Wednesday, September 4, 2019

[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 7)



Welcome back! Seneng bgt bisa kembali lagiii!

Sumpah. Bingung mau pake kalimat pembuka apa. Aku tau ini ga penting tapi plz hari ini 4 September aku lagi seneng bgt. Semoga kalian juga sama berbahagianya ya. Aamiin :)

Buat yang belum baca part-part sebelumnya, bisa klik disini ya:
[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 1)
[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 2)
[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 3)
[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 4)
[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 5)
[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 6)

31. What makes you immediately dislike a person?

1. M. Syukran GS

A smelly person, misbehaved, a big mouth (mostly talker type rather than a doer), someone who likes to underestimate others, who rules, or something.

2. M. Irfan

Seringnya saya jarang menjadi kurang suka dengan seseorang,,,, tak pernah membedakan orang-orang. Cuma ya kalau tingkah laku or attitude dia yang keterlaluan atau merasa dia lebih dari orang biasanya saya langsung look down ke orang itu... Tapi seringnya saya berdoa supaya gak kayak dia dan dianya bisa berubah....
#justpraytohim/hertochangeit

3. Wirza RP.

When she/he doesn't greet me back. You know I do like to greet people sometimes, even when I am not in the good mood. But in fact, not everyone would like to reply my greetings. Maybe they're in a hurry or something, or maybe they're not wearing glasses so they can't see me properly passing by. Any other reasons, anything, I just can't relate, sometimes. I just hate it when she/he doesn't greet me back.

4. Hanifa H.

Once I saw him/her being fake.

5. Fania PI

Aku engga suka orang yang mempersulit urusan yang padahal mudah dengan sengaja dan sadar yang bermaksud untuk memberi keuntungan pada dirinya. Selain dari itu bisa aku toleransi sih.

6. Ulfayanti S.

Ku orangnya baperan. Jadi gampang banget omongan orang masuk ke hati, hal-hal kecil pun. Sometimes yang kayak celetukan or ngolok-ngolok or ngetawain yang mungkin bagi doi bermaksud bercanda tapi bagiku itu beneran sebuah olokan wkwkwk, ya kayak judgemental gitu deh. Aku receh tapi kalau jokesnya lebih ke hinaan atau rendahin orang buat jadi bahan ketawa itu, maafkan trimakasih plis cari jokes yang emang bener-bener lucu dan diterima semua kalangan (?), bukan tentang dusta-dusta juga pastinya kayak april mop dll, soalnya emang bener-bener dilarang ya dalam Islam. Dan orang-orang kayak gitu biasanya aku hindarin sih. Terus aku juga gak suka sama orang yang kekeuh sama pendiriannya tapi udah tau salah dan doi anti-kritik hehe. Semoga aku juga bisa terhindar dari semua perilaku yang gak aku sukain dari orang lain ya huhu. Aamiin.

7. Gaby D.

Ketika orang itu membuktikan di depan saya bahwa dia gak bisa dipercaya, walau hanya dengan hal-hal kecil seperti, secara jahat ngomongin orang dibelakang padahal hal itu bisa diomongin baik-baik ke orangnya. Trus orang yang menampakkan kebusukhatiannya atas dasar egoisme semata (biasanya kelihatan dalam tekanan, seperti zaman koas), sedih ketika ngeliat orang senang. Hmm, itu sih, walaupun gak bisa jamin diri sendiri bisa ngehindarin dari melakukan hal-hal diatas, tetapi ntah kenapa langsung turun respect ketika didepan mata ngeliat orang ngelakuin itu. Semoga dijauhkan dari menjadi seperti itu juga.

8. Sisfita DU

Ini semua tergantung situasi hati saat kejadian. Bisa dibilang et causa mood saya yang masih swing. Terkadang bisa karena si teman yang emang bermasalah, bisa karena kata-katanya yang nggak di filter, atau tingkah konyolnya dia yang nggak pake dipikir dulu apa orang bisa tersinggung atau nggak, dan yang paling berpengaruh emang kondisi hati. Kita nggak bisa selalu beranggapan orang itu salah, mereka yang bikin kita nggak suka ke mereka. Karena kita nggak bisa menuntut semua orang bertingkah sesuai dengan apa yang kita suka. Apa yang kita mau. Jadi balik lagi, ke hati sendiri. Kamu bisa ngontrol hati nggak? Kalau nggak yaa, perasaan tiba-tiba nggak suka sama orang bakal mudah mampir walaupun tu orang temen dekat sendiri. Balik lagi, semua yang nyebapin "ketidaksukaan" yaa emang HATI sendiri. Perbanyak koreksi diri kayaknya daripada cari-cari kesalahan orang.

9. Zahara B.





Since I found this one 3 tahun yll, aku jadi jarang terganggu sama bad habit seseorang, ya karna namanya juga manusia. Imperfect. Pasti ada aja cacatnya. Jadinya sering kayak "yaudahlah ya. Orang ni kan perangainya macam-macam." Ngertiin aja. Toh banyak banget hal yang musti dipusingin selain perihal keganggu karna sikap orang. Trus aku mikirnya, kalo kita jadi terganggu atau ikutan negatif karna orang itu, berarti kita kalah sama ego kita sendiri. Orang bisa memberi pengaruh apapun, bisa melakukan apapun sampai hal-hal yang ga masuk di nalar, tapi kan kendalinya ada di kita. Kita yang memutuskan apakah kita akan tersinggung/terganggu dengan sikap buruk orang itu atau nggak.

But still if I have to choose one, the worst one, thing I hate the most, adalah seseorang yang kontradiksi. Contoh gampangnya, dia nyuruh A biar ga ngelakuin sesuatu, eh kiranya dianya juga ngelakuin itu.

10. Puspita A.

Kalau orang itu ngga menghargai orang disekitarnya dan cenderung udah ngasih penilaian duluan sebelum coba memahami. I mean setiap individu itu beda latar belakangnya, aspirasinya, prioritasnya, dan pasti ada alasan di balik semuanya. Jujur aku juga masih belajar sih buat lebih memahami dan menjadi asertif atas apapun yg dilakukan orang karena kita ngga pernah tau bagaimana kita udah nyakitin seseorang dengan ketergesaan kita ngasih penilaian. 

11. Rezki GS

Ketika seseorang men-judge terlebih dahulu tanpa tahu alasan dibalik sesuatu itu terjadi. Ingat, selalu ada alasan mengapa itu dihadirkan. Lapangkanlah hati dan luaskanlah wawasan, belajar dari kisah orang lain, bacalah banyak buku dan petiklah pelajaran dibalik sesuatu.


32. Do you ever feel you're not friends, with some of your "friends"?

1. M. Syukran GS

Of course I am,  I live like a sims people. In relation there are "just met" acquitances, friend, bf, and bff (I think the last 2 I don't have) wkwkw. But we live in Indonesia, the person you just met today maybe call you friend on the next day. 

