Sunday, September 11, 2016

[DAILY LIFE] You Know You're Doing What You Love When...



Mau kuberitahu sesuatu yang cukup esensial di hidup ini tidak? Ternyata, banyak sekali komponen yang harus terlibat dalam proses penentuan jati diri dan impian yang mengikuti dibelakangnya.

Jika kamu pikir kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan semuanya atas kehendak sendiri, itu sebenarnya artinya kamu belum cukup dewasa.

................................

Aku memang masih duapuluhsatu tahun. Memang belum sebanding dengan mereka yang lebih senior dalam mengunyah kegagalan dan menelan keputusasaan. Tapi berbagi kebaikan itu perlu, kan? Bukankah Allah mengatakan 'sampaikanlah walau satu ayat'?

................................

Baiklah. Sekarang coba hitung, sudah berapa kali kamu mengganti cita-citamu sejak pertama kali berkenalan dengan yang namanya "cita-cita"? Pasti tidak terhitung. Bolehlah aku berbagi pengalaman. Kalau kamu tidak tertarik, kamu bisa langsung loncat membaca paragraf setelah tanda garis (-----------). Tapi kalau kamu penasaran, well, this is it! 

Cita-citaku yang paling pertama adalah menjadi guru. Iya, guru! Lalu entah dikelas berapa, berubah menjadi ustazah (!) Lalu disaat kelas 6, berubah menjadi dokter bedah yang tidak sekedar ingin, tapi bahkan sampai diikrarkan dihadapan beberapa 'orang'!

Saat rokku menjadi biru, aku ingin menjadi reporter. Tapi sesaat kemudian, berkat tugas bahasa Indonesia tentang penampilan drama dimana aku yang jadi penulis naskah dan mengatur semuanya, cita-cita itu berubah menjadi sutradara. Lalu berkat aktifnya aku menulis di mading kelas dan kemudian dinobatkan jadi ketua mading, si cita-cita berubah lagi menjadi penulis. Lalu entah karena alasan apa, ia berubah lagi menjadi penerjemah. Lalu berkat seorang teman yang sama ambisnya, sama-sama pengen kuliah di Harvard dan  jalan-jalan keluar negeri, berubah lagi ia menjadi diplomat, karena aku ingin keliling dunia!

Saat rokku berubah abu-abu, aku masih ingin menjadi diplomat, namun sesaat kemudian sesosok senior yang ku'kagumi' ingin menjadi arsitek dan entah bagaimana yang terjadi aku berbalik arus ingin menjadi arsitek. Dan aku sempat merasa ini adalah cita-cita paling mantap, sejak aku mulai menghirup oksigen di bumi. Aku suka menggambar. Aku suka rumah. Aku suka menggambar rumah dan memang ada bukti atau yang disebut para profesional sebagai "portofolio". Aku punya buku khusus yang isinya berbagai maket rumah yang aku rancang sendiri. Aku rutin membeli majalah atau koran yang berhubungan dengan arsitektur atau interior. Ini semua terasa begitu nyata. Aku terobsesi. Dan ini semua akhirnya berujung pada mendaftarnya aku pada salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia, ITB, dan mengambil SAPPK sebagai pilihan pertama saat aku mendaftar SNMPTN Undangan.

Pada awalnya, aku hanya mengisi satu dari empat pilihan yang tersedia. Aku begitu terbutakan, overly ambisius, dan menjadi tidak logis. Tapi Allah tidak pernah lupa mengurus hamba-Nya. Aku mendadak jadi teringat bahwa aku sangat suka astronomi dan geologi, pokoknya segala tentang bumi dan alam semesta. Aku juga sangat tertarik! Jadilah aku menempatkan FITB di ITB sebagai pilihan kedua.

Baiklah. Ini terasa lebih baik. Setidaknya jika SAPPK menolakku, FITB bisa menjadi tempat perlindungan yang cukup baik. Aku menelepon Bunda untuk memberitahu. Mengetahui aku hanya mengisi dua dari empat pilihan, bunda yang belakangan ini sering mengode agar aku masuk kedokteran pun bersikeras. Tidak pernah sekalipun terbayangkan akan melanjutkan kuliah di Padang, apalagi kedokteran! Mimpi apa aku?! 

Aku berpikir cukup lama sebelum memasukkan FK UNAND sebagai pilihan ketiga. Aku coba bayangkan, kehidupan yang akan terjadi jika aku benar-benar berujung di FK. Berjalan masuk ke gerbang FK, bergumul dengan buku-buku yang tak terhingga jumlahnya, dan mulai menegosiasi diri. "Well, kalau aku masuk FK, maka otakku tidak akan mendidih lagi mengerjakan soal-soal matematika, apalagi fisika atau kimia. Kalau aku masuk FK, maka aku akan menghabiskan sisa hidup dengan membaca, membaca, dan membaca sampai gila."

