Sunday, August 7, 2016

[REMINDER] Jadi, Maunya Apa?!



Kalau berpikir tentang impian-impian di dunia…
Bukan main semangatnya! Selalu cari-cari quotes yang mendorong agar selalu berusaha, do your best!, pantang menyerah, tidak ada yang mustahil di dunia ini! Menciptakan planning-planning masa depan yang tak terhitung banyaknya. Di umur segini wisuda. Umur segini dapat kerja. Umur segini lanjut sekolah lagi. Umur segini menikah. Umur segini punya anak. Umur segini pergi umrah sekeluarga. Umur segini …… ~keinginan manusia itu tak terhingga, kan?

Tapi,

kalau berpikir tentang impian-impian di akhirat….
Ingin masuk surga.. lalu menguntai kata-kata, “Allah, aku tak pantas di surga-Mu, namun aku juga tak sanggup bertahan di neraka-Mu walau sekejap..”

Jadi, maunya apa?

Meminta belas kasihan Allah tanpa mau berubah untuk kebaikan sedikitpun?
Kalimat ini sebenarnya bagus, tapi kalo cuma sekedar kata-kata, tanpa diikuti usaha, yaah ga heran sih jika sedetik kemudian rayuan nafsu datang, langsung dituruti tanpa pikir panjang.
Padahal tadi udah mengemis “aku tak sanggup bertahan di neraka-Mu..”
…………
Kalau memang merasa tak sanggup di neraka, ya janganlah lakukan sesuatu yang akan menjerumuskan ke neraka!
Kalau merasa tak pantas di surga, kenapa tidak mencoba berusaha memantaskan diri? Kenapa ga coba beribadah dan beramal baik lebih banyak?
Tak usahlah pikirkan hasilnya, Allah itu memandang usaha, bukan hasil! Tak usahlah buru-buru berputus asa, “ah dosaku sudah terlanjur banyak. beribadah sebanyak apapun kayaknya ga bakal bisa mengimbangi dosaku.” 
Dia tidak tahu, atau lupa, atau pura-pura lupa, padahal ampunan dari Allah itu tak berbatas!  Dia tidak tahu, atau lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Allah adalah Maha atas segala sesuatu!
Segera atau sekarang juga buat momentum! Kalau hati sudah paham bahwa kematian itu bisa datang kapan saja, maka menunda bertaubat/istighfar sedetik saja rasanya takut setengah mati!

Saturday, August 6, 2016

[REMINDER] Kenapa Masih Memburu Dosa?



Mengapa orang masih suka berbuat dosa, kejahatan, kecurangan, menyakiti, enggan mengikuti perintah-Nya? Kenapa?
Mungkin karena mereka tidak tahu kapan mereka akan mati (atau justru mereka lupa apa itu mati?). Coba saja kalau setiap orang tahu kapan dia akan pergi. Pasti sudah pontang-panting mereka beribadah ini itu, berbuat baik kesana kemari, dan sebagainya.
ATAU justru sebaliknya. Bagi mereka yg tahu bahwa mereka berumur panjang, maka mereka akan membagi waktu hidupnya menjadi 2 porsi : 1 porsi untuk berfoya-foya, 1 porsi untuk bertaubat.
WAH ternyata mengetahui kapan kita mati itu bukan “solusi” terbaik.
Lalu apa lagi? Hm, coba saja kalau setiap orang diberi kemampuan untuk melihat secara nyata bagaimana neraka dan siksaan akhirat itu. Hm, rasanya manusia normal tidak ada yg ingin disiksa. Karena (mungkin) yg ada di pikiran mereka adalah mati dengan tenang di pelukan orang terkasih (bisa jadi someone haraam?) seperti cerita di roman remaja, lalu berangan langsung menuju surga. Mereka ber-positive thinking saja mereka akan mendapat kenikmatan akhirat sementara ibadah pun tak secuil dikerjakannya, maksiat sudah seperti bernapas, tak henti2 dilakukannya.
Memangnya Allah itu buta?
TAPI mungkin ini juga bukan “solusi” terbaik. Mereka sudah tahu kapan mereka akan mati, mereka juga sudah melihat secara nyata bagaimana siksaan akhirat itu. Tapi mereka masih tetap berbuat zhalim?
Oke, aku akan berhenti menulis sampai disini. Kenapa? 
Karena aku masih belum menemukan solusi selanjutnya. Atau aku tidak tahu lagi harus menyebutnya bagaimana. Masak aku harus menyebutnya “orang yg mampu menghindari Allah, atau orang yang tidak takut sama sekali dengan Allah, Pemilik Seluruh alam semesta beserta isinya?”

