gak, kan?


Friday, June 29, 2018

[DAILY LIFE] Dealing with People



Belakangan ini hampir setiap hari w dihadapkan dengan kondisi 'dealing' with people on another level. Bahasa yang lebih singkatnya 'dealing' with hard people. Tapi setelah dipikir-dipikir, kayaknya bukan belakangan ini deh munculnya. W nya aja yang baru ngeh dan baru sensi sama hal beginian. Dan range peoplenya itu makin meluas dan things you have to deal with nya juga makin meningkat. Mulai dari stranger seperti keluarga pasien sampai ke emak w sendiri yang OCD nya nauzubillah.

Seriously ya keluarga pasien adalah one of the hardest people you have to deal with. Seringnya itu adalah karena perbedaan persepsi dimana yang menurut 'kami' kondisi pasiennya itu stabil dan terkendali dan baik baik saja, tapi keluarganya cemas berlebihan sehingga dia sering mengadu tiap sebentar kalo pasiennya inilah itulah dan sebagainya. Disatu sisi annoying, apalagi kalo kaduannya muncul di jam-jam mata lo mulai ptosis, ketika kelopak mata atas dan bawah lo saling merindu dan ingin berpelukan. Jahat sih emang, tapi ya w gabisa sok suci juga sih, just bcos you think you're soon to be a doctor or already a doctor, lo juga manusia biasa yang bisa ngeluh dan bisa capek dan bisa ngantuk tengah malam.

Berhubung w menyinggung capek, w jadi kepengen ngebahas how it feels to work in 'this field'. Gimana rasanya? Berasa srigala dalam selimut. Alay amat bahasanya. I mean lo capek dan lo ngeluh gabisa tidur dan disaat yang bersamaan lo juga harus belajar dan mikirin ujian dan sebagainya, tapi disatu sisi lo tau berada di posisi keluarga pasien itu jaaaaauh lebih berat (I've been there too pals,  waktu emak dikuret dan dioperasi sekitar 2 tahun yang lalu) Terkadang menjadi orang yang mengerti medis itu bikin lo ngerasa kalo gak tenang banget ya kalo gak cemas banget. Tenang karena despite of keluhannya yang mengerikan, lo paham somehow it's gonna be okay. Cemas karena lo tau setelah penyakit yang dialaminya saat ini, akan ada serentetan komplikasi yang cepat atau lambat pasti terjadi, walopun mereka ga ada keluhan. Lo tau kalo ini keluarga lo bisa mati kapan aja walopun keluhannya minimal.

I really understand how it feels to be keluarga pasien. Ngeliat emak w packing buat nginap di RS aja rasanya tu udah nyesek. Bukan sedih tapi nyesek, kayak tercekat gitu. Then hari-hari selama emak di RS. Rumah yang biasanya ada emak lo nonton tv di ruang tengah sambil cekikikan, emak yang biasanya ngomel karena piring ga langsung dicuci abis makan, sekarang hening. W yang saat itu tau kondisi emak will be fine aja udah nyesek luar biasa sampe-sampe metrorragia w kumat. Apalagi jadi keluarga pasien yang sakitnya emang end stage dan ga ada harapan buat sembuh sama sekali like DM (diabetes mellitus), CKD stg V (gagal ginjal, yang orang awam biasanya taunya udah cuci darah), dll. W gatau segelap apa dunia yang mereka hadapi dan w gatau apakah kalo w di posisi mereka w masih nafsu makan apa gak.

Tapi teteeeeup aja.

W masih juga mengeluh karena harus dinas lagi harus jaga malam lagi harus ngerjain orderan lagi dan sebagainya. Padahal w lagi ga ngejagain pasien di ghaza dan beresiko kena peluru kyk Almh. Razan. Padahal w masih sehat dari ujung rambut sampe ujung kaki dengan support system alias keluarga inti yang masih lengkap dan sehat jiwa dan raga dan saling menyayangi. Padahal w punya more than million things yang bisa disyukuri but still, here I am.