Baiklah, sebenarnya itu bukan ide yang buruk juga. Kalau boleh jujur, aku suka kok membaca buku-buku biologi. Dan mendadak aku teringat, waktu kelas tiga SMP, aku pernah membeli satu buku yang judulnya "Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis" dan aku candu membacanya. Lama-lama ini menjadi masuk akal. Baiklah, mungkin kuliah di FK ada baiknya juga. Dan "terketoklah palu". Aku resmi mendaftar pada ketiga pilihan tersebut. Dengan hati yang cukup yakin bahwa aku akan diterima di pilihan satu atau dua. Jika dua pilihan tersebut gagal, maka aku akan ikut ujian SBMPTN.

Meskipun aku mengisi pilihan ketiga secara sadar sepenuhnya, tidak pernah terlintas bahwa aku akan diterima di FK. Karena yang pertama, menurut informasi yang aku dapat, FK UNAND hanya memilih siswa yang menjadikan jurusan tersebut sebagai pilihan pertamanya di SNMPTN Undangan. Yang kedua, benar-benar tidak terhitung banyaknya teman-teman sekolah yang menjadikan FK sebagai tujuan, apalagi FK UNAND yang notabene lokasinya lebih dekat dan bagus pula (im not bragging abt my univ, this is what I honestly think abt FK Unand at that time).

Dan tibalah saatnya, di salah satu tanggal paling bersejarah sepanjang zaman, 27 Mei 2013 (bertepatan dengan ulang tahunku yang ke-18), pukul 16.10 WIB, dengan debaran jantung yang semakin menjadi-jadi, muncullah suatu laman website yang mengubah segalanya.




Jujur dari palung hati paling dalam, aku kaget dan shock luar biasa! Bahkan membayangkan -apa yang terjadi saat itu- saat tulisan ini diketik, rasanya sungguh awkward! Untuk beberapa waktu lamanya aku terkungkung dalam tahapan denial, menolak bahwa ini benar-benar terjadi, dan yang lebih parah adalah I'm not even dreaming! Sampai akhirnya Allah mulai bertindak dan membuat fokusku beralih ke yang lain. Aku mulai mencari mimpi yang lain, yang lebih 'cantik' dan lebih menantang. Aku searching semua bidang spesialisasi dokter. Aku eliminasi satu persatu pilihan yang ada dan tersisalah satu pilihan yang terbaik menurutku.

Sp.JP (Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah). Aku teringat bahwa saat belajar biologi kemaren-kemaren itu, materi tentang jantung dan sirkulasi adalah materi paling menyenangkan dan mudah dipahami! And see, itu semua terbukti saat aku masuk blok 3.2 (blok gangguan kardiovaskular di semester 5). Dan sekarang cita-cita ini genap berusia 3 tahun!

___________________________________________________________________________


Okay. Jadi yang diatas itu adalah prolognya.

Terhitung hari ini, sudah lebih dari tiga tahun aku survive di FK. Sekarang sudah masuk tahun ke-4 (semester 7) --> tahun dan semester terakhir sebagai mahasiswa pre-klinik! Di semester ini, aku tak hanya bergulat dengan skripsi, tapi juga Junior Clerkship (JC). 

Sebenarnya dari hari pertama memulai kuliah disini, aku tau kalau aku bakal betah dan bakal suka. Tapi egoisme dan rasa gengsi yang berlebihan terkadang muncul ke permukaan dan merusak semangat yang tadinya sudah tumbuh subur tanpa perlu nutrisi. Dibumbui dengan adanya kesempatan ikut SBMPTN di penghujung semester dua. Akibat perperangan batin yang cukup luar biasa, dipenghujung semester pertama, di blok 1.3 (Neuromuskuloskeletal) nilaiku jadi jelek. R.e.m.e.d.i.a.l. Dan ini semakin mengguncang pondasi yang dari awal memang sudah tidak stabil juga.

But, once again, Allah tidak pernah lupa mengurus hamba-Nya. Melalui manusia-manusia tercinta yang aku miliki, aku kembali berdiri dan memantapkan apa yang harus dimantapkan. Memperbaiki kembali niat. Menciptakan target-target baru. Mulai menjalani apa yang memang seharusnya dijalani, bukannya berbalik arah dan berlari. Aku berhasil melewati ini semua dengan memuaskan dan memasuki semester baru dengan perasaan yang juga baru.