2. M. Irfan

Hahaha,,,, iya ini kadang-kadang saya rasakan, kadang memang ada hal yang buat teman jengkel juga--- dan bahkan pernah ngerasa kalau saya dijauhi gitu... Wkwk padahal cuma defense ego aja kayaknya... Ini lebih ke diri kita sendiri sih...

3. Wirza RP.

Of course, we have that one 'friend'. The one who only come when she/he needs you. They could be my friend, but just that 'friend', the one I may not barely remember someday.

4. Hanifa H.

Yeah. A couple times. Menurut aku teman itu yang kita sama-sama punya keterikatan hati. Kalau misalnya gak ada keterikatan, itu bukan teman sih menurutku. Hanya kenal/ dua orang/beberapa orang yang bersama pada suatu waktu di suatu tempat.

5. Fania PI

Aku jarang mikir-mikir masalah yang kek gini. Soalnya perasaan aku udah abis buat mikirin masalah yang lain.

6. Ulfayanti S.

Pernah gak ya, hm pernah kali ya, tapi semenjak saat itu aku jadi anggap dia bukan temen akrab gitu wkwk. Beda kan ya kalau orangnya emang introvert atau dia extrovert tapi gak cerita sama kita. Nah dia ini extrovert kok, waktu itu aku tau suatu hal tentang dia dari orang lain, dan berarti dia lebih deket sama orang itu kan padahal aku udah anggap dia temen deket banget hehe. Semenjak itu kita cuma say hi doang kalau ketemu wkwk jahat sih, tapi ya gitu kesibukan masing-masing juga buat jarak makin jauh. Kalau kata mamanya temen aku, emang semakin kita dewasa, semakin sempit dan sedikitlah circle kita :) Soalnya kita udah tau pertemanan mana yang perlu dan pertemanan mana yang toksik buat kita :)

7. Gaby D.

Karena orangnya insecure-an, yaa terkadang. Tapi selalu ada hal-hal sweet yang dilakuin temen yang bisa membuat pikiran itu hilaang. Jadi, usahakan selalu liat hal positifnya.

8. Sisfita DU

Of course I do. Ahhahhaha. Apalagi untuk manusia seperti saya yang masih sangat amat banyak kekurangan. Merasa saya sendiri, saya bukan temannya dia, dll. Bulshit emang. Tapi mau gimana, hati mudah dibolak balik. Kadang berasa punya teman sekompi, kadang merasa sendiri. Sama kayak orang skizoafektif, kadang manik kadang depresi. 

9. Zahara B.

Selama 6 tahun kuliah ini, lebih tepatnya dalam 2 tahun terakhir, aku pernah 'kehilangan' 3 teman. Yang satu alhamdulillah udah kembali dengan sempurna, yang satu kembali parsial, yang satu ga akan pernah kembali. Tapi yaudalah. People come and go.

10. Puspita A.

Jujur jarang, lebih sering ngga dianggap teman sama orang yang ngga ku anggap teman wkwkw. Loh kok jleb. Awal-awal sih masih bingung gitu, kok bisa ya rasa dekat itu dirasakan beda sama orang. Sampai akhirnya sadar kalau ya mungkin akunya yang se-misterius itu dan jarang berbagi dengan mereka. Mungkin buat merasa saling dekat emang yang dibutuhin keterbukan antara kedua pihak kali yaaa. 

11. Rezki GS

Pernah, ketika seorang teman baik (aku nyaman sama kepribadiannya yang baik, ramah, dan kami sefrekuensi) tapi semua berubah ketika dia juga memperjuangkan apa yang sedang aku perjuangkan. Bukan ambisius, bersaing saja secara baik, tanpa menekan satu sama lain. Akhirnya dia tidak menang (sudah mundur) dan aku masih disini.


33. What do you usually do when you are home alone?

1. M. Syukran GS

Check my socmed, work out, watch movies (mostly), watch TV (news/movies/talent shows only), do some house chores, playin' with my cat.

2. M. Irfan

Kalau sendiri di rumah yang dilakuin: nonton, game, masak, nyuci baju,,, but kebanyakan ngabisin waktu sibuk dengan fikiran sendiri mikirin itu, mikirin ini, dalam kata lain bermenung,,, ya saya suka berkelana dengan pikiran sendiri dan ini bisa berjam-jam hingga tau-tau udah magrib aja...

3. Wirza RP.

Thinking about making money. Hehe. you can call me 'matre girl' but in a good way.

4. Hanifa H.

Kalau settingnya di rumah:
(1). Thinking. Deep  thinking. Memikirkan apapun. Mikirin hal yang penting. Mikirin hal yang gak terlalu relevan. Mikirin hal gak penting. 
(2). Self reflection.
(3). Coba-coba masak.

Kalau di kost:
Tidur-nonton-makan- bersihbersih-bacabaca-makan-tidur. Gitu gitu aja

5. Fania PI

Kalo di rumah sendiri tu aku sebelum bersantai berleha-leha, aku pasti masak nasi dulu lalu cuci piring. Setelah itu aku di kamar youtube-an nonton tonight show wkwk. Kalo lagi putus asa aku nonton video motivasi nya Jack ma atau CEO-nya tokped yang udah berulang-ulang kali aku putar biar feel better. Kalo abis vidcall sama adikku yang kuliah akuntansi, aku suka liat akun Instagram yang bahas bahas masalah bisnis gitu biar connect aja kalo ngobrol. Kalo lagi jenuh butuh yang santai aku nonton film Korea. Kalo lagi semangat, aku nyanyi-nyanyi sendiri dikamar sambil dengerin lagu yang sama diputer 6 kali. Buka home Instagram dan nge-like semua postingan temen yang muncul pada saat itu atas dasar keadilan. Saat mata aku udah pedih liat layar hape kelamaan, aku dengerin podcast apapun di Spotify atau Joox, baca buku self-improvement yang udah dibeli tapi belum dibaca, streaming denger siaran penyiar radio favorit aku hehe, ya memang seniat itu. Maskeran dan luluran.

6. Ulfayanti S.

Melakukan sesuatu. Tapi ini sih ada hadist atau pepatah arab gitu, ku lupa yang bilang, kita yang sebenarnya adalah diri kita saat sendiri. Jadi kalau kita emang sholeh, ada atau tidaknya orang lain bukan sebagai syarat kita berbuat baik, saat sendirilah Allah nilai kita tetap bisa istiqomah buat ngerjain amalan atau selama ini cuma riya :” Jadi pas sendiri emang tidak berkurang sedikitpun semangat berbuat baiknya, kan yang nilai Allah, bukan orang lain. Dan semoga kita mati dalam keadaan kebiasaan baik kita pun apalagi kalau kita lagi sendiri.