Selain keluarga pasien, lately I also found it hard to deal with some friend. Seperti yang dikatakan orang orang, semakin lama lingkaran pertemanan lo bakal semakin sempit tapi kualitasnya akan semakin deep. Entah kenapa semakin lama tabir itu semakin terkuak. Bahasa apaan nih. Semakin lama aslinya orang itu entah kenapa muncul ke permukaan. The biggest lesson for me this year 2k18 is dealing with people yang perhitungan kalo kerja. They count euuvverry little action they made and they compare it to you, they've done this and this so according to 'law' you're the one who should do that and that, or you owe them a help, you have to pay them back. Lack sedikiiiit aja, even yang ga disengaja pun, they'll tell others that you are PATO. You are water cat. You are uncoperative. You are THAT bad.

I found an amazing writer wrote this one on her blog:

"We simply can’t expect other people to treat us how we would treat them, whether in friendship, in love, or in life in general. We don’t all have the same ideas about transparency, loyalty, forgiveness, patience, or what it means to love each other with the fierceness that I believe we all deserve. But you know what? That’s okay.

At the end of the day, I think it goes a long way to just be kind. Remember that everyone is doing his or her own best in the midst of individual uncertainty, hurt, insecurity, fear, rejection, and everything else that life throws at each one of us. Maybe we’d all do well to forgive each other for being human and choose to gravitate toward people who love like we do.”

Ternyata emang bener. "Repeating life lessons until they are learned." We knew each people are fcking different. But I knew is unfortunately different with I've learned. Hal-hal pelik seperti kesabaran, how to respond properly, how to be professional, dan sepupu-sepupunya itu butuh latihan yang setiap orang beda-beda jatah waktu dan intensitasnya. They never work instantly. There's a word saying "when you cant change the situation, it's you who have to change." It's you who have to adapt. It's you who have to grow.

Tapi kan kita manusia ni emang keras kepala. Pantang disalahkan. Semut aja disalahin padahal dia cuma nyari makan. Kita sendiri yang ceroboh biarin tuh toples gula tutupnya ga rapat. 

Monday, June 25, 2018

[DAILY LIFE] Being 23 yo: What I've Learned The Most



Mari kita buka postingan pertama di tahun 2018 ini dengan mengucapkan:
"ALHAMDULILLAH. Yang punya blog masi hidup. Belum mati belum kelindas belum tenggelam belum apnu."

Astaga. Udah 6 bulan sejak postingan terakhir. Udah 6 bulan w terlalu fokus jadi 'budak RS'. Udah 6 bulan blog ini berdebu berlaba-laba dan berkecoak. Yauda. Gausa basa-basi lagi. Di tahun 2018 yang tjerah ini mari kita membahas sesuatu yang... gatau si bakal ringan sedang atau berat.

Jrengjrengjreeengg.. Bismillah.


1. Memulai sesuatu yang baik itu gampang, mempertahankannya super susah.

That's why Allah sangat menyukai amalan yang sedikit namun rutin, daripada amalan yang superb tapi cuma dilakuin sekali seminggu or sebulan or kapan ingat. That's why istiqamah itu sangat mahal harganya. Padahal kebaikan itu bisa jadi hanya berusaha untuk tidak mengeluh setiap kali hujan lebat dan mengacaukan rencana. Padahal bisa jadi kebaikan itu hanya berupa bertilawah 1 halaman per hari. Ya Allah cuma 1 halaman sehari dan masih susah juga buat merutinkannya? Yak. Baru ingat kalo right beside you selalu ada Jin yang benci banget kalo lo ngelakuin itu dan setia membisikkan berbagai alasan yang menurut logikamu dianggap benar. 

Btw jin itu rajin bener ya. Kita aja yang udah ngelakuin daily life sesuai passion pun kadang bisa jenuh, bisa mumet. Lah mereka semangat terus. Gamau tau pokoknya ni orang harus ikut bareng gue ke Jahannam.

Astaghfirullah.

2. Tidak ada orang yang seutuhnya baik dan tidak ada orang seutuhnya jahat.

That's why you never ever can judge people. Muka manusia itu banyak. Apa yang ia tampakkan pada A tidak sama dengan yang ia tampakkan pada B. Apa yang terlihat buruk or riya or sejenisnya diluar, belum tentu niatnya juga buruk, meskipun kamu berdalih dengan "niat yang baik harus disertai dengan cara yang baik juga dong." Kita bukan Tuhan yang bisa mendengar semua isi hati dia. Kita tidak akan pernah bersama dengan manusia manapun selama 24 jam full eventhough she/he is our pious. Emangnya lo ngikutin dia ke toilet juga pas BAB? Gak kan. We'll never see what's in everyone's mind. We'll never know what's everyone's intention. Kita hanya menduga. Hanya berprasangka. And Allah said janganlah berprasangka, sebagian besar dari prasangka itu adalah buruk.