--> BALIK LAGI KE.... SKRIPSI DAN JC

Aku menjalani kuliah setiap hari dengan "keinginan yang kuat untuk menjadi dokter Sp.JP(K)" setia mendorong dibelakang. Walaupun terkadang si malas menampakkan diri, niat tadi tidak pernah berubah. Aku ingin menjadi dokter! Aku ingin jadi dr. Sp.JP(K)! Aku ingin jadi pembicara di simposium-simposium kardiovaskular seperti yang dilakukan oleh dr. F, dr. Y, dan dr. K ! 

Dan JC hadir mengeksaserbasi semuanya!

Jadi, JC ini stratanya itu ada dibawah Koass (Senior Clerkship). Belajarnya sama-sama di rumah sakit. Sama-sama cari dan belajar dari pasien asli. Sama-sama bikin status dan presentasi. Bedanya, kalau JC itu praktikalnya cuma anamnesis dan pemeriksaan fisik. Sedangkan kalo koas sampai ke diagnosis dan tatalaksana.

Dan JC hadir mengeksaserbasi semuanya!

Meskipun super melelahkan karena harus keliling-keliling rumah sakit, meskipun terkadang harus pulang malam, meskipun terkadang merasa bego saat ditanyain konsulen tapi gatau jawabannya, saat JC ini berakhir di hari tersebut, rasanya bahagia dan puas luar biasa! Karena selama di preklinik (tutorial, KP, skills lab, dll), motivasinya adalah "yang penting selesai" or "yang penting ada bahan buat ngomong" or "yang penting lulus" or alasan-alasan gak bermutu lainnya.

But, melalui JC ini, motivasi-motivasi jadul itu mulai bergeser kearah yang lebih baik. Aku belajar karena aku ingin tahu apa yang sebenarnya patofisiologi sedang terjadi pada pasien tersebut. Aku belajar karena aku ingin tahu apa yang seharusnya aku lakukan untuk membantu menyembuhkannya. Aku belajar karena aku ingin tahu bagaimana seharusnya aku memberi penjelasan atau memberi jawaban atas pertanyaan pasien atau bersikap padanya. Aku belajar karena aku ingin menolongnya.

_______________________________________________________________________

Melalui tulisan yang cukup panjang ini, di penghujung cerita, aku ingin menyampaikan beberapa hal...

1. Banyak sekali komponen yang harus terlibat dalam proses penentuan jati diri dan impian yang mengikuti dibelakangnya. Itu artinya, berapapun umurmu, kamu tidak selalu bisa menentukan SEMUANYA sendiri, tanpa ada andil orang lain. 

Akan ada banyak orang yang memberi masukan, mempengaruhi, menyadarkanmu akan apa sebenarnya yang kamu inginkan dan senangi dalam hidup. Namun orang lain adalah orang lain. Kamu adalah kamu. Orang lain boleh mempengaruhi, tapi kendali tetap ada padamu. Pikirkan baik-baik dalam kondisi hati yang sedang stabil, "apa ini yang benar-benar kamu inginkan?"  "apa ini yang benar-benar kamu sukai?"  " apa ini yang benar-benar kamu tidak akan pernah menyesal dengannya?"

Karena aku teringat satu hal. Aku mengatakan bahwa aku punya portofolio berupa maket-maket rumah yang aku desain sendiri. Aku bisa merancang namun aku tidak begitu ahli menggambar, atau bahkan menciptakan sebuah gambar baru! Saat itu yang terpikir adalah apapun yang terjadi, pokoknya aku mau kuliah di arsitektur! Urusan menggambar, nanti kan bisa dilatih perlahan-lahan. Aku memaksakan diri bahwa aku pasti bisa disaat hatiku sendiri ragu apakah aku akan bisa melakukannya atau tidak.

Again, karena aku teringat satu hal. Aku senang membaca. Bahkan aku sudah tertarik dengan kedokteran sejak aku membeli buku "Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis" saat SMP dulu. Namun aku membutakan semuanya dengan prinsip baru yang "dibuat-buat" --> "aku tidak suka menghafal" --> disaat aku tau otakku jauh lebih cepat mendidih ketika mengerjakan rumus-rumus.


2. Ketika kamu terjebak dalam aktivitas yang kamu bilang tidak kamu senangi (contoh konkrit: merasa salah jurusan), alangkah lebih baiknya jika yang kamu lakukan pertama kali adalah menerimanya. Menerima bahwa ini sudah ketetapan Dia. Menerima bahwa Dia lebih tahu tentangmu daripada dirimu sendiri. Jika kamu sudah merasa netral, sudah merasa objektif, "oke, aku terima. Ayo kita jalani saja dulu, aku penasaran akan seperti apa ini nantinya!" --> maka jalanilah dengan sangat sungguh-sungguh, dan disitulah kamu pada akhirnya akan tahu, apakah kamu sebenarnya memang salah aktivitas (salah jurusan) atau tidak. Kamu harus menepiskan semua egoisme, denial, dan rasa apapun yang membuat penilaianmu menjadi tidak objektif. Kamu harus menetralkan perasaanmu disaat kamu harus berencana untuk memutuskan sesuatu.