7. Gaby D.

Nonton absolutely! My favorite one. Nonton drama korea, sambil nyemil. Selain itu, karaoke-an dengan mic atau speaker make youtube. Ngedance. HAHAHA

8. Sisfita DU

Ahahahhaa beraatt nihh. Bakal ketahuan kalau saya MAGERUN orangnya. Tapi nggak juga. Terkadang bisa sibuk sesibuknya namun terkadang bisa males semales-malesnya. Tapi yang pasti setiap saya sendiri, musik bakal selalu jadi teman main saya. Ntah hanya sekedar mendengarkan atau bahkan sambil bersenandung parau.  Ini buat yang wajib. Untuk sunnahnya beragam. Bisa nonton youtube, beberes rumah, atau hanya sekedar bersantai rebahan dikamar. Jujur, tak menarik memang~

9. Zahara B.

Baca. Apapun. Baca thread twitter, baca berita di CNN/BBC, baca jatah gratis 3 artikel per bulan di Medium dan 8 artikel gratis di New York Times (belum punya duit buat subscribe huhu), baca buku hasil borongan di BBW, kadang-kadang novel (picky sih ini, tapi kalau emang bagus banget atau unik gitu ya tertarik juga), and the last one baca jurnal HAHA tapi seriusan ScienceDirect ama ResearchGate di combine dengan sci-hub.tw itu favorit bgttt

10. Puspita A.

Sekarang lagi ngekos. Rebahan sihh fix sambil nonton netflix atau youtube. Kalau lagi ada yang harus dikerjain ya sambil ngetik, tapi jarang huhuhu karna lebih sering di kosan udah di jam tidur doang sama jam kontemplasi kalau lagi ngga bsa tidur. Otaknya bisa ngawang kemana-mana. Well ini ngga sehat gengs jangan lupa diseimbangkan hidupnya wkwkwk.

11. Rezki GS

Wohooo home alone is my fav one btw! Tiduran dikamar, baca-baca buku atau mungkin scrolling down tumblr/blog,  dan juga nonton youtube tentang issue terkini. Trus kemudian ngerasa ga produktif... karna anak kost, ngerasa kok tadi ga nyuci ya? Kok tadi ga masak aja ya? Eh mending tadi belajar teori, bahas-bahas soal/latihan persiapan toefl. Seketika ngerasa ga jago ngatur waktu, padahal membaca juga salah satu kegiatan produktif.


34. Complete the sentence: I have a lot of...

1. M. Syukran GS

 ....dark secrets?  

2. M. Irfan

 I have a lot of thing to achieve.... Ya banyak yang belum dicapai dan sering bikin strategi dan planning tertentu untuk dapatinnya walaupun kadang sering hanya planning without action... Juga I have a lot of stuff to worry... Kadang cuma hal random yang muncul tiba-tiba di kepala dan kadang sering ganggu aktivitas sehari-hari juga... Apakah ini GAD? I WISH NOT...

3. Wirza RP.

Bobo magazines. And INO, and GIRLS, and KREATIF, and.....

4. Hanifa H.

I have a lot of plans yang akan dilakukan dimasa depan.

5. Fania PI

I have a lot of money. Amiin

6. Ulfayanti S.

 I have a lot of random thoughts (ini bener gak ngek grammarnya? Wkwk

7. Gaby D.

I have a lot of goals to reach. Banyak list-list dimasa mendatang yang mau diwujudkan, jadi harus bertahan. Semakin besar, semakin banyak to do list-nya, walaupun gak kecatat karena gak tipe nyatat, semacam setiap ada hal-hal itu bikin jadi ngomong ke diri sendiri "hoo gitu, ntar saya kalo udah gini, maunya beginiii."

8. Sisfita DU

I have a lot of secret! But saya juga banyak cerita yang diumbar.

9. Zahara B.

A lot of... things to be grateful. Terutama terkait orang-orang disekitar. Keluarga dah pasti lah ya. Mungkin disini lebih dititikberatkan ke teman. Alhamdulillah. Hingga hari ini aku ga merasa kekurangan teman. Dalam artian, definisi teman sehidup sesurga ku untuk saat ini  sudah cukup. I have enough shoulders to cry on. I mean bukan berarti aku manja juga, dikit-dikit curhat, nope. I mean disaat aku udah mau apnu, I have enough 'bagging' dalam wujud manusia.

Yang belum ada itu, teman ibadah sunnah seumur hidup WKWKWK 

10. Puspita A.

Hmmm mimpi sepertinya. Sekarang lagi coba belajar untuk menyeimbangkannya dengan realita agar bisa lebih bahagia

11. Rezki GS

 I have a lot of blessing (I feel it, Alhamdulillah).
Merasa sangat dicintai keluarga dan lingkungan juga salah satu harta yang tak ternilai harganya, sesuatu yang tak terlihat namun menguatkan.


35. If you had the chance to "restart" your life, would you take it? Remember, there is no going back after.

1. M. Syukran GS

 I'm not. I already regret everything sometimes, don't want to make my self cryin' over and over again for what I've got bcos I feel blessed today.

2. M. Irfan

Nope I wouldn't... I just have to continue my live event, it doesn't fit perfectly with me... Ntar kalaupun hidup kita bisa terulang dari awal apakah ada jaminan kita akan bahagia dengan hidup baru kita tersebut? Belum tentu kan.... Makanya fokus aja dengan yang sekarang, perbaiki jika ada kurang, dan banyak bersyukur aja...

3. Wirza RP.

I won't take it. Naah. I mean we all have mistakes right? Maybe we could just rewind our life and not making the same mistakes, but who would guarantee you're gonna get the same good things that you've had now?

4. Hanifa H.

Gak mau. Aku merasa aku baik-baik saja sekarang. I'm enough. Gamau ambil risiko dengan restart hidup. Cukup jalani hidup dan berusaha jadi yang terbaik dari diri sendiri.