[REMINDER] Pesan Dari Langit



Hidayah itu diminta, dijemput, dan diusahakan, bukan ‘ditunggu' !

Kalau ‘ingin’ atau 'diberi kesempatan untuk’ berubah menjadi lebih baik, do it immediately! Jangan tunggu 'keinginan’ atau 'kesempatan’ itu menjadi -MASA LALU-, karena masa lalu tidak akan pernah kembali. Bcoz in matter of time, once you take a step, there’s no turning back, bcoz you already have no land to step behind!

[DAILY LIFE] Coba Saja !


Kamu pasti pernah merasa.....
- you wanna be a _____(anyone you want to be)
- you wanna go to ____(anywhere you want or anywhere you belong)
- you wanna have _____(anything you wanna have)
- you wanna reach _____(anything you wanna reach)

dan se-incalculable keinginan-keinginan lainnya. Walaupun sebesar alam semesta, atau sekecil biji zarrah. 

Remember : Allah Maha Besar ! 

Then what you shall do next? It’s not enough to just dreaming !

1. Berdoa semoga diberi jalan.
2. Kalau sudah ada jalan, berusaha semaksimal mungkin.
3. Kalau jalan pertama macet, berusaha menerobos macet atau berdoa semoga diberi jalan kedua.
4. Kalau sudah menemukan jalan kedua, berusaha semaksimal mungkin.
5. Kalau jalan kedua longsor, buat jembatan agar mampu menyeberangi jalan atau terus cari jalan-jalan lainnya.
6. Berusaha semaksimal mungkin, semati-mati angin, sehabis-habis darah.
7. Bersyukur kalau bisa sampai di “tujuan” yang diinginkan.
8. Bersyukur kalau sampai di “tujuan” yang lain.
9. Karena jika hasil tak sesuai impian, setidaknya : kamu tidak perlu dan tidak akan menyesal karena kamu sudah mencoba! You’ve tried! 
10. Karena jika hasil tak sesuai impian, maka ingat “Allah knows best”. Hasil/tujuan yang kamu impikan bisa jadi hanya akan menjadi parasit bagimu, dan Allah (tentu saja) lebih tahu akan itu dibanding dirimu. 
11. Bersyukur (sekali lagi atau sebanyak apapun yang kamu mau)
12. Ajarkan dan semangati orang-orang disekitarmu untuk mencapai keinginannya!

_____________________________________________________________

NP : Selama keinginan itu adalah keinginan-keinginan yang baik dan tidak berunsur dosa.

e.g : keinginan untuk mendapatkan hatinya lalu berpacaran dengannya


use your logic, heart, and iman as well!

[DAILY LIFE] When You Admire Someone



I shouldn’t be just amazed by “that people”. I should (instead) start doing abt what “that people” did.

.........................................

