Showing posts with label Medicine. Show all posts
Showing posts with label Medicine. Show all posts

Friday, April 19, 2019

[MEDICINE] After 2 Years of Coasslyfe and The Lessons Learned



Pertama dan utama sekali mari kita buka postingan kali ini dengan mengucapkan: ALHAMDULILLAH AKHIRNYA (InsyaAllah) KELAR JUGAA

Meminjam perkataan seorang teman, ini adalah fase yang sama sekali ga cocok dengan pepatah "udah selesai aja euy, ga kerasa ya!" Beuh. Kurang berasa apa lagi bambaank? After million times of ups and downs, eh salah, lebih tepatnya after million times of carut marut, tsunami ini akhirnya terlewati juga.

Baiklah. Pada hari Kamis tanggal 18 April 2019 pukul 23.55, di hari ke 8.728 aku bernapas diatas bumi, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, maka sesi curhat kepada diri sendiri dan publik ini dimulai.


POIN PERTAMA: Koas adalah tempat yang sangat empuk untuk kehilangan karakter.

Disinilah semuanya bermula. Ibarat kita udah cantik-cantik pergi main ke dufan, mo ngantri naik roller coaster. Pas baru naik masih cakep tuh. Masih positif, masih senyum-senyum deg-degan. Ditengah perjalanan, amblas semua. Rambut kusut, jilbab berantakan, perut mual-mual. Kalo mau diambil perumpamaan, mungkin roller coaster ini yang paling tepat. Bedanya sih kalo roller coaster beneran kan cuma sekian menit, lah ini 2 tahun! Kebayang ga sih itu udah semati apa?

Emang apanya sih yang susah dari koas itu?

Bukan belajar materinya. Ya ini susah juga tapi gak signifikan. Yang susah itu adalah  belajar jadi human beingnya. Belajar mengerti bahwa karakter setiap orang itu beda-beda. Yang baik didepan tapi ditusuk dari belakang? Ada. Jahat di depan maupun di belakang? Ada. Yang toxic? Banyak.  Yang kerjanya ngeluuuuh mulu? Buanyakk. Macem-macem pokoknya. Yang baik? Ada juga dong.

Tapi ada satu yang langka: yang consistently positive, dan membuat orang disekitarnya jadi terbawa positif. Dua tahun koas, aku cuma nemu 1 temen yang begini. Yang rajin, lembut, baik, pembawaannya tenang, mau dimaki-maki ama profesi sebelahpun tetap selo, dan yang terpenting: gak pernah ngeluh! (ini hebat sih). Role model banget pokoknya. 

Kembali lagi ke topik. "Kehilangan karakter". Kayak roller coaster tadi, pas mulai cakep, pas selesai belum tentu, yang ada malah muntah-muntah. Semua kepribadian, cita-cita, motivasi, kepositifan yang udah terpupuk bertahun-tahun sebelumnya, bisa ambyar, bisa amblas di dua tahun ini. Semua komponen manusia di rumah sakit ini memang sangat bagus untuk jadi sumber pembelajaran kehidupan, mulai dari dokter konsulen, residen, sejawat koas, profesi sebelah, CS, pasien, apalagi keluarga pasien! Semua jalan dilapangkan oleh situasi dan keadaan agar kita negative thinking dan bahkan negative acting. Diinjek ama profesi sebelah dan sanggup buat ga ngumpat? Kena dampak sejawat yang playing victim dan malah kita yang jadi jadi kambing hitam tapi masih teteup sabaar gitu? Dikata-katain ama keluarga pasien tengah malem disaat mata udah berat dan tenaga udah minus tapi masih bisa senyum? Bisa sih, tapi ga mungkin. Eh mungkin ding, kalau hatinya seluas surga dan neraka. Ibarat quick count pemilu sekarang, ini tuh baru 1% dari semua TPS se Indonesia. Ini tuh baru 1% dari semua ke-taik-an (eh maaf, ketidakbaikan) kehidupan 2 tahun terakhir. 