5. Fania PI

Yes! Memang sih hidup yang sekarang sudah lumayan oke menurutku. Tapi sebenernya ada beberapa aspek di diri aku yang menurun dan meningkat di aspek lainnya. Dulu waktu jaman SD & SMP aku tu aktif banget. Tiga kali jadi ketua kelas, satu kali wakil, jadi ketua regu Pramuka, jadi pemimpin upacara, ikut paskibra dari mulai kulit ku coklat aja sampe jadi coklat gelap, ngisi kultum Jumat haha, jadi sekretaris OSIS, jaman SMP kelas 7 tu aku ngekos sendiri di Bandung, super mandiri saat itu. Lalu tibalah masa SMA, aku masuk aksel, dan kerjaku hanya belajar saja dengan giat hehe. Berharap nanti terbayar dengan dapat tempat kuliah yang pas di hati. Pas kuliah, di luar bayangan ternyata aku lulus di tempat yamg didoakan orang tuaku tapi tidak masuk list doaku hehe. Agak takut karena jaman sekolah dulu sangat tidak suka biologi. Tahun awal menjalaninya kepikiran mau ngulang SBMPTN lagi, jadi hilang minat buat ikut ikutan organisasi dll. Tapi ternyata ku super plin-plan pada waktu itu. Jadilah aku tetap di kampus ini sampe sekarang hehe. Tapi ya bener bener jadi follower aja. Sering banget ada part merasa bodoh, perasaan dulu jaman sekolah engga pernah merasa bodoh kaya gini lah. Semenjak ngampus tiap ujian tu cemas, hidup rasanya penuh kecemasan, perasaan dulu jaman sekolah engga pernah cemaslah, selalu relax. Tapi ada juga beberapa aspek di diri aku yang lebih bagus sekarang dibanding dulu. Jadi kalo dikasi kesempatan buat restart aku mau. Tapi kalo engga dikasi kesempatan juga gapapa , aku udah cukup puas dengan hidupku yang sekarang.

6. Ulfayanti S.

Hahaha capek cuy ngulang dari awal. Mending repair aja yang sekarang. Pernah sih terbesit pengen ngulang waktu, waktu papa aku sakit dan aku bisa bener-bener fokus rawatnya, jadi sekarang mungkin aja papaku masih hidup. Tapi setelah dipikir-pikir, ngapain merubah ketetapan Allah. Orang kalau kita beriman berarti juga mengimani takdir baik dan buruk kan, jadi ya gitu jalanin aja yang sekarang dengan sebaik-baiknya. Lakuin yang emang buat kita gak mikir bakal balik lagi buat memperbaiki sekarang (?) Ya gitu deh. Do ur best aja buat sekarang.

7. Gaby D.

Take it, karena why not? Hahaha selagi ada kesempatan, coba aja kaaan.

8. Sisfita DU

Hmmm, maybe dokter hewan. AHAHHAHAHAA.

9. Zahara B.

Nggak.
Alasan 1: I love myself since I was born and today and everything happened in between, even the worst ones. Waktu ngalaminnya emang bikin mati, terutama that moment waktu "dibangsatin" konsulen X wkwkw. Tapi kalo diingat lagi sekarang, jadi kayak ada pelajaran yang bisa diambil. "Ive passed it dan ternyata aku masih hidup kok. Ternyata aku bisa bertahan kok." Yang dulu dianggap gabisa dilalui, ternyata bisa. Jadi semacam cadangan kekuatan gitu.

Alasan 2: I'm already in love with all the people around me, with all of their imperfections, bcos they are the people who made me who I am today. Allah has made me grow through them and I don't know apakah aku akan mendapatkan formasi orang-orang yang sama kalau aku harus memulai semuanya lagi dari awal.

10. Puspita A.

Ngga sepertinya, karna itu yang bikin aku seperti sekarang. Emang ngga semuanya indah, banyak yang menyakitkan yang bikin mau nyari pintu keluar terdekat saat itu, tapi setelah beberapa tahun kemudian, sedikit bersyukur. Well pada akhirnya ngga ada yang benar sia-sia kan dalam hidup ini, apapun itu.

11. Rezki GS

Nope. I've accepted every little things that happened and passed in my life (bad or good). There's always lessons learned behind the mistakes. Learn form the past, accept it, and don't let it happen twice. Bismillah, be the better one for the next day.

Sunday, September 1, 2019

[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 6)



First of all, lemme tell u all that IM SO HAPPY for continuing this project! Wkwkwk

Backgrounds:
Kenapa bikin ini?
1. Karna seneng aja menghasilkan sesuatu yang melibatkan banyak orang
2. Biar bisa saling berbagi insight
3. Biar kayak channel Jubilee gitu, tapi ini versi blognya

Ini udah pernah kan ya, lanjutannya berarti?
Yap! 2 tahun yang lalu, sebelum koas merajalela, I did this dan menghasilkan 5 part which contains 25 questions. Omg. I'm so proud. Dan sekarang koas sudah tidak merajalela lagi, so I consider I got a chance continuing this one.

Di tahun 2019 disaat semua orang udah pada jadi influencer, kenapa masih make media blog kek gini?
1. Karna belum bisa jadi Youtuber
2. Karna anaknya suka membaca dan menulis sejak lahir
3. Demi menumbuhkan budaya membaca di masyarakat (*apaan dah)
4. Lebih hemat kuota kalo buka blog kan daripada buka yutub?
5. Karna lagi libur jadi supaya agak berfaedah gitu

Alhamdulillah dalam jangka waktu 24 jam aku berhasil mengumpulkan jawaban-jawaban ini dan sumpah terharu sendiri pas nyusunnyaaa :") Sepertinya jujur pada diri sendiri itu memang melegakan. Ada banyak point of view yang ga aku ketahui sebelumnya.

Semoga postingan ini bisa bikin kalian ikutan haru biru juga ya. Dan satu lagi, selamat bertumbuh!


26. What is the hardest part about being yourself?

1. M. Syukran GS

The hardest thing of being my self is that people think I'm a role model (I'm being overproud of myself), people think I'm good at everything, my study, my social, my college activity, my family does too, I'm good at making jokes, making fun of others, but when I get depressed or stressed I can quiet and calm better than a dead man so people think I'm a bipolar or weird, people think I can't get sad, and I'm tired of it. 

2. M. Irfan

Sesuatu yang menurut orang baik kadang menjadi sesuatu yang buruk di mata ini, sesuatu yang menurut orang tak penting menjadi sangat berarti ketika dinilai dari sudut pandang ini,,, ya memang ini aku, memang kadang berbeda dibanding sejumlah orang. Sebenarnya banyak hal yang buat aku sangat sulit menjadi diri sendiri... Mungkin karena juga seorang introvert dan memang anak rumahan,,, paling sering bilang tidak bisa datang kalau lagi ngumpul bareng teman, atau kalau lagi ada keramaian ketika orang-orang pada heboh, diri ini malah lebih mengunci diri di kamar dengan anime atau permainan di laptop atau hp... Kadang hal ini bikin orang bilang ansos atau gak peduli keadaan sekitar, tapi memang lebih memilih berkutat dengan pikiran sendiri dan aktivitas sendiri seolah lebih penting dan lebih baik dilakukan dibanding berkumpul wasting time dan kadang unfaedah juga...

Being myself juga sulit ketika ada orang yang baru dikenal atau ada orang yang bicara ke kita di jalan atau lagi naik kendaraan atau tempat umum lain... Lagi-lagi karena introvert diri ini... Rasanya sangat lelah meladeni percakapan tersebut, sangat sulit memang ketika berada di keadaan yang tidak bisa dihindari tersebut, kadang pura-pura sibuk dengan hp, kadang pura-pura tidur dsb agar percakapan terhenti,,, actually kalau misal diam aja jadi lebih santai dan lebih aman aja rasanya...