Remember --> Allah knows best! Allah Maha Mengetahui segala sesuatu!

Setiap kita punya jatah waktu masing-masing terkait "kapan kita akan mengetahui bahwa yang sedang kita lakukan ini adalah yang tidak akan membuat kita menyesal". Contohnya, aku mengetahui bahwa aku menyukai bidang kedokteran ini di hari pertama masuk kuliah. Namun aku mengetahui bahwa aku tidak akan pernah menyesal tenggelam di bidang ini sekitar tiga tahun kemudian, saat aku memulai JC di rumah sakit.


___________________________________________________________________________


My last words.. 

Aku sangat berharap tulisan ini dapat memberikan pencerahan jika kamu sedang berada dalam kondisi yang pernah aku alami ini. I sincerely pray for your best (to anyone who read this). See you on top when I see you!





[REVIEW] Pick Up Lines from "Mahasiswa 1/2 Dewa" !


Ket :
Orange --> Buku 1  &  Hijau --> Buku 2


Aku termasuk golongan orang-orang yang mager beli buku bertajuk motivasi atau penyemangat atau apapun itu, you name it. But, pada akhirnya buku ini ada di kantong belanja sepulang dari gramedi*. Satu-satunya alasan aku membelinya adalah karena pengarangnya adalah sesosok "S.Ked" dan seniorku pula, dan senior se-dosen PA pula (yang ini sih gak ada hubungannya). Lha, terus apa pentingnya kalau penulisnya S.Ked? dan FK Unand pula? Ya, tentu saja P-E-N-T-I-N-G, karena isinya pasti bakal lebih relevan dengan kehidupanku sehari-hari, apalagi si kakak dari FK Unand. 

TAPI, setelah selesai dibaca, aku berubah pikiran.

Buku ini cocok dibaca oleh soon-to-be-mahasiswa dan mahasiswa-on-progress jurusan apapun!

Awalnya pengen bikin sebuah resume atau review atau rangkuman atau semacamnya. But I changed my mind. Sulit melakukannya karena semua bagian didalam buku tersebut bermakna! Masing-masing bagiannya men-trigger secara spesifik reseptor-reseptor semangat didalam tubuh! Oleh sebab itu, here it is! I'll give you my version of "Mahasiswa 1/2 Dewa pick-up-lines" :)


......................................
......................................


"Kita gak harus milih. Tidak harus meninggalkan salah satunya buat bisa sukses di bidang tertentu. Kita bisa sukses dalam dua bidang itu. Serius. Bukti sederhana nih, ketika kita bernapas, apa kita berhenti melihat atau mendengar?"
(Buku 1 - Hal. xxvii)


"Satu-satunya solusi agar bisa bertahan adalah bikin tubuh kita terbiasa mengerjakan hal-hal tersebut tanpa harus menghentikan salah satunya. Awalnya memang nggak mudah, tapi yang namanya skills emang harus dilatih."
(Buku 1 - Hal. xxvii)


"Awal perjalanan menuju sukses adalah dengan melatih kemampuan kita satu-persatu hingga benar-benar mahir."
(Buku 1 - Hal. xxviii)


"....ternyata butuh proses dan pembiasaan."
(Buku 1 - Hal. xxix)


"Tugas kita sebagai manusia hanyalah memantaskan diri, melakukan upaya terbaik dengan terus menaruh harapan kepada Allah. Hasil akhir? Biarlah dia yang menentukan."
(Buku 1 - Hal. 17)


"Papa selalu mengingatkan kami, anak-anaknya untuk terus bersyukur terhadap nikmat dari Allah, walau kecil harus disyukuri dulu. Karena hal inilah yang akan memancing nikmat yang lebih besar lagi untuk datang."
(Buku 1 - Hal. 28)


"Proses ga bakal mengingkari hasil."
(Buku 1 - Hal. 33)


"Yang terpenting, jangan bandingkan kesuksesanmu dengan orang lain karena itu sungguh gak adil."
(Buku 1 - Hal. 33)


"Sukses adalah ketika kita menetapkan sebuah target kemudian melampauinya."
(Buku 1 - Hal. 34)


"Ternyata asal ada niat, usaha, doa, ridho orang tua, dan (yang pasti) izin Allah, nggak ada tuh yang mustahil!"
(Buku 1 - Hal. 38)