Belum lagi di umur-umur segini udah mulai pada quarter-life crisis. Kehidupan sekolah di RS yang melelahkan jiwa raga ini emang passion gua ga sih? Is this really what I want? Belum lagi ngeliat temen-temen jaman SMA-SMP-SD-TK dulu dah pada sukses dengan karirnya masing-masing. Lebih tepatnya, dah pada sukses jika dilihat dari postingan instagram mereka. I mean, we'll never know what literally someone's going through kan? Akhirnya jadi abulia sendiri. Gak minat. Gak semangat. Bayangin ya, menjalani koas itu aja udah berat, apalagi menjalaninya dengan perasaan gak minat, perasaan yang tidak baik, or even dengan kegalauan akan masa depan? Double or triple burden banget sih itu. 

Aku gimana? Beuh. Jangan ditanya. Lagi ga minat buka aib. Tapi kalo mo liat boleh juga sih, di twitter. Tapi twitternya digembok. WKWKWK. Artinya ya ga di open untuk the real public maemunaah.

It's hard to be our own self. Pressurenya masyaAllah luarbiasa. Yang tadinya sabar bisa jadi pemarah. Yang tadinya ikhlas bisa jadi manusia paling pengeluh sedunia. Yang tadinya highly motivated jadi abulia tingkat poseidon.

Emang butuh manusia-manusia baik lainnya untuk saling menguatkan. Dan yang paling penting, emang sangat butuh sekali Allah.


POIN KEDUA: Belajar berani

Ini mungkin pelajaran yang paling-paling signifikan untuk seorang Zahara yang dulunya pencemas ft. penakut tanpa ampun ini. Makanya dulu pas jaman skripsi, Allah langsung ngasih pengujinya itu sang master. Ibaratnya tuh manusia berwujud konsulen paling ditakuti 'anak sekolah' se-RSUP M Djamil. Diuji dengan ketakutan maha besar selama setahun penuh, 'sendiri'. Tapi itulah karunia Allah yang selalu kita ketahui belakangan, jadinya pas koas jadi ter-mindset "Ah aku pernah kok ngalamin yang lebih brutal dari ini, dan sudah berakhir dengan happy ending. Jadi selo aja ya." Walaupun ujung-ujungnya tetep ketakutan setengah mati juga. Wkwkw.

Itu baru ketakutan yang sifatnya small scale: takut nelpon konsulen, takut bicara ama konsulen, dan ketakutan serupa lainnya. Ada lagi ketakutan in a bigger scale: grogi ngomong depan orang banyak. Contoh sederhananya pas tampil ilmiah didepan teman-teman sesiklus. As for me, aku belajar banyak soal bicara depan umum ini pas siklus PH (Public Health). Pertama kali bicara dan publikasi di radio, pertama kali presentasi menyampaikan visi misi dan segala keperluan acara di sebuah kafe fancy di depan 20an CEO perusahaan buat nyari tambahan dana. Dan baru aja tadi, penyuluhan impromptu dengan nol persiapan didepan anak-anak SD yang ributnya minta ampun. Yang kudu teriak-teriak, yang harus ngolah bahasa jadi semenyenangkan mungkin biar ga dikacangin atau malah dijailin ama tu bocah-bocah.

Ternyata emang bener ya: buku bisa dibeli, tapi pengalaman itu priceless. But still, we need both. Pernah baca di suatu buku, sesuatu itu akan lebih kita ingat ketika ada 2 hal: ada 'rasa'nya (grogi dan keringat ngucur macem banjir bandang waktu presentasi depan manager-manager), dan ada kesalahannya (e.g salah ngomong pas di radio).

...........