Last but not least hardest being my self, kadang sulit untuk ngungkapin apa yang dirasa atau pikiran kita ke orang lain ketika lagi forum atau rapat, takut orang tersinggung, takut gak nyambung, takut dipikir egois, takut ini takut itu ,,,, dan akhirnya gak jadi ngomong,, ya sering terjadi sih alhasil dibilang tidak ngasih solusi karena cuma diam dan setuju-setuju aja sama pendapat orang lain... 

Banyak usaha sudah dicoba untuk perbaiki diri, perlahan ada sedikit perubahan namun sepertinya memang ada hal yang sudah ngakar di diri kita dan emang gak mudah untuk diubah,,, so keep perbaiki diri menjadi lebih baik,,,

3. M. Asyrof H.

Hmm hal tersulit jadi diri sendiri itu istiqomahnya ngelakuin sesuatu. Itu yang saya rasa sampai sekarang masih sulit dilakukan.

4. Wirza RP

Hmm let me see. The hardest part of being my self is a must to resist my anger. Somehow it is very hard for me for not being angry easily to anything that annoys me. I know it's a worst characteristic to have, and I'm still trying to vanish it. 

5. Hanifa H.

The hardest part of being my self adalah menjadi balance. I mean balance antara dunia dan akhirat, antara belajar dan main, and so on. I'm not really good about it.

7. Ulfayanti S.

Yang menyulitkan menjadi saya adalah ketika saya berusaha untuk selalu rapi dan teratur dalam melakukan sesuatu tapi selalu saja ada yang salah dan terluput, sangat benci dengan kecerobohan diri sendiri. Ada OCD dalam diri saya, memastikan sesuatu berulang-ulan itu menyiksa. Apalagi untuk sesuatu yang menyangkut bersuci dalam ibadah. Tiap shalat berulang kali wudhu karena masih merasa ada yang salah, tidak sempurna, atau menjadi batal sehingga memilih untuk wudhu berulang kali untuk memuaskan perasaan saya dan itu amat menyulitkan saya.

8. Gaby D.

Hardest part being my self: menjadi orang yang over sensitive dan sometimes suka insecure. Karna memikirkan segalanya itu kadang lelah jugaa. Selain itu, perasaan over sensitive ini jadi gampang ngerusak suasana jugaa. Gak mau ngeluarin air mata saat suasana lagi asik, tapi suka kebawa emosi, jadi alhasil keluar sendiri air matanya. Dengan menjadi overthinking juga, bawaannya jadi susah ngambil keputusan, karna selalu ingin win-win solution yang sebenernya gak bisa selalu win-win solution.

9. Zahara B.

Being OCD/OCPD/perfectionist/cleanfreak/highly-organized/skeptical/whatever u name it, in every fcking aspect of my life. 

Setiap kali mau belajar/baca-baca/aktivitas sesuatu, I have to make sure area disekitar aku belajar/bekerja udah rapi. Kalau di rumah lebih parah lagi, aku harus mastiin satu rumah udah dalam kondisi yang sempurna, then baru bisa lanjut. Aku selalu nyatet apa aja yang aku makan dan minum dalam sehari, semua, termasuk yang konteksnya cuma nyicip, just to make sure aku ga jajan sembarangan. Aku nyatet pengeluaran dan pemasukan aku tiap hari sejak 2 tahun terakhir, dan mengauditnya setiap minggu to see apakah ada uang yang terbuang sia-sia atau aku beli makan kemahalan. I can't let my folders in phone galleries, notes, and files left unorganized. Aku gabisa liat susunan buku-buku di rak kamar ada yang bergeser even 1cm atau kebalik posisinya. Aku gabisa tidur siang even saat libur pun karna (1). Aku ga mau, dan kalo sampe ketiduran pasti menyesal "harusnya tadi bisa dipake buat baca-baca, atau ngerjain yang lain" (2). Pas bangunnya jadi sakit kepala. Literally sakit kepala. Setiap kali seseorang mengajarkan sesuatu, I have to confirm apakah yang diajarkannya memang benar atau nggak.

I also have to make sure kalau setiap apapun yang mau aku lakukan ataupun gak aku lakukan itu bertujuan. E.g: aku makan karna aku memang lapar (fyi aku ga pernah ngemil kecuali for social reasoning), aku spare time khusus untuk dengar lagu + nyanyi bcos that's the only way I could get relax (selain ngaji tentunya), aku ga main instagram lagi kecuali buat baca Jouska karna bosen ngeliat postingan hidup orang mulu, aku udah jarang baca fiksi/nonton drama, film, dll lagi karna otakku bilang itu wasting time dan pas dicobapun emang ga betah, kecuali kalo diajak ke XXI itu beda cerita *for social reasoning).

Sebenarnya di satu sisi ga ada masalah. Tapi sejujurnya aku capek. Ini tu melelahkan.

10. Izzatul A.

Hardest part about being myself :

Menjadi fake dibeberapa aspek kehidupan. Orang bilang itu talent (karena ga semua orang tahan untuk selalu memperlihatkan sisi terbaik dari dirinya walaupun sedang dalam kondisi yang tidak baik), tapi menurutku thats how we survived! Tapi fake disini bukan berarti baik didepan trus ngomongin dibelakang atau backstabber ga gitu ya haha. And the other hardest part is, ketika kamu terus-terusan fake, berusaha tetap senang meski ga senang, act like you’re okay ditengah hujan badai kehidupan, ujung-ujungnya feeling yang real itu tersimpan terus menerus dan membuat kita menjadi orang yang suka memendam. Apa yang dipendam lama-lama jadi bukit trus stress sendiri nanti kalo udh dipuncak dan meletus tiba2. 


27. Would the child version of you be proud or disappointed of what you've become?

1. M. Syukran GS

Beberapa hal mungkin iya, beberapa lagi mungkin gak. Tapi overall mungkin iya.

2. M. Irfan

Ketika diingat dulu waktu kecil, rasanya tak terbayang akan bisa sejauh ini perjalanan hidup dan pencapaian-pencapaian, serta pengalaman-pengalaman berharga lainnya,,, 
Versi kecil kita pasti bangga dengan diri kita yang sekarang,,, dan dengan banyak perjuangan serta pengorbanan yang telah dilakukan juga,,,,
Ketika bertemu, versi kecil kita pasti bilang:
Im so proud of you.. myself,, proud of what you've become, proud of your process, and also proud of what you've achieved that something never been dreaming before...

Dah syukuri aja wkwk

3. M. Asyrof H.

Bangga. Saya berhasil membawanya beberapa ke kehidupan sekarang :)

4. Wirza RP

Proud and disappointed at the same time. My child version would be proud of my achievements after plenty things that I've done then, especially for what I've became, friends that I have, magical moments which had done. But she would also be disappointed for my *al-yaumil akhirah* that has no progress, neglected..until now.