Ada hal menarik yang w tangkap selama 1 tahun jadi koas ini. Setiap orang punya pembenaran masing-masing dan setiap orang gak mau dianggap salah. Misalkan ada sebuah kesalahpahaman antara A dan B. Masing-masing A dan B akan bercerita kepada koloninya mengenai masalah tersebut dari sudut pandang 'mereka'. Sadar gak sadar mereka akan bercerita dan mengisyaratkan kalau yang benar itu adalah mereka. Siapa yang sebenarnya "benar" dan siapa yang sebenarnya "salah", hanya Allah dan nurani mereka masing-masing yang tau. Lo pasti ngerasa lah kalo yg lo lakuin itu sebenarnya gak sesuai norma sosial atau sebagainya, kecuali kalo nurani lo dah mati. Then, wallahu'alam.

Tapi emang susah banget woy. Di zaman dimana para lambe berserak ini, untuk tidak men-judge or berprasangka itu emang ujian terberat.


3. Mengingatkan itu boleh, tapi jangan didepan umum.

Melalui surat Al-Asr, Allah mengajak agar kita saling menasehati dalam hal kebaikan. But, niat yang baik harus disertai cara yang baik pula kan? Seperti bagaimana Rasulullah berdakwah. Niatnya benar, tapi kalau Beliau melakukannya dengan cara yang tidak sinkron, mana mungkin Islam bisa bertahan hingga detik ini.

Ada yang berdalih bahwa mereka 'berdiskusi' (bahasa awamnya: gibah) untuk merumuskan solusi, untuk merumuskan hal-hal apa yang harus dibenarkan dari oknum yang mereka diskusikan. Tapi abis itu si orang ini mereka 'nasehati' didepan orang lain. Kalau niat lo emang murni mengingatkan kesalahannya tanpa ada maksud mempermalukan or menghakimi or sejenisnya, ya lakukanlah secara personal. Bahkan pelajaran mengenai parenting pun mengatakan if u really need to scold ur child, don't do it in front of their siblings. Bahkan didepan saudara kandung sendiripun tetap harus dijaga pride-nya.

4. Sometimes, you have to be BUDEG sama apa kata orang.

Ini agak gambling memang. Deciding mana yang harus 'didengar' dan mana yang harus di-budeg-in itu sangat butuh kemampuan menilai sesuatu secara objektif yang superb. Karena bisa jadi yang pengen kita budeg-in itu sesuatu yang baik, hanya saja karena pikiran kita sudah terkunci jadinya ga ada akses buat hal-hal baik untuk masuk. Terus gimana? Someone said to me "ngucap Astaghfirullah dulu. Netralin pikiran dulu. Lalu dengar kata hatimu, kata nuranimu. Apakah ini lebih baik dibudeg-in? Atau justru apakah ini pesan kebaikan yang dititipkan-Nya melalui orang itu?"


5. PLOT TWIST bisa terjadi kapan saja. 

Serapi apapun manusia berencana, rencana Allah juga tetap jalan. And we'll never know apakah yang kita rencanakan serasi dengan rencana-Nya. Berhubung daily life aku setahun ini didominasi oleh rumah sakit, then I'd like to point out about the bad plot twist and the death. Terutama pas w lagi stase forensik. Lo gapernah tau ketika lo sekeluarga lagi menjenguk saudara ke RS, terus pulang bareng tapi bokap lo pisah sendiri karena ada urusan lain, dan tau tau lo dapat telpon kalo bokap lo tewas ditempat abis kelindes truk. Lo gapernah tau ketika lo nunggu abang lo yg pulang kampung naik bis, tau tau pas dia turun kakinya salip/nyangkut terus jatuh dan kemudian bisnya jalan dan dia kelindas. Lo gapernah tau ketika lo nungguin kakek lo pulang umrah, tau-tau dapat kabar beliau meninggal di pesawat. Umur gaada yang tau.


.................................

Sekian dulu random thoughts malam ini. InsyaAllah part selanjutnya akan menyusul dalam tempo yang sesingkat-singkatnja.