If you ask me to spill the biggest lesson I've learned so far in past 2 years, then 2 poin ini adalah jawabannya. Ada lagi sebenarnya hal-hal lain, yang sudah pernah kusampaikan di postingan sebelumnya. Silakan berkunjung kembali jika berminat:


Sekian dulu untuk kali ini. Ditutup dengan closing speech yang ga nyambung ama topik diatas:
Setiap orang punya caranya masing-masing untuk bermanfaat. 

Saturday, July 7, 2018

[MEDICINE] 1/4 Tahun di Penyakit Dalam


INTERNE 16 April - 2 Juli 2018
Ruang Konferens lt. 3

Sebenernya pengen bikin redaksi judul dengan kalimat lain seperti "Internal Medicine Q&A" or "Ramadhan Indah Bersamamu" or "1/4 Tahun di Gedung Pink" or "1/4 Tahun bersama Lontong Etek" dan lain-lainnya. Tapi supaya judulnya lebih bisa dipahami banyak orang jadi yasudah. Begini saja ya.


Hai!
Seharusnya ini adalah postingan ke-9 di topic "Medicine" karena Penyakit Dalam atau sebut saja Interne ini adalah siklus ke-9 yang aku jalani selama koas. Tapi karena berbagai faktor seperti kemageran (!) dan sebagainya, 7 siklus yang lain jadi ga sempat ditulis.

Tapi setelah dipikir-pikir, life lessons dan segala macam yang aku dapat di siklus-siklus sebelumnya itu ternyata terangkum semua disini. Apalagi aku ngejalaninnya lebih lama yakni 11 minggu which is normalnya 9 minggu due to libur lebaran. 

Mari kita buka postingan kali ini dengan mengucapkan "Alhamdulillah, selesai juga Interne ini dijalani." (insyaAllah, aamiin, semoga lulus)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

So these are the big 3 lessons I've got.


Pelajaran Pertama : BERHENTI MENGELUH

Ini adalah hal puaaaaliiiing susah untuk dilakukan. Gimana yak. Like I've told you before, just because you're soon to be a doctor or already a doctor, lo ga bisa capek dan lo ga boleh ngantuk tengah malam dan sebagainya. Yes. Interne adalah siklus paling menguras tenaga yang pernah aku jalani. Sampai-sampai di suatu hari pada tanggal 26 April 2018, pas lagi jaga malam, pukul 20.30 aku pernah naik ke kamar koas terus duduk terus nangis sendirian. Karena apa? LITERALLY karna capek. 

Hari itu kebetulan jadwal aku sangat padat. Paginya maju BST (Bed Site Teaching) dan berlanjut dengan maju pas visite pasien (karena aku megang pasien konsulennya). Belum lagi ngerjain daily activity (sebut saja: orderan) yang patah satu tumbuh seribu. Ditambah dengan waktu itu teman jaga malamnya ada yang tidak kooperatif alias 'pato' dan orderan jaga kali itu entah kenapa lebih catasthrope dari biasanya.

Puncaknya adalah ketika ambil darah pasien sekitar jam 19:30. Awalnya yang ngambil junior aku, tapi karena dia ga dapet, akhirnya aku yang ngambil. TAPI dengan segala kecapekan dan kemumetan yang menumpuk, aku ngambilnya jadi 'terlalu semangat' sehingga itu spuit (jarum suntik) 5 cc aku tarik terus dan akhirnya lepas dan semua darah 5cc yang ada dalam spuit itu tumpah ke kasur dan kasur pasiennya jadi berlumurah darah. 

PANIK GA SEEEH T.T

UNTUNG YA ITU SI BAPAK BAIKNYA LUAR BIASA. PADAHAL ITU BAPAK BER-TATTO (which is bikin mikir macem-macem, ini bapaknya preman apa gimana, ntar kalo w digampar gimana). Si bapak-bapak yang udah w suudzon-in ini malah mengatakan dengan santai "yaudah dek ambil lagi aja nih di tangan kiri saya" sambil senyum.

SAMBIL SENYUM. Ditekankan sekali lagi. Dan bukan jenis yang mengejek gitu.