5. Hanifa H.

My child version would be proud of me, I think wkwkkw

6. Fania PI

Kayanya bangga aja sih. Walaupun jalan hidup aku sekarang beda banget sama yang sering aku impikan waktu kecil dulu hehe. Dulu waktu kecil aku engga mau banget jadi dokter. Karena dulu tante ku, beliau suka bilang kalo adikku cocok jadi artis karena dia cantik, kalo fania ga cocok wkwkwkwk. Si fania kan rengking, jadi mending jadi dokter aja. Lucu sih ini kalo diinget sekarang. Tapi itu bener-bener menyisakan luka banget waktu itu HAHAHA. Fania kecil lebih suka dipuji cantik daripada pintar hahaha. Fania kecil belum tau sih profesi nya mau jadi apa. Yang dia tau, dia ingin kuliah di ekonomi, akuntansi, atau teknik di UI atau unpad. Pokoknya nanti kerja kantoran dengan pakaian blazer hitam kece dengan sepatu hak tinggi, penampilan selalu oke ga kucel ala ala boss perempuan di film film eksekutif muda gityu hehe. Fania kecil tau ada fakultas akuntansi karena dulu sepupunya kuliah disana hehe.

7. Ulfayanti S.

Berada dalam posisi “benar” menurut standar agama saya, menemukan jalan hijrah menjadi salah satu hal yang sangat banggakan sampai sekarang. Betapa banyak orang yang lalai dalam masa mudanya, sementara kemana umur digunakan dan untuk apa masa muda dimanfaatkan adalah termasuk pertanyaan yang akan ditanyakan nanti di padang mahsyar. Saya bersyukur sudah menemukan jalan yang insya Allah, Allah ridhoi dan semoga Allah istiqomahkan saya dalam jalan ini. 

8. Gaby D.

Proud, karna seiring berjalannya waktu, dan dengan segala hal yang udh dilewati, jadi bikin lebih ikhlas sama apa yang Allah kasih. Seperti perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri sama Allah. Dan setiap hal itu ada hikmahnya, jadi apa yang udah dilalui itu sudah membuat diriku seperti sekarang ini. So my child version must be proud. Satu lagi, alhamdulillah sekarang menuju impian yang dicita-citakan dari dulu, yaitu to be a doctor. InsyaAllah.

9. Zahara B.

I remember it clearly, waktu aku masi TK, aku selalu iri liat orang pake seragam SD, SMP, SMA, like wow, aku ingin segera sampai disitu. Tiap naik angkot ke sekolah pagi-pagi, selalu iri ngeliat orang-orang pada pake rok biru atau abu-abu, sementara rok aku masih merah. Aku bosan jadi anak kecil. So "child version of me" sih harusnya bangga wkwk. Dia taunya aku sekarang udah lulus sekolah 12 tahun dan udah hampir selesai kuliah.

10. Izzatul A.

Be proud ofkors wk. Ga deng, 50:50. Bangga pasti dengan progres pendidikan yang sudah dicapai (karna masih banyak orang menganggap “ah gampang kalo udh masuk FK trus jadi dokter”). Bangga sudah sangat hebat melewati semua ujian hidup dan masih waras. Tapi kecewa juga atas hal-hal dan ibadah yang belum dilakukan maksimal, atas semua kesalahan yang disengaja, atas kekhilafan yang dilakukan secara sadar. But sure, ill make myself 100% proud without any dissappointment. Aamiin.

28. Do you like the person you've become?

1. M. Syukran GS

No I'm not, I'm not that ungrateful person but I sometimes wonder what If I do or don't something in the past, am I going to be the way I am today? 

2. M. Irfan

Do you like the person you've become :
Ya... Absolutely.... i like who have i become...

Sepanjang apapun org lain menilai kita baik atau buruk... Kadang penilian org perlu jadi intropeksi diri juga sih

3. M. Asyrof H.

Saya suka dengan apa yang ada pada diri saya saat ini, hal itu merupakan wujud rasa syukur saya pada Tuhan karena masih memberikan kehidupan.

4. Wirza RP

I do. I do like me, I love me, and I'm not trying to change my personality by any reason or because of others, but rather because of me myself. 

5. Hanifa H.

Overall yes, tapi perlu di upgrade sana sini sih

6. Fania PI

Aku suka sih dengan diri aku yang sekarang. Walau bukan menjadi apa yang dulu diimpikan. Tapi aku lihat mama aku sangat senang dan bangga. Dan banyak orang diluar sana yang bercita cita menempuh pendidikan sepertiku. Ya jadi kalo engga senang, rasanya kufur nikmat bgt sih aku, semacam engga bersyukur gitu.

7. Ulfayanti S.

Alhamdulillah, bersyukur atas segala pencapaian saya sampai saat ini. Karena sejatinya kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain yang hanya akan membuat kita semakin insecure. Saya mencintai diri saya. Kalau kita sendiri tidak menganggap kita penting, kita berharga, dan kita hebat, terus siapa lagi. Karena orang lain yang hanya melihat dari luar saja, kita sendirilah yang bisa mengapresiasi diri kita sendiri. Karena pengharapan apresiasi seutuhnya adalah kembali ke pencipta berbentuk ridho dan pahala. 

8. Gaby D.

Yaaa, suka. Terlepas dari segala kebaperan dan oversensitifan, aku senang sama diri aku. Karena sisi baiknya, jadi sensitif, jadi lebih peka ama sekitar, ambil makna dan pelajaran dari pengalaman sekitar. See the underneath of something. Trus pegang prinsip juga, love your self first before anyone can love u!

9. Zahara B.

Suka. Banget. Lagu wajib aku tiap hari itu Meghan Trainor yang Me Too, dinyanyiin sambil nari-nari ga jelas. Wkwkwk senarsis itu ya ampun.

I know aku masi banyak cacat disana-sini. Masi underweight dan gak hot. Masi gak sealim dan sekalem teman-temanku yang sudah hijrah. Kadang masi suka ngumpat/ngegas. Tapi at least untuk saat ini, myself is enough. I know I'll always try to be a better human for humanity and a better soul for Allah

10. Izzatul A.

Yes i do, tapi masih banyak yang harus dibenahi. Namanya juga manusia ga pernah puas, we have to be better than yesterday. Daaaan penting untk #loveyourself. Selain bentuk rasa syukur, kita ga akan bisa kasih yang terbaik untuk kehidupan ini kalo kita ga bisa mencintai diri kita sendiri dulu. 


29. What are the words that you desire to hear?

1. M. Syukran GS

I don't know, I think I've heard every good words that other people say towards me. It's not words I'm desired. It's about process or works I can finish by myself.