"Masa kuliah adalah masa paling potensial buat ngebentuk jati diri, buat tau siapa dan mau apa kita nantinya."
(Buku 1 - Hal. 113)


"Berkumpul bersama orang-orang se-visi adalah cara terbaik untuk mencapai keinginan bersama."
(Buku 1 - Hal. 113)


"If you can dream it, you can do it!"
(Buku 2 - Hal. xix)


"Mimpi hanya ada di dunia mimpi. Tugas saya adalah bangun dari tidur dan mulai membuat mimpi itu ada di dunia nyata."
(Buku 2 - Hal. 3)


"Memastikan diri kita akan tetap hidup dan terus bertahan.."
(Buku 2 - Hal. 4)


"Kalau kita gak bisa mendisiplinkan diri sendiri, bersiaplah. Dunia yang akan melakukannya kepada kita."
(Buku 2 - Hal. 15)


"Nggak ada yang peduli sama masa depan kita selain diri kita sendiri."
(Buku 2 - Hal. 16)


"Tugas pertama kita adalah mengalahkan diri kita, bukan orang lain. Artinya kita harus meraih target yang kita bikin, bukan membandingkannya dengan orang lain."
(Buku 2 - Hal. 24)


"Maut gak peduli dengan usia."
(Buku 2 - Hal. 30)


"Orang pintar adalah orang yang paling sering mengingat mati dan melakukan upaya terbaik untuk mempersiapkannya."
(Buku 2 - Hal. 30)


"Keluar dari zona nyaman!"
(Buku 2 - Hal. 65)


"Ini hanya masalah jam terbang. Semakin sering kamu berlatih, kamu akan semakin mahir."
(Buku 2 - Hal. 66)


"Minimal: Memimpin diri sendiri!"
(Buku 2 - Hal. 150)


"Everything you can imagine is real."
(Pablo Picasso)


"Travel while you're young and able. Don't worry about the money, just make it work. Experience is far more valuable than money will ever be."
(Anonim)


"The future belongs to those who prepare for it today."
(Malcolm X)


"A quitter never wins and a winner never quits!"
(Napoleon Hill)


...................................
...................................
This entry was posted in

Saturday, September 10, 2016

[TRAVELLING] Jenesys 2012 Day 1 - First Breath in Japan!!


Setelah kira-kira 4 tahun dianggurin, akhirnya tulisan ini jadi juga!

--- buat yang belum baca prolognya, bisa lihat disini :D ---


SENIN, 25 Juni 2012 (at night)

Jika bisa dikata, ini adalah malam paling excited, paling deg-degan, paling bahagia, paling luar biasa sepanjang hidup 17 tahun! Sebenarnya, saat-saat menuju mimpi menjadi kenyataan itu jauh lebih bikin aritmia daripada mimpi yang sudah jadi nyata itu sendiri! You cant stop thinking, "apa yang akan terjadi selanjutnya?" "bagaimana rasanya jika nanti sudah naik pesawat?" "bagaimana rasanya mendarat di negeri orang?" "am I really going to die in happiness jika sudah sampai nanti?"

Jadi, sekitar pukul 7 malam, kami off to Soetta dari Hotel Sultan. Sampai di bandara, mengurus segala macam hal yang bisa dikatakan rempong (maklum baru pertama kali go abroad wkwk). Perjalanan malam ini akan disponsori oleh Japan Airlines (JAL 726). Setelah semua urusan selesai, akhirnya kami bisa duduk di ruang tunggu sekitar pukul 9. Ini adalah momen menunggu yang paling tidak membosankan! Sampai akhirnya sekitar pukul 10, panggilan dari pengeras suara itu terdengar..

.........


Ini diaaa penampakan interior pesawatnya! Akhirnya satu dari sekian banyak pertanyaan beberapa jam yang lalu terjawab juga. Rasanya setelah berada di pesawat? Nano-nano! Untuk pertama kalinya, saat naik pesawat, ga akan mendarat di Padang or Jakarta or anywhere in Indonesia. Untuk pertama kalinya bakal berada di udara sekitar 6-7 jam. Untuk pertama kalinya, akan berpisah dengan keluarga dan teman-teman sejauh ini! Rasanya luar biasa, meskipun ada nol koma sekian persen rasa homesick :")

Dan begitulah ini semua bermula... pesawat ini akhirnya take off.. dan....