Okay fine. Kita suntik lah si bapak ini sekali lagi di lengan kirinya. Tapi ya emang dasar udah stres dan sebagainya, darahnya cuma dapet setengah (2,5cc). Jadinya ga cukup buat meriksa darah rutin, PT APTT, elektrolit, dan sebagainya. Yaudah. Nyerah. Akhirnya cuma ngirim ke labor buat periksa PT APTT.

Terus melapor lah kita ke dokter residen yang jaga hari itu, kalo darahnya begini dan begitu. Terus muka si abang residennya kayak pengen mengeluh tapi gabisa, akhirnya dia cuma menghela napas panjang. Ekspresi mukanya kayak bilang "ini anak sudah terlalu rapuh buat diomelin" jadi yaudah. Akhirnya si abang berangkat menuju si pasien dan mengambil darahnya lagi.

Alhasil, si bapak ber-tatto itu sudah disuntik 4x dalam waktu kurang dari 30 menit.

W AJA DISUNTIK SEKALI UDAH MEREEM. Jangankan disuntik, ngelepasin plester tipis abis disuntik itu aja udah meringis-ringis. Cemen.


......................................


Jadi ngelantur kemana-mana padahal tadinya mau bahas 'Berhenti Mengeluh'.

Ya, jadi begitulah netijen. Sangat susah untuk tidak mengeluh karena ya emang capek banget. Tapi kalau aja w mau berpikir dengan lebih luas, lebih open, dan lebih-lebih lainnya, kecapekan yang w rasain itu sebenernya ga ada apa-apanya.

Ga ada apa-apanya dibanding jadi pasien yang sakitnya udah pada end stage itu. Yang kayak udah nunggu ajal itu. Ga ada apa-apanya dibanding jadi keluarga pasien yang khawatir sebentar lagi anggota keluarganya akan berkurang satu. Sebentar lagi dia ga punya bapak. Sebentar lagi dia ga punya ibu. Sebentar lagi dia janda. Ya Allah. Pas emak dikuret aja w ga nafsu makan dan metroragia w kambuh. Kalo w jadi mereka, mungkin w yang mati duluan.

Apalagi setelah kemaren ngeliat berita kalo perawat di Palestine ada yang gugur kena peluru Israel (Almh. Razan). Deg! Langsung merasa kesindir gitu. Lo disini bisa bekerja dengan tenang tanpa ancaman apapun, cuma capek aja, sedangkan mereka disana selain capek, nyawanya juga terancam. Astaga betapa tidak bersyukurnya w jadi manusia.


Pelajaran Kedua : BELAJAR YANG BENER

In this kind of field, emang bener-bener ngerasa bersalah kalo belajarnya itu karena mau ujian, karena mau tampil presentasi. Lo itu belajar supaya si anak itu punya waktu lebih banyak bersama bapaknya, supaya si ibu hamil itu gajadi janda ditinggal suaminya, supaya si bapak itu bisa nemenin anaknya ambil raport dan bukannya malah tergeletak di bed rumah sakit. 

Dan juga kerasa banget kalo dampak dari yang lo lakuin sehari-hari itu cuma 2, bikin lo lebih deket ke surga atau ke neraka. Karena aku pernah baca ada 3 jenis ilmu yang pertanggungjawabannya besar, ya salah satunya ini. Ilmu yang dipakai buat bekerja sehari-hari (kira-kira begitu redaksinya). 

Waktu di siklus Mata, kebetulan aku dapat preseptor (dosen pembimbing) yang mantep luar biasa, dr. Getry Sukmawati, Sp.M(K). Sekarang sih bilangnya luar biasa, padahal dulu pas dijalani stresnya bukan main. Wkwkw. Kalimat tersering yang keluar dari mulut ibuknya kalo presentasinya lancar dan pas selesai ujian terakhir adalah "enak kan belajar?" sambil senyum keibuan yang sangat lovely.