Tuesday, March 21, 2017

[DAILY LIFE] 'Fighting' The Angel of Death

................
.............................
..............................................

SOURCE : Instagram account @jd.moha


Tidak ada yang jauh lebih pengertian, tidak ada yang jauh lebih baik, selain Pencipta kita sendiri.

Allah.


Aku udah lama follow akun seseorang yang foto-fotonya ada dibawah ini. Tapi baru hari ini aku sengaja baca semua captionnya. Dan... i've never found someone yang... such an inspiring human being! Namanya Mohammad JD. Dia adalah seorang humanitarian, volunteer, relawan, part of SAMS (Syrian American Medical Society), dan lain-lainnya. Dia juga adalah anak dari seorang refugees. Kalo ga salah dia ini campuran Palestine-American. Awalnya aku kira dia dokter, ternyata dia nurse. Kehidupannya sehari-hari? Helping those refugees. Kadang langsung terjun ke perbatasan dekat syria, kadang di bagian negara yang lain, kadang di rumah sakit refugees di California. Intinya ya itu, menolong para refugees. 'Fighting' The Angel of Death. Agar mereka tetap hidup dan bisa merasakan kehidupan. 

Lewat tulisan ini, aku akan merangkum some of his great photos & captions yang sangat sangat membantu untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak punya hak untuk mengeluh. Tidak punya hak untuk ga bersyukur. Instead we shall treasure every second, every moment, every process, and be grateful..


I strongly suggest you to read this till the end.

...................


REFUGEE'S LIFE

They call me "The Pulse" of refugee camps. They don't know that they are the heart and blood supply to each beat...
Having come back from taking a dying refugee boy to a hospital in Switzerland as well as speaking at the European parliament in Belgium regarding the #refugeecrisis, I find myself at this moment feeling a bit lost. Happy that we got one boy and his family out, but sad that there are thousands of others just like him stuck in the middle of nowhere all around the world. Politicians debate over innocent people without a damn clue to the daily struggles these people face. No education, proper nutrition, or shelter for children, pregnant women, and elderly. The many cold winter nights spent in a tent without any access to heat. Many mornings without breakfast and many evenings without dinner.. Many sick days without medication and many lonely days without company.... It's just no way to live. The children are starving and you would NEVER accept this for your child, but turn a blind eye when it happens to others? 
I promise that I will never forget those who think they have been forgotten. I promise that the whole world is going to know what these eyes have seen.....

.....


Mr. Trump,
Let me tell you a little about me and what I've been up to lately here in America. I'm a product of a #refugee father, and an #immigrant mother. What has been going on in America has hurt me deeply. This country was built on immigrants and children of immigrants. If it were not for its doors being open to my parents, I would not be here. I recognize this fully and I give back to the people of this country with passion, compassion, and hard work. I've gone many nights without sleep in this rescue truck helping save American lives. I've put my life on the line numerous times for others. I have injured myself on the job and it was all for others. Many instances, I've put in 24...48... and even 72 hours non stop for the people of this country, fielding calls at 2am and picking up trauma calls all over Chicago and the rest of illinois. The #muslimban is unconstitutional on so many levels. These people are fleeing war and murder. These people are here for a second chance. A second chance you are shutting the door on. There are many out there waiting to create a new life here just like my parents had done with me, giving me a chance to succeed and make an impact in America. These refugees want to do the same thing I'm doing and more. So welcome them in for open hearts. I promise you, their impact will echo loud and in a very positive way. I promise that they and WE WILL shine... shine.... shine!! Into the light!!!




To all the strong, powerful and beautiful women out there, keep pushing! Keep motivating men to be better and to do better. This is strength. This is resilience. 
This is a portrait of Sky Bird Black Owl. The first woman to give birth at the Standing Rock resistance camp in Cannon Ball, ND. She named her baby "Mni Wiconi" which means "water is life".




"My friend! My friend!!" Smiling and laughing trying to grab my attention as I walk to the clinic thinking I was a foreigner who did not speak their language (Arabic). This picture strikes me every time I look at it because these six kids could of been in the back of that ambulance just like that little boy last week who's photo shook the world. Kids.. They have a way with making even the most terrible situations easy... I see hope in this picture. I see resilience in this picture. I see courage and no fear in this picture. Children have a beautiful way of showing us what humanity is all about. Once again, this is my reminder to everyone who thinks they have it bad, to take a look at the other side of the waters.... Hug your children and loved ones, because the only difference between them and us is plain simple: They were born with a Syrian passport, an Iraqi passport, etc.. and we were not... I consider myself lucky and you as the reader should too. Having a bad day or know someone who is? I hope this cheers you and them up, because looking at it cheers me up and puts a smile on my face. I'm #palestinian
But these people are blood and family to me. Feel free to share this message and share their struggle. 

