Wednesday, February 8, 2017

[SKIP] FIRST POST IN 2017




Setelah hibernasi dan blog ini membeku untuk beberapa waktu lamanya, akhirnya yha! Memang semuanya menjadi wacana --> mengerjakan sekian hal sekaligus secara bersamaan, oleh orang dengan tendensi procrastinator >75% like me? Pretty impossible huft.

Postingan pertama 2017. Tak apa-apa lah yha. Agak personal sedikit. Udah lama juga ga bikin postingan personal kayak SMA dulu ckck.


Best 3 things I've done during my hibernation:

1. SKRIPSI

unstoppable Alhamdulillah! Akhirnya berujung jua. Hanya karena satu dari lima orang, takutnya-malasnya-nundanundanya-palpitasinya jadi luar biasa. Tapi efek tidak langsung pelajaran hidupnya juga luar biasa. 

Udah lah yha. Ga usah dijelasin lebih panjang dari ini. Udah cukup. Enough.


2. KETEMU SUNGJAE 

H-4 sidang skripsi! Ahahahahha. Allah tau banget ada yang lagi hyper-insecure, jadinya Dia datangkan sebuah alasan supaya hati anak ini lebih bahagia sedikit. Sedikit? Boong banget. Bahagianya banyak. Kalo aja gak H-4, mungkin udah diturutin sampai ke Sikuai-Sawahlunto-dll selama masih di Sumbar wkwkwk.


3. PUNYA STELLER

Steller emang luar biasa. Rakyatnya sangat apresiatif. Gak segan-segan buat nge-like. Tapi buat di republish sama Stellernya langsung? Cukup sulit. Mereka sangat picky. Looks like only the stunning ones yang mereka republish

Tapi gapapa. Dari 8 postingan yang sudah terposting, 2 diantaranya di-republish Steller!! Ahahaahaha. Kok jadi sombong secara tidak langsung gini ya.

Kalo story yang kita bikin di republish, ntar dia kirim email 'Congratulation' gitu. Trus kalo viewer story kita udah superb banyak, juga bakal di email. Kayak gini:





Kurang satu. Harusnya dikasih duit juga ckck.


........................


Jadi gitu. Blog ini akan tetap beroperasi seperti sedia kala. Steller juga demikian. Tumblr pun begitu. Yha. Di tiga tempat itu. Tapi sepertinya yang tumblr agak malas. Saat ini sih gitu. 


Dah yha. Semoga gak bosan main-main kesini :)



This entry was posted in

Tuesday, December 6, 2016

[FRIENDS] 2nd: Hadiah Ulang Tahun untuk Nadya



“Hoi!”
                Bang Egi seperti biasa, muncul tiba-tiba dengan segelas besar lemon tea sambil menjitak (agak) keras kepalaku. Aku tak menggubris. Anak itu sudah biasa diabaikan.

                “Lagi bikin apa?”

                Aku malas menjawab. “Coba tengok aku lagi ngetik apa.”

                “Hmmm. Udah beres rumus sampelnya?”

                “Aku jadinya total sampling, bang!” Kataku sambil memelas. Kemudian baru saja teringat kalau aku belum mengabarinya sama sekali mengenai ini.

                “Demi apa, dek??? Lima ratus loh itu! Dikali dua jadi seribu! Mampus lah kamu, dek!”

                Aku menampuk kepalanya dengan bantal sofa, sangat keras. Bang Egi hanya tertawa, iya tertawa. Sangat keras. Terdengar sangat puas. Aku mendengus.

                “Emang ga boleh pake rumus, ya?”

                “Demi keamanan seisi bumi dan langit lebih baik aku total sampling bang. Macam abang lupa aja penguji aku siapa.”

                Bang Egi menyeruput lemon tea nya hingga tinggal separuh gelas.

                “Padahal aku udah banyak tanya sama kawan aku bang. Udah ngerecokin dia sering-sering buat nanyain rumus ini itu.”

                “Sama kawanmu yang kuliah statistik itu?”

                Aku mengangguk. Menekan tanda silang diujung kanan layar. Menampilkan wallpaper dengan foto aktor yang menurut mataku parasnya terindah sedunia, Kento Yamazaki. Baiklah. Aku terbuai. Terbuai wajahnya yang mashaAllah tampan. Pandanganku jatuh sekilas di kalender. Dan kemudian terhening.

