Monday, October 3, 2016

[PROJECT] Questions No One Ever Asks (Part 1) UPDATED




Ini adalah postingan pertama yang isinya melibatkan banyak orang and I'm sooo much excited abt this one :D

Jadi beberapa waktu yang lalu, I found something interesting on wattpad --> "50 Questions No One Ever Asks" made by fascinated. Pertanyaan sederhana tapi bikin mikir juga. Iseng-iseng nyari pertanyaan lain di google, tapi ga ketemu yang lebih menarik. Jadi, say thanks to fascinated sebagai latar belakang terbentuknya konten ini :)

Awalnya aku berpikir untuk menjawab semua pertanyaan ini sendirian, tapi entah kenapa sepertinya kurang seru. Ditambah dengan fakta bahwa beberapa pertanyaannya cukup challenging dan sepertinya orang dengan latar belakang berbeda akan memberi jawaban yang berbeda juga. Jadi beginilah hasilnya! Aku sudah merekrut 7 responden untuk ikut serta :)

1. Shelby M. Istiqomah (Telkomsel) --> visit her blog here
2. Nadya El Khair (STIS, 2013)
3. Puspita Alwi (Psikologi UI, 2013) --> visit her blog here
4. Dhayika Anintia Besari (FK UNAND, 2013)
5. Oktarina N. Anjas (FK UNAND, 2013) --> visit her blog here
6. Quarto Nanda Alfikri (T. Industri Univ. Bakri, 2013)
7. Rikardi Santosa (FK UNAND, 2013) --> visit his blog here

Here we go!!

..............................................................................................................
..............................................................................................................


1. Are you holding into something that you need to let go of?

1. Me :


Nope. 


2. Shelby M. Istiqomah :

Nope. Karena pada hakikatnya, semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah kan ya, bukan punya kita, even diri kita sendiri. Jadi kalo memang sesuatu itu harus dilepaskan, ya relakan. Apalagi kalau sesuatunya itu adalah "dunia". Makanya ada doa "Allahumaj'al dunyaaya fii yadiii.. Walaa taj'al dunyaaya fii qolbii.." -- "Ya Allah, tempatkanlah dunia ditanganku dan jangan Kau letakkan dunia dihatiku." Jadi dunia diletakkan ditangan supaya ia mudah untuk dilepaskan :)


3. Nadya El Khair :

Yes, my feeling. Perasaan pada seseorang yang sekarang belum waktunya. It's hard. Sometimes, masih sering kepo dan nge-stalk dia, padahal aku tau itu hanya mengotori hati. Dasar wanita emang sering kegeeran dan suka mengandai-ngandai, wkwkw.. Merasa seolah-olah dia juga nge-stalk kita. Padahal boro-boro stalk kita, kenal aja paling dia cuma tau nama doang. Nyeseeek yaa kalo ngebayanginnya. Makanya jangan dibayangin.. Tapi salah siapa? Siapa yang mulai?? Toh aku sendiri yang mulai wkwkw.. So I just wanna let go of this feeling and protect my heart. Kadang sebenernya “berhasil gak nge-stalk” gitu kalo lagi sibuk dll. Tapi kalo lagi futur-futurnya, udah mulai lagi tuh jari menari-nari diatas HP untuk tau aktivitas dia. Astaghfirullah.. :


4. Puspita Alwi :

Melepaskan atau bertahan memang masalah yang paling sering ada di kehidupan kita. Kalau gue sering mengasosiasikan hal ini dengan keinginan-keinginan gue. Gue sendiri masih bingung kapan sesuatu itu benar-benar harus dilepaskan. Kalau untuk saat ini gue lebih sering memilih untuk bertahan dan berjuang untuk apapun yang sedang gue hadapi. Gue termasuk tipe orang yang lebih memilih untuk mencoba dulu sampai batas maksimal dan mungkin sesekali gagal dari pada memutuskan untuk melepaskan di tengah-tengah. Hal ini berlaku untuk semua aspek di kehidupan gue, baik kuliah, organisasi, keluarga, dan lain-lain. Mungkin hal ini diperkuat karena gue udah belajar psikologi, khususnya positive psychology. Gue mulai terlatih untuk bisa melihat sisi positif dari apapun yang sedang gue hadapi sehingga gue jadi terdorong untuk usaha dulu semaksimal mungkin dan tidak berpikiran negatif, baik terhadap kemampuan gue maupun apa yang ada di luar diri gue. Prinsip gue sendiri sih, kenali dulu diri sendiri, sehingga bisa tau batas dan kemampuan yang dimiliki. Dengan begitu, ketika ada sesuatu yang gue inginkan, gue bisa ngukur seberapa possible ini untuk dipertahankan atau yaudah dilepasin aja/dilewatkan.