.....


Children are the biggest victims of war in my opinion.. Over 3.7 million children were born into the conflict that is happening in Syria till this day. Thousands have died in between. You try to do the best you can to make them forget about the horror they have seen. Here I find myself showing them how big our ambulances are back in the states. Many of these children were not vaccinated, severely malnourished, and had no formal education over the past couple of years. It's truly a sad situation that you would never want for your kids. I've looked father's in the eyes and wiped tears off of their faces because they felt like failures when they looked at what has happend with their families and with their kids. It was truly heart breaking... People need to know what's going on with the rest of the world. Over 7 million refugees are stuck in Turkey, Jordan, Lebanon, and scattered all accross Europe. Raising awareness and being aware of the situation is truly the first step. Action is the second! Spread the word.

.....


I told myself that I was NOT going to post pictures like this (I did not know this was taken of me when all of the kids approached me till it was showed to me later) BUT I hope this sheds some light on the Syrian refugee crisis situation. Today was day 1 for me in the Refugee camp at Idomeni aka "Europe's catastrophe" ... With the men, you feel a sense of sadness, and a sense of lost hope... Lost hope that they won't be able to provide for their families as they once use to.. Lost hope that their kids won't get the education they deserve.. To the extremes, lost hope of a future... With the women and mothers.. I felt a sense of strength.. THEY knew they needed to be strong to hold everybody in the family together.. They stand tall despite the struggles. With the kids... The kids had the most beautiful smiles that I have ever seen. They radiated energy and hope throughout the camp... The smiles that were badly needed because the situation is so severe.. More than I had imagined... It seems to be tense and changing day by day with the Macedonia borders closing, which ultimately forced many refugees to be stuck in Greece. Throughout all of this, there was an intense raw feeling of watching humans fight to survive.. Humans beings that just wanted to live another day.... The situation is sad, and everyone is trying to remain hopeful. Only time will tell...


Monday, October 24, 2016

[DAILY LIFE] Belajar Memahami Itu Susah, Jika Kamu Mengetahui



Belajar memahami itu susah.

Serius.

Susah banget!

..............................................................................................................


Mari kita bahas per-kasus. Kasus pertama: misalnya kamu bertemu seseorang yang tidak kamu kenal, dan orang tersebut tidak terlihat seperti 'orang baik-baik'. Sikapnya mengerikan. Perbuatannya nauzubillah. Kata-katanya? Butuh disensor! Judging langsung terlontar secara tidak sadar. 'Wah, ni orang ga bener nih!' atau 'jangan sampai deh keluarga gue ada yang begini' atau 'bener-bener deh ni orang minta dilaknat Allah!' 'atau 'sampah masyarakat asli dah!' atau komentar-komentar miring tak terhingga lainnya. 

Lalu kasus kedua: tanpa tahu apa yang sedang terjadi, tiba-tiba seseorang yang selama ini dekat denganmu menjauhimu. Tanpa sebab. Tanpa kata. Kamu pun bertanya-tanya. Apa aku ada salah? Seberapa besar? Kenapa dia tidak terus terang? Awalnya pada nyalahin diri sendiri. Tapi sebagian kemudian merasa 'bosan', dan akhirnya menyalahkan orang tersebut. 'Ih kalo emang ga sreg bilang aja kali, gimana sih jadi orang?' atau 'mentang-mentang udah ga butuh lagi, gue ditinggalin' atau prasangka-prasangka buruk lainnya.

Lalu kasus ketiga: ini mungkin yang paling sering terjadi. Kesalahpahaman via short message/chat di gadget! Hanya karena jawaban yang diberikannya singkat dan 'disingkat-singkat', hanya karena tidak ada tanda baca atau emoticon yang menyatakan emosi/perasaan, kamu berasumsi bahwa 'wah, sombong banget!' atau 'eh, dia marah ya?' atau kesan-kesan tidak mengenakkan lainnya.