I could say she's one of the BEST teachers I've ever had. Yang benar-benar 'mengajarkan'. Yang memotivasi. Yang kalo kita lagi tampil presentasi terkesan menyeramkan (emang serem sih, bukan 'terkesan' lagi), tapi pas ujian baik luar biasa. Baik disini bukan berarti ngelulusin gitu aja. Nope. Pertama duduk didepan ibuknya buat ujian lisan itu, kata-kata yang beliau ucapkan adalah "Yak, Bunga. Berdoa dulu. Bawa tenang dulu." Kemudian aku menghela napas panjang kayak orang mau apnu dan mulai mengucap astaghfirullah (karena merasa malu buat minta supaya ujiannya lancar padahal ibadah kacau balau). 

Pas lagi ujian dan ngomong panjang lebar, ibuknya manggut-manggut sambil makan kacang. Pas dibagian yang kita tersendat, beliau kayak men-encourage gitu. Pokoknya soo menenangkan. Dan diakhir, disebutin gitu nilai kita satu persatu, dan yang nilainya masih kurang disuruh ujian lagi supaya nilainya bisa sama tinggi. Bener-bener bikin terpacu dan nafsu bersaing itu muncul ke permukaan.



Pelajaran Ketiga : DEALING WITH PEOPLE

Khusus bagian ini aku sengaja tulis di 1 postingan terpisah, silakan di click:


............................................................................................................


That's all I could say. Semoga bermanfaat. Dan mohon doanya semoga w lulus. Aamiin.

Wednesday, July 5, 2017

[MEDICINE] Anesthesiology: The Bias Wrecker



Jadi 29 Mei 2017 kemarin, berakhirlah secara resmi 'liburan' kita yang amat sangat panjang, 4 bulan! Hari pertama masuk dunia yang gak pernah kita icip sebelumnya, koas! Dari awal-awal udah berdoa biar di bulan Ramadhan tahun ini dapat siklus yang gaada dinas. Ternyata as expected, ga sesuai harapan. Eh tapi dapetnya anestesi! Ntah kenapa waktu daftar siklusnya keluar dan ngeliat tulisan 'Anes' itu malah seneng. Waw bakal dinas. Waw bakal masuk OK. Waw untung lumayan suka.

Well. Kita itu pasti punya preference terhadap segala sesuatu kan? So far, my ultimate bias itu adalah Jantung. Ga ada yg ngalahin 'feel' pas belajar jantung itu. Ga ada. Terus dibawah level 'Ultimate Bias' itu, sebut saja level 'VIP'. Aku suka belajarnya, tapi yaudah, sebatas itu aja. Dan disini termasuk Bedah, Obgyn, Neuro,  Anestesi, Jiwa. Bidang lain? Biasa aja.

Jadi kesan pertama terhadap anestesi? Suka.

Beberapa hari kemudian, jadi SESUKA ITU.

....

Anestesi itu kerjanya perioperatif. Perioperatif mencakup tiga tahap: pre-operatif (sebelum operasi), intraoperatif (selama operasi), dan post-operatif (sesudah operasi). Anggapan kalau dokter anestesi itu kerjanya cuma ngebius aja, itu ga bener. Perkara operasi? Kerjaannya dia. ICU? Kerjaannya dia juga. Pasien diresusitasi di IGD? Kerjaannya dia juga. Untuk jadi ahli anestesi itu ga semata-mata paham tentang obat bius aja. Mereka itu harus tau banyak. Banyak banget! Tau fisiologi-patofisiologi dari ujung kepala sampai ujung kaki, ga cuma spesifik ke 1 organ aja. Tau obat bius dan efek dari si obat itu terhadap ujung kepala sampai ujung kaki. Kalau pasiennya ada riwayat ini, berarti ga boleh pakai yang ini. Kalau pasiennya begini, berarti tindakannya harus begini. 

Bener-bener harus tau sebanyak itu. SEBANYAK ITU.