SELASA, 26 Juni 2012

Belum mendarat. Masih di pesawat. Ngeliat ke jendela, wah udah terang! Liat jam tangan, jam setengah tiga! Gilak cepat amat paginya! Tapi sesaat kemudian baru nyadar, jam tangannya belum disetel buat dicepatin dua jam (Jepang : GMT+9). Oke, berarti sekarang jam setengah lima. Setengah lima udah terang-benderang? Oiya lupa, sekarang lagi summer --"

Finally, selembar handuk hangat untuk me-lap wajah dan seporsi sarapan datang --> roti, omelet, beserta hiasan-hiasannya (read: salad yang super banyak). Terus nyobain ke toiletnya, dan pertama kali kenalan dengan yang namanya "Vacant" dan "Occupied". Kalo status di pintunya "Vacant" berarti toiletnya lagi kosong and you can go in. Toiletnya mini dan of course bersih! Ada bunyi flush yang keras juga, untuk menyamarkan bunyi-bunyi yang 'tidak diinginkan' :D 

Setelah beberapa menit-jam lamanya ngobrol dan bergosip sama teman se-seat (Asad, anak MTsN baru tamat, dari Sulawesi), akhirnya monitor yang ada di depan menunjukkan kalo kami sebentar lagi akan landing. Ochiai-san juga bilang "itu di jendela gunung fujinya sudah kelihatan". :D Then, terdengar suara pramugari bilang 'fasten your seatbelt etc..', karena sebentar lagi benar-benar akan mendarat.......

..........

dan akhirnya.. wuuuuusssss.......... berjalan juga pesawat ini diatas aspal bandara Narita. Ini dia my really first sight of Japan (and still cant believe I'm finally here)..


Keluar dari pesawat, kami naik semacam kereta mini gitu buat ke gedung yang satunya lagi. Akhirnya sampai di bagian imigrasi dan proses pengecekan pun dimulai. Petugasnya? RAMAH banget! Gak kayak di *tiiiiit*. Ini dia penampakan bandaranyaa :



Di pintu keluar bandara, kami bertemu supervisor dari pihak Jepang, namanya Kuswan-san dan Mabuchi-san. Mereka bisa bahasa Indonesia! Yang Mabuchi-san bahasa Indonesianya masih ada logat kejepangannya gitu, but Kuswan-san fasih banget. Akhirnya aku puji dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar "Bahasa Indonesia bapak lancar sekali ya", dan bapaknya jawab "Saya kan orang Indonesia, tapi sudah 15 tahun disini." (dan baru nyadar nama si bapak emang nama orang Indonesia --')

Dan kami (aku dan kak Aisyah, yang lain lagi pada ke toilet) cuma bisa bilang 'wow'. Ternyata bapaknya dulu kuliah di UGM dan di tahun pertama kuliah, bapaknya lulus beasiswa Monbu dan finally pindah kuliah di Jepang, lalu kerja, sampaai sekarang. Kalau tidak salah, istrinya juga di Jepang (istrinya orang Jepang) but anak-anaknya tetap di Indonesia, dan bapaknya pulang ke Indo kira-kira 4x setahun :o

Setelah percakapan yang luar biasa, kami masuk ke bus, siap buat berangkat ke Tokyo (FYI Narita itu bukan berada di Tokyo. Kayak Soetta lah, yang gak di Jakarta but Tangerang). Ini diaa, jarak Narita ke Tokyo sekitar 40 km :D



Sepanjang perjalanan ke Tokyo, Pak Kuswan cerita banyak hal mengenai Jepang. Aku sesekali mendengarkan. Bukan karena bermaksud tidak sopan, tapi karena sibuk sightseeing, and one more time, busy asking myself "ini aku beneran di Jepang?? Lagi di daratan yang sama dengan artis-artis tampan yang biasanya cuma bisa dilihat di laptop itu?? Lagi tidak berada di Indonesia??". 

You may say I'm exaggerating but that's nothing but true! Ini sedikit cuplikan perjalanan dari Narita ke Tokyo :




Foto yang pertama itu keliatannya gak penting banget, tapi melalui foto itu aku ingin melihatkan bahwa Jepang memang sebersih itu! Foto yang kedua itu sering banget aku lihat di drama/film Jepang. Foto yang ketiga itu adalah Skytree Tower! Jadi (di tahun 2012 itu) tower ini masih lumayan baru dan dia lebih tinggi dari Tokyo Tower :))

Akhirnya sampai di Tokyo Dome Hotel! Hotelnya ini lokasinya di kawasan Tokyo Dome. Kayak Ancol gitu, wahana besar plus ada hotelnya. Ini diaaa :



Aku kebagian nginep di lantai 14, bareng Mayang (setahun lebih muda, dari Banten). Kami bakal istirahat dulu sampai kira-kira jam dua nanti, karena jam setengah tiga bakal ada orientasi pertama di Zensuido Kaikan. Jadi, kegiatan selama istirahat? Yang pasti gak tidur dan memang gak bisa tidur *sakingbahagianya :"D Beres-beres, mandi, makan, ngeliatin pemandangan dari jendela, mampir ke kamar yang lain, ngobrol, dan kegiatan-kegiatan lain yang tak perlu di mention disini.