5. Dhayika Anintia Besari :

I have some comfort zone. Kenyamanan tersebut justru membuat hidup hanya stag di tempat saja. Kadang cukup takut untuk keluar dari rasa aman, mencoba hal baru, dan melangkah untuk mendapat hal yang lebih. Lalu bagaimana kalau gagal nantinya? Selalu itu yang membuat takut untuk terlepas dari segala zona nyaman. Hanya, apa hidup cuma sesederhana ini? Apakah kita cukup puas dengan apa yang kita dapatkan saat ini? 


6. Oktarina N. Anjas :

Yes.


7. Quarto Nanda Alfikri :

Iya.


8. Rikardi Santosa :

Yes, many of that. Being submissive too much to my desire is one of my very big trouble that still buried inside of me. Sometimes it makes me abandoning other things that should be done just only to fulfill my desire. For example: in the few days before test, I still watch movie on my laptop rather than studying, and abandoning the material that I should study. Another one is when I have to make and finish my skripsi soon, I just go out and hanging around with my friends and doing some wasting things. It seems like I am a person that easy to follow the ego very much. In a simple word what do it called? Lazy? Or Inconsistent? I am still confused. 


..............................................................................................................
..............................................................................................................


2. What is the difference between living and existing ?

1. Me :

Existing means you're there. That's it. Regardless of what role you have in the place you're in. Living means you're there and you both influence and being influenced by your surroundings. Surroundings needs you and so you are. Living makes you feel that you breath, you walk, you run, you do something for a reason. Living makes you feel that you're needed and you're loved.


2. Shelby M. Istiqomah :

Living: hidup. Existing: ada. Pernah nemu quote "All things that live exist. All things that exist may or may not be living." Semua yang hidup itu ada, tapi ga semua yang ada itu menikmati hidupnya. Got it?


3. Nadya El Khair  :

Menurut saya, living berarti wujudnya exist, but exist belum tentu wujudnya ada, namun dia dapat dirasakan keberadaannya maupun dikenang. Misalnya seperti seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia tapi dia dikatakan masih exist. Kenapa? Karena karya-karya yang dia ciptakan masih dapat dirasakan manfaatnya sampai sekarang, misalnya Buya Hamka. 


4. Puspita Alwi  :

Oke. Ini definisi menurut perspektif gue sendiri ketika gue baca pertanyaanya. Menurut gue living and existing adalah dua hal yang berkaitan. Kita tidak bisa exist jika kita tidak hidup, dan meskipun hidup adalah bukti dari eksistensi akan tetapi tidak berarti ketika kita hidup kita sudah benar-benar eksis di dunia ini. Gue sendiri mengartikan eksistensi sebagai bukti nyata dari kehidupan yang dijalankan di dunia ini. Eksistensi adalah ketika peran kita memiliki signifikansi bagi orang-orang di sekeliling kita. Jadi bagi gue ketika seseorang benar-benar ingin dikatakan hidup, dia harus memiliki eksistensi, baik bagi dirinya sendiri atau bagi orang-orang di sekelilingnya. Selama hidup, kita bisa memilih ingin mengambil peran apa dari sekian banyak peran di dunia ini. Ketika kita memutuskan untuk menjalani hidup apa adanya dan tidak mencari eksistensi diri kita di dalam kehidupan itu sendiri, maka mungkin kita belum benar-benar hidup. Dengan kata lain, eksistensi memberikan makna bagi kehidupan yang sedang kita jalankan saat ini.


5. Dhayika Anintia Besari  :

Existing : kamu berada di masyarakat, mereka mengenal namamu, lalu kamu mati begitu saja.
Living          : kamu berada di masyarakat, berbaur, memberi manfaatmu pada orang lain, mereka mengenal nama dan peranmu, lalu kamu tetap hidup setelah kamu mati.


6. Oktarina N. Anjas :

These two words holding the same means, but different weight. Living is like fully 'live-ing' your life, like making the best of your time in this world, in this moment, for you to actually feels like human being, and being able to enjoy it the fullest, for every breath that you take, for every good and every bad happen, for every sweat, every tears, and everything that make you feels like you’re alive. That makes you thanks about it. The feels of being alive, is "living"

Meanwhile..
Existing is like you are there but nowhere. Like you stand here, but you feel like you dont. Other people see you but your eyes wonder where are you going. You’re here in this world, doing everything but nothing to prove your eyes that you're alive, that you got a life, you got a breath, a heart that pumps that not everyone is lucky enough to have but you dont feel like you belong in these 'lucky population'. You just.. see the world rotating without you actually move from the place.