                “BANG! Mampuslah aku! Kawan aku ni besok ulang tahun! Dua jam lagi udah ganti hari bang! Aku belum siapin apa-apa!”

                Ternyata aku lupa. Aku lupa bahwa bang Egi sedang khusyuk bersama lemon tea-nya saat aku menepuk pundaknya keras dan ia terjungkal ke depan. Tumpahlah sekian persen isi lemon tea tersebut ke lantai. Mampus. Bang Egi si maniak lemon tea bakal geram besar sama aku.

                “He-he-he-he. Maaf lah bang! Aku kaget beneran tadi. Coba kasih aku inspirasi mau ngapain bang. Nulis ‘selamat ulang tahuunn!! Semoga gini semoga gitu’ udah pernah bang. Nulis yang puitis-puitis gitu juga dah pernah bang. Aku mau edit foto terus di collage cantik-cantik, tapi kok rasanya kurang greget gitu ya bang. Karena menurut aku hadiah terbaik itu tetap tulisan dari hati bang!”

                Bang Egi menatapku, geleng-geleng, sambil melap serakan lemon tea di tempat kejadian perkara yang aku ciptakan. “Coba kamu bikin cerpen tentang dia. Daripada bikin cerpen isinya baper mulu pengen nikah.”

                “Cerpen? Kayak mana lah ceritanya itu bang? Aku bikin dia jadi pemeran utamanya? Nanti ujung-ujungnya cinta-cintaan juga bang!”

                “Dasar kepala jones! . Bikin kek tentang pertemuan dulu kalian kayak apa, apa pengaruh terbesar yang dia ciptakan sehingga kamu jadi alay kayak gini, atau kebaikan-kebaikan dia yang gak mungkin kamu lupain, atau apa kek gitu. Makanya kamu itu sekali-kali belajar dari keromantisan abang sama kak Dina.”

                Aku memeletkan lidah kearahnya. “Dia teman SMA aku bang. Tiga tahun aku sekelas sama dia. Pendiam gitu dia awalnya bang, eh ternyata aku salah kira. Ternyata dia bisa banyak ngomong juga. Oh iya, aku ingat! Dulu waktu kami kelas dua, ada acara kelas di lapangan, dia duduk paling belakang dekat pohon-pohon. Tiba-tiba ada ulat besar hinggap di jilbabnya bang!”

                “Kamu tu kayaknya gak ada memori buat nginget yang bagusan dikit ya! Yang diinget yang jelek mulu.”

                “Abis nyeremin banget bang. Ulatnya gede parah, keliatan berat gitu. Hiii.” Aku bergidik sendiri. Aku melanjutkan.

                “Terus apa lagi ya? Banyak bang! Kami sering cerita-cerita. Dia itu tipikal yang suka di bully gitu tapi dia baik hati macam malaikat, siang malam sama abang. Oh iya! Waktu kami liqoq terakhir, dia juga jatuh dari ojek bang! Kakinya kalau gak salah memar. Terkilir apa ndak ya? Lupa aku. Pokoknya kami panik banget waktu itu bang.”

                “O iya? Terus langsung dibawa ke RS waktu itu?”

                “Nggak bang. Karna rasanya waktu itu yang nampak memarnya aja. Jadi diobatin sementara sama kakak mentor kami. Terus abis itu lanjut ke Malibo Anai. Kami tukaran kado. Waktu itu aku nyiapin kado boneka Winnie The Pooh karena berharap yang dapat Nadya ini bang. Dia gilak kali sama Winnie The Pooh”

                Bang Egi mendengar dengan seksama  --Kejadian langka dengan prevalensi 5%-- “Terus gimana? Jadi dia yang dapat?”

                “Nah itulah bang! Ndak rezeki dia sayangnya. Winnie The Pooh-nya jatuh ke tangan kakak mentor aku.”

                “Hmm. Kasian ya.”

                “Padahal dia lulus loh bang di FK Unand. Tapi dia ambil di STIS jadinya. Tau ndak bang, senang kali aku bang waktu tau dia lulus FK Unand tu. Dapat kawan aku. Eh, kiranya ndak jadi. Sedih kali aku bang.”

                “Tapi kalau dia ndak di STIS, ndak bisa dia bantuin skripsi kamu kan? Ambil hikmahnya aja.”

                “Iya juga ya bang.”