2. M. Irfan

Kamu sudah berjuang dengan hebat, kamu berhasil karena usaha keras mu....

3. M. Asyrof H.

Surat Al-Fajr ayat 27-30 saat meninggal :)

4. Wirza RP

Hey!
Wait, Zahara asks for words, not only a word. Okay. No problem. That's all I desire. I always want to greet people nicely, also to be greeted.

5. Hanifa H.

Honest words from the deepest heart.

6. Fania PI

Ada banyak sih ini. Tapi malu ah bilangnya. Intinya apresiasi yang terdengar tulus bukan menjilat. Itu pasti enak banget sih di dengernya.

7. Ulfayanti S.

“Terimakasih sudah menjadi kamu”
“Terimakasih karena sudah lahir dan ada disini”

8. Gaby D.

Words that can motivate me. Kata-kata: Kamu bisa gab! Aku yakin! :)

9. Zahara B.

Ada 1 yang paling utama. 

Precautions: I love my dad of course, dengan segala ke-patriarki-an-nya, dan ke-selalu-benar-an-nya. Dari segi mentality aku emang lebih cemen dibanding adek aku (lebih perasa?), aku gakuat dibentak tiap kali belajar nyetir jadinya sampe sekarang aku belum fasih bawa kendaraan dan selalu disupirin sama adek atau numpang atau naik kendaraan umum. Waktu itu pertengahan 2013, disaat pergi daftar ulang ke Unand atas, ada beberapa hal yang tertinggal di rumah sehingga karna kecerobohanku saat itu, adekku terpaksa nganterin aku bolak balik unand-siteba 3x. Aku tau aku salah dan aku juga marah sama diri sendiri. Kemudian sorenya ayah bilang:

"Bunga tu bisa nggak, nggak ngerepotin orang lain?"

Ayah bilangnya dengan nada datar. Aku gatau perasaan aku saat itu gimana tapi tiba-tiba aja air mata aku udah ngalir. Deras. Sampai 3 hari kemudian. Ga pernah rasanya sesedih itu. Bahkan sampai hari ini, feelnya masih kuat.

Kalau adek sendiri aja udah 'ngerepotin', lantas apa kata orang lain, teman-teman aku, yang selama ini aku mintai tolong?

Pengen banget rasanya denger ayah bilang, "Bunga nggak ngerepotin kok." Walaupun ga akan mungkin. 

10. Izzatul A.

“you did good, and you have to be better!”

Dan segala kejujuran, yang datang dari hati.


30. Is giving second chances worth it?

1. M. Syukran GS

Trgantung, second chances is a blessed if you dream about it, but don't raise your hope, or youll get hurt again, don't make a scar for someone who don't even care about you unless he/she can feel the same pain too.

2. M. Irfan

Semua org berhak untuk kesempatan kedua,,, why not kan.....
Selama org tersebut mempunyai kesungguhan untuk berubah dan muhasabah diri...

3. M. Asyrof H.

Well, kalau pendapat pribadi sih tergantung kondisi dan jenis masalah apa yang perlu diberi kesempatan kedua. Menurut saya itu relatif. Duh, mohon maaf karena hanya beberapa kata jawabnya, sedang ada perjalanan ke tempat lain, lain kali kalau si pembuat blog ngizinin saya lagi ngasih pendapat, saya usahakan jawab yang agak panjang xD

4. Wirza RP

Depends on the one who made the mistakes. You know what I'm saying? There are 2 types of mistakes, acceptable and unacceptable one. The second type, you'll think twice to give a second chance, but if the person who did was the one you could not ignore (in many meanings I can't explain), just give him/her. It could be worth it.

5. Hanifa H.

Setiap orang berhak punya kesempatan kedua, terlepas dari apapun kesalahannya. Bahkan Allah SWT membuka pintu taubat yang seluas-luasnya kan?. Tapi jangan punya ekspektasi apapun. Kita memaafkan bukan melupakan.

6. Fania PI

Menurut aku worth it. Banyak yang bilang ngasi kesempatan kedua tu ibarat baca buku yang sama dua kali. Kita udah tau endingnya bakal kaya apa. Padahal kenyataannya aku sering banget nonton film atau baca buku yang sama dua kali. Apa yang aku rasakan dan dapet waktu nonton pertama dan kedua itu beda. Ada hal hal yang pada nonton pertama tu menurut aku pemeran utama nya jahat bgt, salah banget dia kaya gitu. Tapi 1 tahun kemudian aku nonton lagi, semua terasa berbeda. Pemeran pertamanya ternyata baik, dia lakuin itu semua karena ada maksud lain. Cara aku dalam memandang sesuatu berbeda pada kesempatan kedua. Karena manusia itu dinamis, mereka bisa berubah tergantung dari seberapa keras hantaman di hidup mereka. Sekali pun orang yang diberi second chance itu ternyata tidak berubah pada kesempatan kedua, mungkin point of view kita lah yang berubah. Kalo pun ternyata pada akhirnya giving second chance itu menyisakan luka. Ya udahlah ikhlas aja jadi kan pelajaran. Karena ikhlas itu kunci kebahagiaan. Pasti ada hikmahnya kok. Tapi ya kalo merasa enggak akan sanggup dan ga rela menyikapi luka akibat pelajaran terlalu berat. Ya udah ga usah. Kata kata favorit aku itu no risk no gain. Kadang kalo ingin mencapai sesuatu itu emang harus siap menghadapi resiko. Kalo mau yang aman aman aja juga bisa, ya tapi gain nya engga akan sebesar yang ada risk nya.

7. Ulfayanti S.

Tergantung, tergantung besar kesalahan dan pengharapan untuk bertaubatnya. Ku sangat sulit memaafkan. Atau “oke dimaafkan” tapi pasti saya akan selalu ingat dan membekas di hati terdalam wkwk jadi ya memberikan kesempatan kedua menjadi pertimbangan tapi mungkin peluangnya menjadi sangat kecil.

8. Gaby D.

Always worth it, setiap orang punya kesempatan kedua, karna kalau kamu tanya ama diri sendiri, pasti juga mau kesempatan kedua. Makanya, selagi bisa kasih org kesempatan kedua, why not? :) toh selalu ada hikmah kok dari apa yang dikerjakan, intinya berserah diri ke Allah

9. Zahara B.

Aku bukan orang suci, tapi aku percaya kalau setiap orang selalu punya alasan tersendiri. Second chances, third chances, berapapun, might be worth it. E.g: kita gatau di chances keberapa seseorang akan benar-benar berubah. Ini kalau konteksnya tentang seseorang ya. Kalau konteksnya tentang cita-cita/impian ya sama juga. Kita gatau di chances keberapa we could make it. Semua butuh proses, dan proses setiap hal dan setiap orang ga pernah sama.