I should (instead) start doing abt what - dr. M. Fadil, Sp.JP(K), dr. Mefri Yanni, Sp.JP(K), dr. Kino, Sp.JP - did

[REMINDER] Aku Harus Belajar - Aku Harus Percaya



Aku harus belajar untuk memahami bahwa orang lain itu adalah manusia, yang notabenenya tidak sempurna dan tidak akan pernah.
___________________________________________________________
 Aku harus belajar bahwa jika hari ini hariku sangat buruk maka aku tidak ber hak melampiaskannya pada orang lain.
Aku harus belajar bahwa jika hari ini hariku sangat buruk, maka aku tidak berhak membuat hari orang lain juga menjadi buruk.
 Aku harus belajar bahwa jika hari ini hariku sangat buruk, maka aku harus percaya bahwa hari buruk itu memang harus dan perlu terjadi.
 Aku harus percaya bahwa Allah tidak pernah bercanda saat membuat skenario hidup manusia.
 Aku harus percaya bahwa daun yang menguning di pepohonan akan jatuhsesuai kehendak Allah.
Kalau akhirnya daun itu jatuh karena terpaan badai, maka memang itulah akhir kehidupan dari daun itu. Kalau akhirnya daun itu harus jatuh karna senggolan tangan manusia, maka emang itulah takdirnya.
Manusia adalah sebaik baik ciptaan Allah. Dan Allah adalah sebaik baik pembuat skenario.
Jadi jika suatu hari datang hari yang sangat buruk di hidupku,..
Aku harus sadar, kepada siapa seharusnya aku bercerita. Kepada siapa harusnya aku bertanya penyelesaian masalah.

[REMINDER] Karena Manusia Sering Lupa untuk Bersyukur



“…… Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.”(QS. Yunus : 60)
Sudah sangat sering bukan, kita membaca atau mendengar teori tentang bersyukur? Coba diingat lagi, bahkan sejak usia kita belum mencapai separuh dasawarsa pun orang tua kita sudah mulai menyelipkan ajaran untuk bersyukur baik secara implisit maupun eksplisit.
“Kakak makannya dihabisin ya, nanti nasinya nangis lho.” 
Atau ketika berhenti di lampu merah perempatan jalan. “Kasian ya kak, mereka gak punya mama-papa, gak ada yang beliin mereka mainan baru yang bagus-bagus kayak punya kakak.”
Lalu saat mulai masuk sekolah formal pun, guru-guru senantiasa mengajarkan anak muridnya akan banyak hal termasuk cara beryukur, yang meskipun pada umumnya materi yang diajarkan itu tidak benar-benar dipraktekkan dan hanya dihafal dalam kepala agar bisa lulus ujian, untuk kemudian dilupakan. Lalu sebagian orang tua dengan gamblangnya berkomentar, “maklum lah namanya juga anak kecil. Nanti juga kalau sudah besar bakal ngerti sendiri!”
Wahai diri kita yang selalu bergelimang kesalahan, syukur itu sungguh gampang di teori. Namun sangat sulit pada kenyataannya, bagi kita yang belum terbiasa. 
Coba pikir, pernahkah kita sekalipun tidak mengeluh ketika terik matahari menyirami bumi, “panas banget gak sih hari ini?”. Atau ketika hujan turun berbondong-bondong untuk kemudian memercik di aspal, “Kok hujan sih? Lebat banget pula!” sambil mendumel tentang rencana-rencana yang terpaksa harus diundur hingga hujan reda.
Padahal kalau saja kita mau mendalami Surat Cinta-Nya, kita akan mendapatkan bahwa sesungguhnya Allah adalah sebaik-baiknya Pemberi Rezeki, seperti yang tertera dalam QS. Ibrahim : 32-34, 
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
Segala sesuatu itu dimulai dari hal-hal kecil. Oleh karena itu mulailah dengan mencoba mensyukuri panas terik dan hujan lebat, yang senantiasa akan selalu menghampiri kita silih berganti. Coba bayangkan, jika dengan hujan lebat saja kita sudah mengeluh, lantas bagaimana cara kita mensyukuri dan mengambil makna akan cobaan yang lebih besar di masa depan nantinya? Bagaimana cara kita mengerti bahwa hujan lebat yang kita anggap perusak rencana itu adalah nikmat bagi orang lain diluar sana?