                “Kalau dia di FK Unand, kamu ga bakal tau rasanya kangen sama teman itu seperti apa. Terkadang jarak bisa membuat kita paham apakah kita memang sedekat yang selama ini kita kira. Jarak bisa buat kita paham apakah setelah berpisah ini, dia akan menjadi teman yang saat jika kalian bertemu kembali, menjadi seseorang yang kamu tidak tahu harus mengobrol apa, bikin kamu gugup serasa bertemu teman baru, atau justru kamu akan berbicara seperti dulu yang biasa kalian lakukan. Yaah, kamu pasti ngerti maksud abang, kan?”

                “Tumben isi otak abang agak lumayan hari ini.” Aku memujinya, setengah hati. Separuh membenarkan. Separuh berjaga-jaga kalau narsisnya jadi akut.

                Bang Egi hanya diam. Waw, tidak sesuai ekspektasi. Baiklah, aku lanjutkan.

“Aku ketemu dia tahun lalu bang. Waktu aku tahun tiga, kalau gak salah. Kami masih ngobrol panjang lebar seperti biasanya bang! Malahan rasanya lebih heboh dari sebelum-sebelumnya. Kami pergi makan es krim mahal, pergi karaoke, kemana lagi ya? Banyak lah. Bahkan kami saling curhat-curhatan tentang akang imam masa depan! Dia ceritain kawan kampusnya. Aku juga ceritain cemceman aku. Benar juga kata abang, perasaan bertemu teman dekat yang udah lama gak ketemu itu luar biasa bahagianya bang. Duh, kangen aku jadinya sama dia!”

                “Atau kalau kamu ndak bisa bikin cerpen, coba kirim voice note. Nyanyi selamat ulang tahun. Atau telpon dia.”

                “Aku juga kepikiran itu tadi bang, tapi aku itu ada tendensi low self esteem gitu. Malu aku dengar suara sendiri di rekaman.”

                Bang Egi tertawa mengejek. “Cempreng sih. Wajar malu.”

                Aku menjitak kepalanya tanpa ragu-ragu. Bukankah hubungan antar saudara itu memang penuh akan kekerasan fisik?

                “Kamu mau tau apa hadiah yang paling dahsyat?” Tiba-tiba bang Egi terlihat lebih serius.

                “Apa emangnya?”

                “Doa. Diam-diam. Hanya kamu dan Dia yang tahu isi doamu untuk dia. Kalau mau lebih mustajab, di sepertiga malam terakhir di tanggal ulang tahun dia. Kamu doakan apapun yang terbaik yang kamu harapkan untuk dia. Karena wishes-wishes yang 'tertuliskan' kadang hanya serangkaian kata formalitas. Belum pasti sepenuhnya dari hati.”

                Bang Egi berkata bijak.  Ini kejadian langka. Aku bertepuk tangan demi mengapresiasinya.

                “Itu yang abang lakukan tiap kak Dina ulang tahun ya? Yang abang bilang romantis itu?”

                “Oh, jelas!” Bang Egi mengangguk mantap, pongah.

                “Okelah. Setengah jam lagi udah jam 00.00. Aku ke kamar dulu bang, siapa tau dapat inspirasi hadiah lain, selain ‘doa romantis di sepertiga malam terakhir di hari ulang tahun dia’ ala abang itu.”

                “Nanti kalau ke suami kamu hadiahnya harus beribu kali lebih romantis ya dek!”


                Aku mendecak bangga. “Oh, jelas! Sejuta kali lebih romantis dari yang abang lakukan ke kak Dina!”


_____________________________________________________________________________


Ps :
to one of the best people in my years, Nadya El Khair.
Happy 21 y.o! (Dec 6th 2016)
Doanya rahasia :D

Wednesday, November 9, 2016

[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 5) UPDATED FIX


karena kesalahan teknis yang menyebalkan, postingan ini sempat diuji coba publish beberapa kali, jadii.. mohon maaf atas ketidaknyamanannya :"


In case kamu belum baca part sebelumnya, bisa lihat disini :)
Part 1 --> here
Part 2 --> here
Part 3 --> here
Part 4 --> here

..............................................................................................................
..............................................................................................................


21. Decisions are being made right now. The question is: Are you making them for yourself, or are you letting others make them for you?

1. Me :

If it's kind of decision regarding me, why should I let others making them for me?
I mean, I'll let others giving me some considerations, giving me any advices, but in the end, it'll be me to choose one, rite? 