Apalagi kalo General Anesthesia (GA) atau bius umum. Ada 5 komponen yang harus terpenuhi: Hipnosis (pasiennya jadi ga sadar), Analgesia (pasiennya ga merasakan sakit sama sekali), Arefleksia (hilangnya refleks-refleks di tubuh, misalnya kalo kita orang normal, saat ada dedebuan di saluran napas atas, kita bakal batuk. Itu namanya refleks batuk. Nah pada bius umum ini, semua refleks tubuhnya 'dilumpuhkan'), Relaksasi Otot (seluruh badannya jadi relaks, gak bisa gerak), dan Amnesia (ingatannya terhadap tindakan operasi itu hilang). Seolah-olah kontrol bangun/gak bangun, 'hidup/gak hidupnya' itu ada di tangan si dokter anestesi. Misalnya dari yg awalnya cuma sakit usus buntu (belum pecah/perforasi), yg awalnya cuma sakit perut kanan bawah dan masih sadar, eh malah dibikin 'ga sadar', seluruh badannya 'dilumpuhkan'.

Everything is like a coin. Semua punya sisi baik dan buruknya. Setiap tindakan kedokteran pun punya manfaat dan efek sampingnya masing-masing. Apalagi tindakan sekaliber anestesi/pembiusan. Resiko mulai dari sekedar menggigil, mual, muntah, sampai kematian pun bisa terjadi. Bahkan operasi mata, yang kedengarannya mungkin cuma operasi kecil, pembiusannya punya kekhususan sendiri. Jika tindakan operasi mata pada pasiennya itu memerlukan bius umum, maka biusnya itu harus lebih dalam dari bius umum biasanya! That's why, informed consent nya harus benar-benar jelas. Pasien dan keluarganya harus dijelaskan apa-apa saja efeknya dan jika mereka setuju, baru kemudian pembiusannya bisa dilakukan. Supaya nanti jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kita tidak berdosa dan tidak dituntut baik itu oleh keluarga maupun di akhirat.

SEBERAT ITU TANGGUNG JAWABNYA.

Di setiap bidang, ada ahlinya. Kita hampir ga bisa bercita-cita ingin jadi 'ini' atau ingin jadi 'itu' tanpa 'mengidolakan' orang yang sudah terjun di dunia itu yang menurut kita sosoknya luar biasa. Ada 11 dokter anestesi di rumah sakit tempat aku koas. Dan seperti biasanya, we tend to choose the best one. Semuanya ahli. Semuanya pintar. Semuanya punya sisi terbaik masing-masing. Tapi ada satu dokter yang paling berkesan. dr. Zulfadli Syahrul, Sp.An.



Beliau seprofesional itu. Sungguh! Meskipun setiap akan ada OK (baik itu elektif maupun cito) para dek koas bakal nge-pre op (melakukan wawancara dan pemeriksaan yang diperlukan untuk operasi besoknya) dan melaporkan hasilnya ke dokter anestesi yang bersangkutan, beliau tetap turun dan ikut nge preop pasiennya. Bukan karena beliau ga percaya dengan hasil preop dek koas, tapi semata-mata karena beliau menganggap itu adalah standarnya, itu adalah tanggungjawabnya. 

Prosedurnya selalu sama. Beliau akan bertanya beberapa hal dan melakukan pemeriksaan yang diperlukan untuk kepentingan operasi besok. Kemudian beliau akan menjelaskan semua tetek bengek resiko pembiusan itu mulai dari yang ringan sampai resiko kematian. Sampai raut muka keluarganya berubah saat dengar ada resiko kematian, meskipun sebenarnya si pasien 'cuma' bakal operasi amandel. Siapa sih yang anggap operasi amandel itu mengerikan? Rasanya ga ada ya. Jarang dengar orang meninggal karena operasi amandel, meskipun bisa jadi ada. Tapi bahkan operasi amandel ini bisa pun bikin pasiennya mati karna efek samping pembiusannya. Makanya segalanya benar-benar harus terang. Harus ada hitam diatas putih.