Foto pertama itu adalah makanan pertama di Jepang! Masih makanan Indonesia :) Makannya sambil duduk dekat jendela, ngeliatin pemandangan yang ada di foto kedua. Jalanannya bisa dibilang sepi dan mirip lintasan tamiya! Teratur banget jalan mobilnya, kayak udah tau di lajur mana dia harus berada! Foto ketiga adalah kamar mandi kamarku, gak pernting juga sih, ya? Tapi aku mau melihatkan sesuatu disitu. Toilet dengan beragam tombol! Ada tombol buat ngeluarin air dan segala macam. Toilet elektronik gitu :D (zoom aja gambarnya kalo kurang jelas)

Akhirnya jam dua datang juga. Head to Zensuido Kaikan. Kami kesana jalan kaki sekitar 15-20 menit. Aku (dulu) bukan orang yang hobi jalan kaki, tapi jalan kaki disini gak kerasa capeknya. Satu, karena (tidak bisa dipungkiri) faktor psikologis --> lagi di Jepang! Kedua, karena memang fasilitas umum buat jalan kakinya itu memadai. Jadi ada jalan khusus buat pejalan kaki dan pengguna sepeda yang cukup lebar dan lebih manusiawi daripada di *tiiiit*

Ini dia gedung Zensuido Kaikan-nyaa, tempat kami bakal orientasi..


Ini pihak JICE (Japan International Cooperation Center) yang lagi mempersiapkan buat orientasi.. 


Sebenarnya kami udah beberapa kali orientasi dan penjelasan ini-itu waktu 3 hari di Jakarta, sebelum berangkat ke Jepang kemaren. Jadi yang sekarang ini lanjutannya gitu. Selesai orientasi kira-kira jam 4. Selepas jam 4? Bisa dibilang kami bebas, karena satu-satunya jadwal yang tersisa adalah makan malam jam 17.30 dan absensi jam 22.00. Pulang orientasi, kami main di Tokyo Dome City yang luasnya m.a.s.h.a.A.l.l.a.h




Lalu dinner di The City Buffet (masih di kawasan Tokyo Dome City)



Di The City Buffet, di sebuah meja bundar yang diokupasi oleh aku, Desi (sesama Sumbar), dan Sheila (dari Jogja), kami merumuskan akan dibawa kemana kami semua ini pasca dinner. Sheila pengen ke Tokyo Tower, dan kami langsung setuju! Lalu tiba-tiba Danyel datang nanyain "Lu pada mau ke Shibuya gak?" Kami juga pengen dan setuju! Akhirnya perundingan oleh 4 manusia ini membuahkan hasil. Malam ini kami akan nongki ke Shibuya. Sekarang masalahnya satu, kami dibolehin pergi kemanapun asal tau jalan. Entah kenapa waktu itu kami sok tahu kalo bakal nemuin jalan menuju Shibuya. Lalu diumumkanlah ke seantero Nara (oiya grup kami namanya "Nara" --> karena kami bakal homestay bareng hostfam di prefektur Nara) kalo kita bakal main ke Shibuya. Siapa tau ada shooting Fast&Furious lanjutan disitu :D

Setelah balik ke hotel untuk mengambil apa yang ingin diambil, kami bertolak ke stasiun. Dari informasi yang kami dapat, kami harus ke stasiun Suidobashi. Berjalanlah anak-anak Nara dengan "dipimpin" oleh kami berempat yang sok tau. Tapi karena takut nyasar, setelah saling tolak-menolak, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kepada salah satu onee-san yang juga lagi jalan kaki searah dengan kami, dengan bahasa Jepang yang patah-patah dicampur bahasa Inggris yang dibuat sesederhana mungkin agar si onee-san mengerti.

Daaaann.. berkenalan plus ngobrol lah kami. Namanya Yuki-san. Umurnya 22 tahun dan dia baru pulang kerja. Rumahnya di kawasan Shibuya dan kami bakal pergi bareng dia ke Shibuya. Sampai di stasiun, dia yang mesanin tiket kereta kami pake mesin. Berangkatlah kami dengan tour guide dadakan yang superr baik dan ramaah :)



Sampai di Shibuyaa. Aku menanyakan padanya, kereta terakhir nanti jam berapa, dan stasiun apa saja yang harus kami lewati, dan tidak lupa bertukaran email :) Foto dibawah ini adalah Yuki-san yang sedang menuliskan rute stasiun yang harus kami lalui untuk pulang nanti beserta estimasi waktunya..