2. Shelby M. Istiqomah :

We are not living alone btw, we all live in a society. No matter what you do, of course it will affect other people. So,when you make a decision, you should think of others as well. It doesn't mean someone else taking the decisions for you. You always make your own decision, even if you ask somebody to make it, then the decision is still taken by you. It's just that you have to think of others or asking other people opinion, but the decision still made by you.


3. Nadya El Khair :

(Updated soon)


4. Puspita Alwi :

Kalau keputusannya terkait diri sendiri biasanya gue akan mikir sendiri dulu, trus beberapa alternative yang terpikirkan coba ditanya ke orang-orang terdekat untuk bisa ngasih pertimbangan. Tapi pada akhirnya balik lagi yang tau diri kita ya kita,  dan keputusan harus kita yang ambil supaya nggak nyesel dan nyalahin orang lain kalau ternyata keputusan yang diambil salah. Tapi kalau keputusannya terkait orang banyak bisanya gue akan menampung dulu pendapat dari orang-orang dan memusyawarahkan keputusan yang diambil untuk kepentingan bersama.


5. Dhayika Anintia Besari :

Sejatinya setiap keputusan yang dibuat memiliki tanggung jawab bagi si pembuat keputusan. Jadi kenapa harus orang lain memutuskan segala sesuatu, terlebih hal tersebut terkait dengan diri kita sendiri. Toh dalam prosesnya hanya kita yang menjalani, kita pula yang bertanggung jawab atas segala konsekuensi. 

Hanya, mengapa kita tidak terbuka untuk menerima saran dari orang lain? Kadang saran dari orang sekitar justru lebih dapat menguatkan kita dalam memutuskan sesuatu. Sekarang tinggal pribadi kita dalam memilah mana saran yang akan kita pakai sebagai acuan dalam mengambil keputusan dan mana saran yang tidak kita ambil. 


NB : keputusan paling akhir harus selalu berasal dari diri sendiri.


6. Oktarina N. Anjas :

I tend to make a decision by myself after asking opinions from many people or read somewhere.


7. Quarto Nanda Alfikri :

Keputusan tersebut untuk kebaikan bersama dan sebisa mungkin tidak hanya mementingkan diri sendiri. Adapun orang lain yang mengambil keputusan tersebut untuk kita, kita pun harus mempertimbangkannya karena mana tahu orang tersebut memilki pengalaman lebih akan keputusan yang dia berikan.



8. Rikardi Santosa :

Jujur, lebih sering membiarkan orang lain memutuskannya. Tapi tidak menutup kemungkinan juga saya membuat keputusan sendiri. Mungkin untuk keputusan-keputusan yang sifatnya general dan menyangkut khalayak ramai, saya lebih memilih orang lain memutuskannya. Alasannya beragam, mungkin karena takut atau kurang percaya diri salah satunya. Selagi menurut saya apa yang diputuskannya tersebut masih bisa saya terima, yaa no problem lah.


9. Anonim :

Aku biasanya ambil keputusan kadang sendiri, kadang pendapat dari orang.

..............................................................................................................
..............................................................................................................


22. Can there be happiness without sadness?

1. Me :

Sesuatu itu ada karena ketidakadaan dari sesuatu. Aku pernah baca: Hitam itu tidak ada. Hitam adalah ketiadaan dari warna. Gelap itu tidak ada. Gelap adalah ketiadaan dari cahaya. Kesedihan itu tidak ada. Kesedihan adalah ketiadaan dari bahagia.

Apakah bisa ada bahagia tanpa kesedihan? Guess my answer!

Bahagia 'tidak bergantung' pada keberadaan kesedihan.
Tapi kesedihan 'bergantung' pada keberadaan kebahagiaan.


(I hope you got my point).


2. Shelby M. Istiqomah :

Well I think happiness and sadness have correlation but sadness is not a precursor or necessity for experiencing happiness. One could be happy all the time without feeling sad at first. But, you can value happiness more when you already know how unpleasant it is to be unhappy, as actually sad is just another word for lacking of happiness.