Yes, you’re exist. Yes, you do your work. Yes, you do what you should do as a worker, or a student, or a human that functions, but you feel nothing that can make you actually feel 'exist' or maybe 'alive'.

So the difference is 'the alive feeling'.


7. Quarto Nanda Alfikri :

Kalau hidup hanya sekedar jalani hak dan kewajiban kita. Kalau existing kaya butuh pengakuan dari orang lain.


8. Rikardi Santosa :

Living is EXPLORING while existing is just STUCKING. Living is be brave to face the world, try something new, explore the knowledge and point of views, and get out from comfort zone. Existing is just being comfortable in one condition and do some works only to fulfill the temporary target at that time. 


Maybe for example is when you study. People have different purposes why they study. Some people do study just to pass the exam, targetting good score, and making people acknowledge them as a clever student. They do not comprehend the essential of what they are studying for and they do that way again and again in stuck condition. But other people do study to understand the material and then reflecting the material to their life, even for nowadays or for the future time, or perhaps for their past. Their priority is not ambition to reach high score or something like that. They explore what they learn and sometimes create something new, kind of invention in someday.


..............................................................................................................
..............................................................................................................



3. Have you ever cried because you were so happy?

1. Me :

Yes. I had plenty of them. Tapi yang paling berkesan itu adalah sekitar bulan Mei/Juni yang lalu. By the way, tahun ini bisa dibilang tahun dimana aku melakukan 'proses perubahan kearah yang lebih baik' lebih drastis daripada tahun-tahun sebelumnya. Proses perubahan itu sudah dimulai sejak bulan Januari lalu, dan masih berjalan hingga detik ini. Namun puncaknya ada di bulan Mei tersebut. Ketika aku merasa aku tidak membutuhkan apapun selain Dia, ketika aku merasa semua usaha yang aku lakukan sepertinya sangat didukung oleh-Nya, ketika suatu hari aku menonton video dari seorang ustadz luar biasa yang link nya bisa dilihat disini dan tiba-tiba semuanya terasa melankolis, seolah-olah Allah memberi jawaban-Nya lewat video tersebut.. 


2. Shelby M. Istiqomah :

Yes, definitely I have. A lot.


3. Nadya El Khair :

Seinget saya, belum pernah.


4. Puspita Alwi :

Sering. Nggak tau sih, mungkin memang anaknya baperan aja. Gue cukup sering menangis di momen-momen yang membahagiakan. Biasanya ada 2 hal yang menyebabkan hal ini terjadi, yaitu terharu dan flashback terhadap hal-hal yang udah dilalui hingga bisa sampai ke momen bahagia itu. Mungkin contohnya ketika gue diterima di universitas gue sekarang, gue nangis karena gue ngerasa senang dan gue flashback proses yang gue hadapi selama ini. Di psikologi ada istilah yang disebut katarsis, yaitu proses mengeluarkan energi-energi yang selama ini mungkin tertahan atau tidak terungkapkan. Cara mengeluarkannya bisa dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menangis. Ketika merefleksikan perasaan-perasaan yang selama ini kita simpan dan tertahan, dan tentunya setelah itu kita akan merasa sangat lega.


5. Dhayika Anintia Besari :

Tentu!  Misalnya ketika bisa memberi sedikit kebahagiaan kepada orang tua. Waahhhh... hal ini semakin membuat hasrat untuk membuat mereka bahagia lebih membara lagi.


6. Oktarina N. Anjas :

Yes. I need those feeling again.


7. Quarto Nanda Alfikri  :

Pernah.


8. Rikardi Santosa :

I think it is rare happened to me. If I am in condition super happy, I often get speechless, calm for a while, taking a smile instead of crying. Maybe crying happened when I am very sad, or perhaps in the time I should separated with something that I don’t know when the time I can grab that thing again.


..............................................................................................................
..............................................................................................................


4. When was the last time you wrote a letter to someone on paper?

1. Me :

As I remembered, last time I did it is when I was in highschool, on the days before leaving dormitory. I wrote many of them. 


2. Shelby M. Istiqomah :

If letter means "surat yang amat panjang pakai 'kepada Yth’ dan tanda tangan dibawahnya", kayaknya udah lamaaaaaa banget sampai ga inget kapan. Instead of letter on paper, lebih sering langsung lewat online chat sih, cuma teuteup ya 'romantic feel' nya lebih dapet kalau pake kertas. Heuheu.