Lalu kasus keempat: bisa dilihat disini.


Dan seribuan, sejutaan kasus lainnya yang tidak mungkin dipaparkan semuanya disini.

.............................................................................................................


I know it's normal to have 'first impression' atau kesan pertama terhadap segala sesuatu. Memberikan 'kesan pertama' tidak membutuhkan usaha, ga bikin 'capek', ga bikin mikir, karena dia hadir secara tidak sadar. Apa yang terlihat, itu yang ternilai secara otomatis! Selesai. Kita puas.

Sedangkan, 'memahami' sangat atau sedikit membutuhkan usaha! (Tergantung masing-masing individu). Ketika kamu berusaha untuk memahami, secara tidak langsung kamu 'dituntut' untuk berpikir. Memikirkan sejumlah kemungkinan-kemungkinan 'kenapa ya dia jadi begitu?' atau 'apa sih alasannya kok dia mau-maunya ngejalani hidup mengerikan kayak gitu?'.

Dan kita tidak hanya dituntut untuk mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan alasannya, tapi juga dituntut untuk memahami/menerima bahwa kemungkinan-kemungkinan tersebut MUNGKIN terjadi. Dan aku rasa banyak yang gagal di tahap ini (including me!). 

"Okelah. Mungkin dia lagi ada masalah. Mungkin dia lagi ada sesuatu. Ya kita gatau lah ya, setiap orang punya benang kusut masing-masing."

Kemudian pemikiran itu (sering) dipatahkan oleh pemikiran baru "Ya tapi ga gitu juga kali! Harusnya dia profesional dong. Jangan karena lagi ada masalah, yang lain jadi kena imbasnya juga!"

Atau "Ya, sih. Mungkin kehidupannya emang keras. Tapi harusnya dia masih bisa mikir dong, mana yang bener mana yang nggak. Kalo gini kan akhirnya jadi sampah masyarakat doang tu orang mah!"


......

It happened. So often.

......

Menilai itu mudah. Memahami itu sulit. Tapi Allah sudah menciptakan kita sepaket dengan kemampuan tuk 'belajar'. Awalnya memang kepayahan, karena sometimes menaklukkan ego sendiri itu jauh lebih susah daripada menaklukkan ego orang lain. Ini hanya masalah pembiasaan. Belajar membiasakan yang baik. Belajar membiasakan berpikiran baik terhadap segala sesuatu.


..........


Karena,
sekali lagi.

Kamu tidak akan pernah tahu.
Karna kamu bukan dia.
Karna kamu bukan Tuhan.

Friday, September 30, 2016

[DAILY LIFE] S a r c a s m



Baiklah. Akan kumulai darimana hari ini?

Akhirnya. Pagi ini mataku terbuka lagi. Tanganku masih mengucek mata, seperti biasa. Oh, tanganku masih bisa digerakkan. Aku beranjak dari tempat tidur. Hendak merapikan. Prototipe yang sudah diajarkan sejak kecil melalui lagu anak-anak. Oh, sebentar. Kakiku masih bisa bergerak, kalau begitu. Aku menghembuskan napas lega. Oh, aku masih bernapas seperti biasa. Sepertinya semua berjalan normal seperti hari-hari kemarin. Aku masih utuh. 

Mempersiapkan diri untuk hal-hal yang dicanangkan untuk dilakukan hari ini. Mandi pagi, berpakaian rapi, dan bersolek, secantik/segagah mungkin. Demi memenuhi tuntutan untuk membersihkan diri, dan tak lupa juga, untuk memenuhi kepuasan akan pujian. Menyenangkan, bukan? Dipuji oleh setiap yang lewat?

Berangkat dan sampai di tempat tujuan. Sesuai ekspektasi. Sapaan oleh mereka yang mengenal. Pujian bagi mereka yang lebih dekat. Hidup terasa bahagia. Kebahagiaan bagi seseorang bisa sesederhana memperoleh pujian. Semenit kemudian, sosok yang diakui sebagai sahabat mendekat. Menanyakan 'sudah sarapan belum?'. Berencana melakukan hal-hal yang belum sempat dilakukan saat jam istirahat bermulai. Menyenangkan, bukan? Memiliki teman yang senantiasa menemani. Teman yang kita selalu bangga bila berjalan dengannya. Teman yang selalu kita pamerkan di media sosial. Teman yang bahkan kita tidak tahu apakah dia menganggap kita juga teman atau bukan. Well, dunia tidak selamanya sesuai ekspektasi, bukan? Tidak semua hubungan itu dikaitkan dengan kata "saling". Tidak semua hubungan itu berjalan dua arah.