3. Nadya El Khair  :

(Updated soon)


4. Puspita Alwi  :

Menurut gue nggak bisa. Hidup adalah rangkaian cerita, dan cerita itu nggak selalu bahagia.  Sedih dan bahagia adalah dua hal yang bersisian. Kalau kita tak pernah paham arti kesedihan bagaimana kita bisa paham arti kebahagiaan. Keduanya membangun emosi di dalam diri kita. Intinya hidup ini dinamis, dan kedinamisannya yang membuat kita mengenal berbagai emosi. Analogi lainnya adalah kayak lo mengenal orang, kalau lo nggak pernah ketemu orang jahat, gimana lo bisa tau ada orang baik. Mungkin lo akan mikir semua orang sama aja, itu sikap standar orang, dan nggak ada yang spesial dari itu. Begitu juga dengan sedih dan bahagia. Melalui kesedihan kita jadi mengenal arti kebahagiaan ketika kesedihan itu pergi. Mungkin kalau minat bisa baca ini juga : klik disini 


5. Dhayika Anintia Besari  :

Tidak.

Bagaimana kita tahu rasa bahagia jika tidak ada pembatas antara kesedihan dan kebahagiaan?


6. Oktarina N. Anjas :

I think happiness and sadness balance each other. That there's no happiness if that not compared with sadness. Same with there's no light when there isn't dark. How could you know you're happy when you never feel sad? 


7. Quarto Nanda Alfikri :

Jika kita tak pernah merasakan kesedihan bagaimana bisa kita tahu akan arti sebuah kebahagiaan? Kebahagiaan dan kesedihan sesuatu adalah yang tak dapat dipisah, mereka ada untuk melengkapi satu sama lain.



8. Rikardi Santosa :

Saya rasa tidak. Hidup menurut saya terus bergulir. Seseorang tidak akan selamanya berada di fase sedih, mungkin panutan analoginya ke surat Al-Insyirah: "bersama kesulitan ada kemudahan".

Lagipula kalo kesedihan itu tidak ada dimuka bumi ini, bagaimana cara kita menetapkan indikator kebahagiaan tersebut? 


Mungkin sama seperti kutipan di film spongebob "bersih tidak akan bersih tanpa kotor"


9. Anonim :

 Tidak, karena kita ga bakal tau rasanya bahagia kalau ga pernah sedih.

..............................................................................................................
..............................................................................................................



23. Do you say ‘yes’ too often when you really want to say ‘no’? Why?

1. Me :

Aku rasa ini terbalik. I said no too often when I wanted to say yes.

Kamu kenapa?
Nggak. Nggak papa kok.

Kamu sakit ya?
Nggak juga. Pusing sedikit aja.

Kamu marah ya?
Nggak kok. Biasalah itu mah.

Aku bawa bekal. Kamu mau nyicip? (by: orang yang baru dikenal) 
Nggak. Nggak papa. Lanjut aja.

Kamu suka ya sama dia?
Nggak kok. Nggak.

*eh?


2. Shelby M. Istiqomah :

If this question correlate to when people asking for help, especially at work, it's a total Yes. I was once a "Yes man" person, or...still. It seems very important for me to please everyone, to the point that I would feel resentfull and stressed because of it. I was afraid that everytime I said no, I would disappoint someone, make them angry, hurt their feelings or appear unkind. But now I've learnt a little bit that if my life depending on other's people approval, I will never feel free and truly happy. When we were child, we believe that saying no would be impolite, but we are adult now, we should now when we should say yes or no.


3. Nadya El Khair :

(Updated soon)


4. Puspita Alwi :

Hmm cukup sering. Biasanya ini berlaku buat hal-hal yang gue rasa menjadi tanggung jawab gue. Even kalau lagi lelah, gue akan susah untuk bilang nggak. Kenapa? Ya karena gue ngerasa pada awalnya gue udah memilih pilihan itu, dan at least gue harus usaha yang terbaik buat pilihan yang gue ambil. Salah satunya mungkin tanggung jawab di organisasi


5. Dhayika Anintia Besari :

 Terkadang iya. Misal, disaat saya harus menjaga perasaan seseorang.


6. Oktarina N. Anjas :

Since i am a bit reluctant and hot headed, i think i seldom say yes when i want to say no. I just straightly tell no, or silent.


7. Quarto Nanda Alfikri  :

Ya untuk ajakan/tawaran/peluang dalam mengerjakan sesuatu. Takut keputusan "tidak" yang ingin dikatakan bukanlah pilihan terbaik atau hanya diselimuti oleh rasa malas di saat itu


8. Rikardi Santosa :

Terkadang. Ada berbagai macam alasan. Contohnya kayak semacam "manenggang urang", lebih baik dan lebih aman berkata "ya" daripada tidak. ← play save aja


9. Anonim :

Seriiiing, aku orangnya ga enakan. Kalau misalnya bohong atau agak sedikit terpaksa, gapapalah demi bantuin orang.