10. Izzatul A.

Allah aja mengampuni orang yang taubat nasuha, siapa kita yang berani tidak memberi maaf dan tidak memberi kesempatan kedua? YA TAPI GA SEMUA ORANG JUGA KHAAN. Balik lagi ke apa masalahnya, siapa orangnya, apa dampak pre dan post jika diberi kesempatan kedua, seberapa besar luka lama yang dibuatnya (HAHA PASTI U CAN RELATE IT NGEK), seberapa penting peran kesempatan kedua itu dihidup kamu. Karna kalo kata quotes2 instagram “if its not gonna matter in 5 years, dont waste more than 5 minutes worrying about it”, mungkin bisa diaplikasikan juga untuk keputusan kesempatan kedua.

Sunday, July 21, 2019

[DAILY LIFE] 24 y.o and What I've Learned




1. Apa sih yang dicari?

Pertama dan utama sekali mari kita bersyukur mengucap Alhamdulillah karena dunia ini tidak selamanya kekal. Semua hingar bingar, ketamakan, ketidaksetaraan beserta derivatnya ini hanya sementara. Bahkan dunia dan seisinya ini pun ga lebih berharga dari sebelah sayap nyamuk.

Dunya is worth-less. Akhirah is price-less.

Jadi, sebenarnya apa sih yang dicari?

Kita sama-sama manusia. Sama-sama numpang tinggal di bumi. Sama-sama diuji. Sama-sama sementara. Dramanya aja yang berbeda. Ada yang dikasi hiasan berlebih. Rezekinya melimpah, rumahnya megah, anak-anaknya gagah. Ada juga yang hidupnya monokrom. Bisa bernapas dan makan 3x sehari aja udah syukur. Dan ternyata membandingkan drama hidup sendiri dengan drama hidup orang lain itu memang gak pas, karena ya memang naskahnya beda. 

But you know what? 'Kesenjangan' itu, that's okay. Itu sah-sah saja. Namanya juga dunia.

Toh ujung-ujungnya sama-sama kembali ke tanah.

Jadi, sebenarnya apa sih yang dicari?

Tiap hari banting tulang, dan banting emosi. Entah itu bekerja, entah itu belajar, entah apapun itu namanya. Setinggi-tingginya pendidikan adalah menjadi profesor. Setinggi-tingginya perkerjaan mungkin menjadi CEO atau founder (?). Dan sayangnya ga semua orang dikasi kesempatan atau bahkan punya keinginan buat sampai di titik itu.

But you know what? That's okay. Itu sah-sah saja.

Jadi, sebenarnya apa sih yang dicari?

Jangan berani sebut "pengakuan sosial", atau istilah lainnya "pencitraan", atau kasarnya lagi "pujian orang lain". Sama-sama numpang kok saling ngebandingin drama masing-masing. Lagipula itu drama kan yang bikin Tuhan. Mau nge compare cerita bikinan Tuhan?

Jadi, sebenarnya apa sih yang dicari?


2. It's already that hard to be just kind.

Sama-sama punya beban. Sama-sama puyeng. Intensitas dan ruang penerimaannya aja yang beda. Jadi gausah ngeluh.
Positivity dan negativity itu sama-sama kuat. Sama-sama contagious. Kamu mau nularin yg mana?

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Yang saling menguatkan, saling membantu untuk mencapai tujuan masing-masing.

Jadi orang baik itu 'kayaknya' gak gampang. Harus diusahakan. Dan dipertahankan.


3. Harus 'kuat' dulu, baru bisa nolong orang lain.

Pasti kalian pernah tahu tentang cerita sahabat Rasulullah yang dulu wafat kehausan di padang pasir. Kalo ga salah, kisahnya tu begini. Setelah mereka menunggu lama, akhirnya datang bantuan seteguk air. Sahabat pertama menolak, katanya berikan saja ke sahabat yang lain. Sahabat kedua pun begitu, dan seterusnya. Pada akhirnya mereka menolak dan tidak ada yang meminum air tersebut, dan mereka semua berakhir meninggal kehausan.

Pernah terpikir aja, bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? Bukan maksud untuk menyalahkan kesetiakawanan para Sahabat, tapi andai kata ada satuu aja yang meminum air saat itu, apakah jalan ceritanya akan berbeda?

Gampangnya gini. Di pesawat selalu di edukasi kalau terjadi apa-apa, masker oksigen bakal turun dan kita disuruh make masker kita sendiri dulu baru abis itu nolong orang lain, nolong yang disebelah kita.

Menolong itu butuh power, butuh kekuatan. Andaikata jalan ceritanya berbeda, andaikata ada satu saja dari mereka yang meminum air tersebut dan kemudian beliau mendapat energi dan punya kemampuan untuk bergerak dan mencarikan pertolongan untuk sahabat-sahabatnya yang lain, mungkin akhir ceritanya bisa berbeda. Mungkin.

Kalau kita ga punya kekuatan, zero power, maka kita masih punya satu hal yang bisa diandalkan, nurani. 'Seminimal-minimalnya' kekuatan adalah doa. 

Allah selalu bilang ikhtiar itu punya dua komponen kan: usaha yang dibarengi dengan doa.

Singkatnya, harus ada yang 'kelebihan' supaya dia dapat menetralisir yang punya 'kekurangan'. Harus ada yang berilmu supaya dia bisa mengedukasi mereka yang kurang ilmunya. Harus ada yang sehat agar dapat membantu yang sakit. Sederhana aja, simbiosis mutualisme. Yang kekurangan jadi bahagia karna terbantu, yang kelebihan jadi bahagia karna membuat orang lain bahagia.

*kecuali jiwanya cacat, seret liat orang lain senang, itu beda cerita.

4. Life is choices over choices

(Nomor 4 ini terinspirasi dari videonya Gitasav dan mba Suhay Salim, jadi gaya bahasanya agak beda ya).

Hidup itu repetitif, berulang kali kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang harus diputuskan, choices over choices, mild to a heavy one, dari masalah mau makan apa sampe masalah mau nikah ama siapa, dan lo musti paham dengan setiap pro dan cons dari keputusan yang lo ambil, musti agreed dengan terms & conditionsnya, karna setiap keputusan itu ada untungnya dan ada resiko terburuknya, jadi apapun yg terjadi ya balikin lagi ke diri lo.

Misalnya lo memutuskan utk makan pedes, ya lo musti terima kalo nanti ada kemungkinan lo bisa mencret. Atau misalnya nanti lo memutuskan buat menjalin hubungan ama seseorang. Sebagus apapun prospek kedepannya, bakal tetap ada risiko kan? Kalau suatu saat nanti kenapa-napa, ya jangan serta-merta nge-blame tu orang, it needs two people to build a relationship, lo yang memutuskan untuk menjalaninya, ya lo harus siap dengan segala konsekuensinya.