3. Nadya El Khair :

Surat?? Hmm.. mungkin kalo surat yang ditulis atas dasar kerelaan udah lama. Tapi bulan Agustus lalu, pas jalan-jalan kelas, kami semua disuruh membuat pesan dan kesan untuk setiap orang di kertas. Apakah itu bisa digolongkan surat?? Kalau iya, maka bulan Agustus adalah bulan terakhir saya mengirim surat. 


4. Puspita Alwi :

3 hari yang lalu. Gue cukup sering menuliskan surat-surat kecil selama gue kuliah. Hal ini karena gue tergabung dalam satu organisasi dan gue sangat bangga dan mengapresiasi orang-orang yang ada di sekeliling gue. Sehingga gue seringkali menulis surat kepada mereka untuk mengapresiasi, menyemangati, dan menyampaikan rasa sayang kepada mereka. Menurut gue itu salah satu cara untuk bisa menjalin kedekatan dengan mereka dan menjaga hubungan dengan orang-orang di sekeliling gue.


5. Dhayika Anintia Besari :

Hmm... kira-kira 2 tahun lalu (sudah cukup lama wkwkwk). Surat yang ditulis untuk keluarga pertama di FK UA. Yeappp MY KK. Jadi waktu itu surat tersebut ditujukan buat bersama dan ada surat yang ditujukan untuk perorangan. Yang boleh dibaca bersama hanya surat untuk bersama. Dan yang untuk perorangan hanya boleh dibaca di kamar masing-masing dengan kondisi khusyu’.  Dan beberapa diantara kami menangis....


6. Oktarina N. Anjas :

Is post-it note count? If so, then last friday (September 30th), I did it.
If dont, hmm, it's long time ago, then.


7. Quarto Nanda Alfikri :

Beberapa bulan yang lalu.


8. Rikardi Santosa :

If you said "wrote a letter in literally paper", maybe one and half months ago. Just a simple paper (seriously, it's just a paper which I ripped off from my small notebook) with a short texts to my new roommate for saying hello and telling him I am gonna be his new roommate. But if you said "wrote a letter with medium-long write with the words 'Dear blablabla.... and Sincerely Blablabla..'", I got it on email about 3 weeks ago (in idul Adha) to my sensei-sensei (somepart I call them friends) for greeting them as I left that place in a couple of weeks. 


..............................................................................................................
..............................................................................................................


5. If you had a friend who spoke to you in the same way that you sometimes speak to yourself, how long would you allow that person to be your friend?

1. Me :

Based on how I usually talk to myself, how I console myself everytime hard times slap me in the face, I'd allow her/him to be my forever friend.


2. Shelby M. Istiqomah :

I tend to keep a friend forever. I mean, once someone be our friend, why should we toss them away.


3. Nadya El Khair  :

Sebenarnya saya juga tidak tahu bagaimana cara saya berbicara dengan diri saya sendiri :"D


4. Puspita Alwi :

Mungkin selamanya. Karena gue senang ketika teman-teman gue bisa berbicara sebagaimana gue berbicara kepada gue sendiri. Gue akan merasa dipahami dan dihargai. Gue akan ngerasa nyaman berteman dengan orang itu. Akan tetapi yang gue artikan sama disini adalah caranya, terlepas dari konten yang disampaikan. It’s okay kalau kontennya berbeda dengan opini gue, asalkan dia menyampaikannya dengan baik.  Akan tetapi nggak menuntut semua orang akan seperti itu sih, karena setiap orang pasti punya preferensi dan cara yang berbeda-beda dalam interaksi dengan orang lain. Gue pribadi senang dengan perbedaan itu, karena gue jadi belajar untuk memahami perbedaan tersebut dan alasan dibalik sikap orang tersebut.


5. Dhayika Anintia Besari :

Selamanya.... 
Berarti ada kesamaan diri kita dengan dia. Dan mungkin kamu bisa sangat cocok dengannya.


6. Oktarina N. Anjas :

Assume that I speak to mysef so low and sometimes so high, so I dont know which one it mentions, but I pick the 'low' one.

How long would I allow them to be my friend?
As long as I need to grab the reality view of my problem. 

I tend to speak on my own, for myself. Sometimes, I tend to be my own friend, my own counselor, my own twins, and etc. And if there is a friend of mine that can require to be these 3 positions, she can be 'my friend for life'.