Dan beliau melakukannya dengan sangat baik. Dengan profesionalitas. Pernah waktu itu ada pasien corpus alienum e.c tulang ikan et hipofaring kanan (ada tulang ikan nyangkut di faringnya). Kalo ga salah pasiennya akan dilakukan tindakan laringoskopi, aku lupa tapi intinya ga dibedah. Tindakan operasinya cuma memasukkan suatu alat semacam teropong, untuk melihat tulang ikannya. Kalau ada, ya diambil. Kalau udah ga ada, ya di debridemant aja (dibersihkan). Tapi saat dr. Zul ini sedang memberi penjelasan terkait efek tindakan pembiusan, seperti biasa, raut muka pasiennya berubah karna ada risiko kematian. Ya siapa juga yang ga takut, cuma ambil tulang ikan dari tenggorokan aja tapi resiko kematiannya tetap ada karna efek samping bius.

Terus pasiennya jadi mikir, sambil nelan-nelan gitu. Mungkin ngerasain 'ini tulangnya masi nyangkut ga ya?'. Kemudian entah karna efek psikosomatis, entah karena takut, atau itu tulangnya beneran ga kerasa lagi, bapaknya dengan muka cerah bilang 'tapi ini tulangnya ga kerasa lagi dok. Udah ga begitu sakit lagi!' Pasiennya jadi gak niat operasi lagi. Terus mereka jadi bingung. Dr. Zul nya juga bingung. Eh tapi jangan dikira dr. Zul nya nakut-nakutin pasien, karna resiko-resiko itu memang nyata adanya. Wkwk. Lucu sih pas bagian ini.

Akhirnya fix sampai ke kesimpulan: bapaknya menolak untuk operasi. Terus si bapak dengan muka cerahnya bilang "karna dengar penjelasan dokter ini, hilang sakit saya! Bagus ini dokternya. Dia profesional. Dijelaskan semuanya kepada pasien. Terimakasih ya dok!' Bapaknya nyalamin dr. Zul, dan salamannya rada ga santai gitu, salam yang erat sampai tangan dr. Zul nya naik turun padahal tangan dr. Zul waktu itu lagi luka (kemaren abis dioperasi) dan muka dr. Zul nya antara cerah antara meringis karna kesakitan et causa salaman yang sangat erat dan bersemangat dari pasiennya.

Wakakakakakakaka.

Waktu ngeliatnya itu antara geli antara sedih, kasian dr. Zul nya :"D

Terus ada lagi kejadian lain. Dokter ini hobi banget minta maaf, abis ga sengaja/sengaja marahin dek koas aja minta maaf! Pernah waktu itu ada kakak2 yang kena marah bapaknya, kena marahnya ga nyantai pula! Sampai mukul lemari gitu bapaknya dan ngebentak! Ada kesalahpahaman intinya waktu itu dan sebenarnya kakak ini ga salah. Ya namanya juga kehidupan koas, ditarik sana sini. Disalahin sana sini. Terus beberapa jam setelah itu pas operasinya selesai, dr. Zul ini nyari dan nemuin kakak tadi. Buat apa? Untuk minta maaf! Bukan minta maaf yang ala kadarnya gitu, tapi emang bener-bener ingin dimaafkan, sampai bapaknya kayak memohon gitu dan ngulurin tangan duluan buat minta maaf :"

Kejadian lain? Ada! Waktu itu aku berdua Nesa preop pasien cito (emergency) ke IGD. Pas Nesa ngelapor, karna grogi/takut, suara dokternya jadi terdengar babling ditelinganya, dan ngelapornya jadi ga berurutan gitu. Kena marah sama bapaknya! Terus like usual, bapaknya turun langsung buat preop pasiennya. Pas udah selesai, bapaknya ngehampirin kami, ngejelasin baik-baik kenapa tadi bapaknya tiba-tiba marah. Terus dinasehatin,  harusnya tu begini. Dan dikasih wejangan. Bukan dalam konteks dimarahi lagi, bukan! Emang murni dinasehatin dengan cara baik-baik! Waktu itu kami 4 kali papasan sama dokternya di IGD dan disetiap 4 kali papasan itu bapaknya ngomong lagi. Pas diakhir malah minta maaf.