Aku tidak menakut-nakuti. Hanya saja itu memang kenyataan. Berapa taksiran angka probabilitasnya? Ya tergantung situasi. Contohnya saja, semakin berat usaha untuk 'bertahan', angka probabilitas bisa mencapai lebih dari 50%. Seperti sekumpulan ular yang terkurung di dalam sebuah box. Merasa senasib. Merasa sama-sama terkungkung. Merasa sama-sama kelaparan. Tapi pada akhirnya lihat saja nanti. Siapa pada akhirnya yang akan duluan menggigit ekor ular lain.

Selepas kegiatan. Mencari tempat tuk istirahat sejenak. Memesan makanan dari sebuah kedai langganan. Ketika makanan sampai, begitu dilahap dengan segera tanpa curiga sedikitpun apakah makanan itu telah dibumbui keburukan atau tidak. "Tidak usah berlebihan, lah!" Aku tidak tahu bagaimana kamu menjalani hidup selama ini. Tapi di dunia ini apapun bisa terjadi. Manusia tidak selamanya 'manusia'.

Melanjutkan kembali aktivitas. Mengakhirinya sesuai jam yang telah ditentukan. Sesuai protap. Prosedur tetap. Ah, hidup sehari-hari rasanya terlalu menyedihkan jika harus patuh setiap detik pada 'prosedur' yang ada. Prosedur yang sebenarnya bermakna pembantaian, pengolahan yang membuat kita berubah menjadi produk sampah yang sama mengerikannya dengan mereka-mereka yang menetapkan 'prosedur'. Tapi jika keluar dari prosedur, maka aku akan dikatai oleh setiap mereka yang melihat. Hingga di orang yang kesepuluh, namaku sudah habis tercoreng. Ah, tercoreng masih jauh lebih baik. Setidaknya aku masih memiliki nama. Daripada namaku lenyap tidak berbekas sama sekali.

Aku kembali pulang. Aku sudah selesai dengan 'perjudian' hari ini. Mengendarai kendaraan mengkilat yang aku cicil setiap bulannya. Perhentian di lampu merah, sebuah kendaraan lain yang tak kalah mengkilatnya berada di samping. Wah, kendaraan yang sudah lama diimpikan! Berpikir keras bagaimana cara agar bisa segera memilikinya. Tender mana yang harus segera dikejar dan dimenangkan. Saking seriusnya hingga suara kricingan dan ketokan dari anak-anak berbaju lusuh diluar kaca kendaraan tidak terdengar. Hingga suara klakson dari barisan kendaraan dibelakang tak tergubris, disaat lampu perempatan telah berubah menjadi hijau.

Sesampai di rumah. Membuang badan keatas kasur. Letih luar biasa. Tapi masih semangat dan serius memikirkan pencapaian-pencapaian yang harus diraih. Begitulah aku. Haus pujian. Haus harta. Selalu percaya seutuhnya pada siapapun. Iri pada siapapun yang memiliki lebih. Tidak peduli orang lain karena aku hidup bukan atas bantuan orang lain. Aku hanya aku. Dengan segala target yang aku kejar.

Bagaimana denganmu?

Tuesday, September 27, 2016

[DAILY LIFE] Homesick (part 2)


Pernahkah seseorang bertanya kepadamu,
"Pernahkah kamu menangis saat begitu rindu ingin pulang?"

Kalau ada,
Boleh ku bertanya, "apa jawaban yang kamu berikan padanya?"

Jika jawabanmu 'Pernah',
Boleh ku bertanya, "berapa lama kala itu kamu menangis?"

Boleh ku bertanya lagi,
"apa yang kamu lakukan kala itu agar bisa tetap bertahan?"

Boleh ku bertanya lagi,
"apa kamu pernah menyesal telah pergi?"

Boleh ku bertanya lagi,
"apa kamu pernah menyesali kehidupan yang kamu jalani sekarang?"

Boleh ku bertanya lagi,
"jika pernah, apakah penyesalan itu pernah hilang dan hanya bersifat sementara atau menetap hingga saat ini?"