Foto terakhir bareng Yuki-san :')


Dan ini dia.. Shibuyaaaa.... :D 

Apa yang kami lakukan disini? Jalan kesana-sini, masuk mal sana sini, foto apapun yang bisa difoto, yang cowok-cowok ada yang minta foto bareng oneesan-oneesan cantik yang lagi lewat, layaknya turis (alay) lah pokoknya :D






Waktu jua yang memutuskan kebahagiaan. Kami harus segera balik ke hotel sebelum jadwal kereta berakhir. Dan kami baru nyadar kalo tadi kami ga nanya gimana cara make mesin tiket kereta ke Yuki-san, dan akhirnyaa.. kami kembali menggaet seorang tak dikenal untuk membantu memesankan tiket, seorang onee-san jugaa..



Dengan berpulangnya kami kembali ke hotel, maka selesailah petualangan pertama di negeri matahari terbit ini. Pulang ke hotel langsung tepar dan tidur? Tidak boleh. Itu namanya menyia-nyiakan rezeki yang telah diberikan ---> manfaatkan wifi gratis nan super-duper kencang buat ngasitau kabar dan update di medsos :P


ALHAMDULILLAH.

HARI PERTAMA YANG LUAR BIASAAA..!

(to be continued....)
_______________________________________________________________

"Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan..?"

Thursday, September 8, 2016

[REMINDER] Beristirahat dengan 'Tenang'



Hari ini aku lelah. Hari ini usahaku sia-sia. Hari ini waktuku terbuang percuma. Hari ini aku ditikam dari belakang. Hari ini aku menyedihkan. Hari ini aku kepayahan. Hari ini aku ketakutan. Hari ini aku kesakitan. Hari ini aku meluap akan kekesalan. Hari ini aku digagalkan. Hari ini aku disengsarakan. Hari ini aku diabaikan. Hari ini aku dicampakkan. Hari ini difitnahkan. Hari ini aku dilumer dan dimakan. Hari ini aku ingin dipulangkan.

Kubuang saja semuanya ke bak sampah, biar dikunyah oleh kucing kelaparan. Atau kutenggelamkan di lautan, biar lautan penuh sampah bertebaran. Atau ku bakar saja  di pekarangan, biar asapnya menyesakkan pernapasan.  Atau kumakan saja semuanya, biar sesaat kemudian aku dimakamkan.

Tapi kemudian, azan berkumandang. Dan aku teringat, Allah sudah lama ku"lupakan".

.....................

Dengan ke Maha Cinta-an-Nya terhadap hamba-Nya, Dia berlari dan memeluk mengatakan "Aku melihatmu sayang. Aku telah bersamamu dan bersama masalahmu."

Kemudian merangkul dan melanjutkan, "Ini semua sandiwara. Aku menciptakan kesengsaraan agar kau kapok dan tidak lagi ingin merasakannya. Jika hanya dengan sentilan fitnah saja kau sudah tumbang, bagaimana kau akan melawan neraka yang Kubuat?"

Kesadaranku mendaki perlahan. Dia meneruskan, "Aku tidak ingin kau mencicipinya, kau tidak akan tahan. Biarlah para pembangkang saja yang merasakannya. Kau jangan. Oleh karena itu Aku beri kau pertanda-pertanda. Tapi mengapa kau tutup mata dan telinga? Disaat sepersekian detik lagi waktumu akan binasa?"

Melalui lima pertemuan wajib dalam sehari, melalui keromantisan di setiap sepertiga malam terakhir, melalui setiap bibir yang berzikir, Dia menerima segala pengharapan dan keluh kesah. Kecuali dari si sombong yang dikata sanggup mengatasi semua.

.......................

"Dunia ini sudah cukup melelahkan. Jangan kau sambung jua kelelahan, ketakutan, dan kesakitan itu di pekuburan. Tidakkah kau ingin suatu saat nanti bisa beristirahat dengan tenang tanpa siksaan?".

Sunday, September 4, 2016

[DAILY LIFE] Kamu Tidak Akan Pernah Tahu


Karena kamu tidak akan pernah tahu,

tidak akan pernah tahu bagaimana letihnya, tidak akan pernah tahu bagaimana takutnya, tidak akan pernah tahu bagaimana sakitnya, tidak akan pernah tahu alasan dibalik semua sikapnya, tidak akan pernah tahu doa-doa yang terselip disetiap cemasnya, tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi dirinya,

yang 'sesungguhnya'..

_________________________

kecuali jika,

kamu "mengemis" pada Tuhan agar ruh-mu bisa masuk kedalam dirinya.

Itupun jika kamu mau.

_________________________

Tapi aku yakin kamu tidak sudi berepot-repot untuk itu.

Karena kamu lebih suka menelan mentah-mentah segala yang kamu lihat.