:"

Oiya, waktu masih awal-awal anestesi, dinas pertama juga sama dr. Zul, dan banyak cerita lawak juga! Mulai dari aku yang waktu itu belum tau dr. Zul yang mana lalu dengan seenaknya manggil beliau 'bang' pas di OK. Lalu diikuti dengan ulah Dije yang pas ngangkat HP Anestesi manggil dokternya 'bang'. Lalu saat di OK disuruh dengar pake stetoskop suara napas pasiennya abis dipasang ETT dan Nesa bilang ga kedengeran, dokternya dengan tampang ga percaya (seriously! Benar-benar murni tampang ga percaya, bukan marah!) bilang "Astaghfirullah, sini sini saya dengar!" Waktu itu pake stetoskop litman III yang ada 2 membran itu. Dokternya ikutan bingung juga karna sepertinya juga ga kedengeran sama dokternya. Tapi akhirnya bisa juga pake membran yang kecil (yang buat anak). Terus pas selesai intubasi, dokternya dengan polosnya bilang 'Lebih kedengaran kalo dengarnya pake membran yang kecil ya. Ini litman berapa? Bagus juga ya. Berapa belinya tu?'

:D

Lalu juga pas waktu sahur atau buka, bapaknya suka nebeng beli makanan ke dek koas yang dinas hari itu. Beliau juga suka cerita dan kadang-kadang nge-receh, dan dek koas yang ga sopan ini ga merepon recehan bapaknya dengan ketawa tapi malah bengong. Terus dengan awkward beliau mengalihkan pembicaraan. Lalu hari ini, hari terakhir di siklus anestesi. Allah mendengar doaku yang ingin foto sama dr. Zul dan akhirnya terkabulkan! Kami berempat (aku, nesa, dije, dan feby) foto dengan beliau dan abis itu salam-salaman, dan as always beliau minta maaf lagi. Biasanya kalo pas salam ke orang yang lebih tua itu, kita kan yang ngulurin tangan duluan? Nah dokter ini malah nunduk dan ngulurin tangan duluan sambil minta maaf dan kasih wejangan-wejangan!

Seriously ga ngerti lagi, ternyata ada dokter dan guru se-angel ini. Se humble ini. Dokter yang mau lari-lari dari OK ujung ke OK ujungnya lagi karna saturasi pasiennya tiba-tiba turun saat operasi.

....

Dua pertiga tulisan ini kayaknya ngebahas tentang dr. Zul semua yha.
Aku gatau nanti akhirnya bagaimana. Bakal jadi ahli dibidang apa. 4 tahun terakhir ini aku istiqomah ingin jadi dokter jantung. Karena aku SUKA banget belajarnya. Tapi aku gatau apakah aku bakal suka juga dengan pekerjaan sehari-harinya.

Terus kalau Anestesi?

Aku suka belajarnya dan aku lebih SUKA LAGI dengan pekerjaan/kegiatan sehari-harinya. Sepertinya jadi dokter anestesi ga bakal cuma jadi keinginan emak lagi. Sepertinya aku juga pengen.

PENGEN BANGET.
....

Akhir kata?

Ingin bersyukur sebanyak-banyaknya karna Dia memilihkan untukku bukan kehidupan yang aku inginkan, tapi kehidupan yang tepat. Hanya Dia yang tau mana yang terbaik dan tepat untuk masing-masing hamba-Nya.

Dan menjalani siklus pertama koas di bagian Anestesi adalah hal yang tepat menurut-Nya.

Dan aku BAHAGIA.



July 5th, 2017
by (probably) future Anesthesiologist