..............................................................................................................
..............................................................................................................


24. Is it more important to love or be loved?

1. Me :

To love.
(Padahal sebenarnya pengen banget bikin be loved, wkwk).

To love itu kata kerja aktif. Be loved itu kata kerja pasif. To love itu usaha. Be loved itu hasil. Untuk mendapatkan sesuatu, bukankah kita harus mengusahakan yang terbaik lebih dulu? Misalnya, ketika kamu ingin dicintai oleh-Nya, kemudian Dia menyuruh para malaikat untuk mencintaimu, kemudian malaikat menyuruh penduduk bumi juga untuk mencintaimu, bukankah kamu harus mencintai-Nya lebih dulu? 



2. Shelby M. Istiqomah :

"Ada dua hal didunia ini. Menikahi orang yang dicintai, atau mencintai orang yang menikahi. Yang pertama hanyalah kemungkinan. Sedangkan yang kedua adalah kewajiban." -- Ustadz Salim A Fillah.

So, it's clear that TO LOVE is more important because "mencintai adalah kewajiban, sedangkan dicintai hanyalah kemungkinan", as you can't control how anyone else feels, it is more important to put your own energy in to loving. You have to feel what it is like to love someone before you can understand what an honor it is to be loved.


3. Nadya El Khair :

(Updated soon)


4. Puspita Alwi :

Dua-duanya penting. Kenapa? Karena itu kebutuhan dasar manusia. Kalau liat hierarchy of needsnya Maslow, kebutuhan untuk dicintai dan mencintai ada di dalamnya, dan manusia nggak akan bisa mencapai aktualisasi dirinya kalau nggak memiliki itu. Tapi kalau harus milih banget gue akan milih mencintai, karena pada dasarnya gue percaya bahwa bagaimana kita bersikap ke orang lain akan membuat orang itu juga bersikap yang sama kepada kita. Ini mencintai dalam konteks umum yaa. Sesuatu yang dari hati pasti akan sampai ke hati. 


5. Dhayika Anintia Besari :

Dicintai
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Lalu MENCINTAI.


6. Oktarina N. Anjas :

It's at the same degree.

It depend more on how much you love them and how much you appreciated the feeling of love. 


7. Quarto Nanda Alfikri :

Pernah dengar tapi ntah dimana dan dari siapa, "jika kau ingin dicintai maka cobalah untuk mencintai terlebih dahulu". Kalo dipikir-pikir kalimatnya ada benernya dan saya setuju akan hal tersebut.



8. Rikardi Santosa :

Hahaha hard question. Terimakasih atas pertanyaannya. Tapi sebagai manusia terhadap manusia maunya be loved. Hehehe. Wajarlah, capek juga kalo cuma mencintai aja (aseek).... Tapi kalo ke Tuhan, let's love Him with your whole-hearted.


9. Anonim :

Mencintai, aku ga suka dicintaiii.

..............................................................................................................
..............................................................................................................


25. If your entire life was a movie, what title would best fit?

1. Me :

Si Pengejar Ikemen.

This is My Own Life. Why Are You So Eager To Watch It?

Just mind your own.


2. Shelby M. Istiqomah :

I think it would be Para Pencari Ridho Allah. This movie will be a bit like sinetron 'Para Pencari Tuhan', just a movie of a normal daily life but the differences are the main actor is Kalila and the story is not mainly about her love life but how she found Allah and try to get Allah's bless in every things she do.


3. Nadya El Khair  :

(Updated soon).


4. Puspita Alwi :

Hmmm apa ya? Anaknya nggak kreatip soal kayak gini. Dream Chaser kali ya. Kenapa? Karena anaknya suka dan percaya aja sama yang namanya mimpi.


5. Dhayika Anintia Besari :

Dora and Explorer.


6. Oktarina N. Anjas :

My Journey.


7. Quarto Nanda Alfikri :

Who am I??



8. Rikardi Santosa :

Tidak ada. In fact life is not as simple as in movie or drama. Hidup punya cerita sendiri, alur sendiri, dan tidak sesederhana apa yang ada.  


Lagi pula film yang sering saya tonton itu film action, masak iya hidup saya dipenuhi tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan. Ampun mas mbak saya bukanlah orang kriminal.


9. Anonim :

Ganteng Ganteng Serigala.


...........................................................................................................
...........................................................................................................


If any of you want to submit your asnwers, immediately share yours in comment box down below :))