But if they are the one who thinks like the low version of myself, the one who unconfidently confident to view so low of myself, then maybe I allow myself to grow apart from her. Or maybe, I’ll build a wall between us, so I can be her 'so called friend' and best listener, but she actually just a person I hangout with.


7. Quarto Nanda Alfikri :

Berapa lama?? Mungkin tak ada batasan waktu untuk berteman.


8. Rikardi Santosa :

Forever, because I think that kind of person understand about me actually, know my character, and know my way of thinking. Perhaps me and my friend like that have same ideas and the way of thinking as me.


...........................................................................................................
...........................................................................................................


TBH I was a bit pessimist starting this project. They're actually just pretty simple questions, "apa pertanyaan seperti ini bener-bener perlu jawaban banyak orang?" But shortly after I finished this, I'm hugely satisfied with the results! Apalagi pertanyaan-pertayaan selanjutnya bakal lebih challenging dan 'memaksa berpikir'. (Sepertinya) bakal lebih memperlihatkan bahwa beda orang beda pemikiran :)


If any of you want to submit your asnwers, immediately share yours in comment section down below :))

Happy reading and stay tune for the next part!~


Sunday, October 2, 2016

[REVIEW] Movie: Train To Busan (2016)



This is my very first movie-review and I'm so much excited yet nervous at the same time! Ini film yang lagi booming banget, ditonton oleh banyak orang, dan banyak muncul di timeline Path. Sebenarnya film ini sudah tayang bulan Juli lalu di Korea tapi sepertinya di Indonesia film ini masih cukup baru. Ini dia profil singkat tentang filmnya yang aku sadur dari Wikipedia :




1. Kesan pertama saat mengetahui judul dan melihat posternya?


Judulnya adalah Train To Busan, jadi yang terlintas dipikiranku adalah sepertinya ini film tentang perjalanan. Atau film sejenisnya yang sama sekali tidak ada unsur thrillernya. Tapi pas liat posternya, baru nampak kalo sepertinya film ini cukup menegangkan. Di posternya terlihat para aktornya sedang berlari panik dengan latar belakang yang so chaos :o Ditambah dengan spoiler-an dari seorang teman yang mengatakan bahwa ini adalah film zombie. Oke, secara umum aku sudah dapat gambaran mengenai filmnya. Sepertinya ini bukan film yang 'ringan'. 


2. Kesan keseluruhan saat dan setelah menonton filmnya?


Mau tau bagaimana aku menonton film ini? Gak di bioskop sih. Soalnya di bioskop sini filmnya belum tayang (atau emang ga ada, entahlah). Aku nonton sendirian di kamar dengan lampu dimatikan, volume dikeraskan, start jam 7 malam. Suasana yang sangat mendukung buat nonton film-film thriller dan sejenisnya.


Apa yang terjadi selama aku menonton? Awalnya standar. Menonton dengan serius. Lalu ada beberapa adegan yang bikin senyum sendiri. Ada yang bikin terharu. Ada yang bikin sedih. Ada yang bikin aku bisa dikatain gila karena nendang-nendang dinding saking geramnya. Ada yang bikin tertohok. Dan finally, bikin nangis (eh, spoiler)


Kesan setelah menonton? Jika harus memberi rating 1-10, I'd love to give 11/10 karena memang filmnya ini bagus banget! Nanti akan dijabarkan secara rinci komponen-komponen yang membuat film ini patut diajungi 20 jari.


Perasaan setelah menonton? Maaf kalo spoiler (lagi), tapi filmnya sad ending :" soo.. gimana perasaan setelah menonton? Bisa ditebak sendiri lah ya.


3. Karakter para aktornya (aktor utama) :




--> Gong Yoo (as Seok Woo) & Kim Su An (as Soo An)


Mereka adalah tokoh paling utama di film ini. Disini Gong Yoo memerankan karakter seorang ayah yang sibuk dengan pekerjaan dan tidak terlalu dekat dengan keluarganya. Dia sudah berpisah dengan istrinya, namun anak dan ibunya masih tinggal bersamanya. Sehari sebelum anaknya (Soo An) ulang tahun, ia memberikan sebuah kado yang sayangnya (saking tidak pedulinya) adalah kado yang sama persis seperti ulang tahun yang sebelumnya. Soo An hanya terdiam dan meminta kado lain --> berangkat ke Busan untuk bertemu ibunya. Seok Woo pada akhirnya setuju dan mereka berangkat ke Busan esok dini hari. 


--> Ma Dong Seok (as Sang Hwa) & Jung Yu Mi (as Sun Kyung)

Sang Hwa berangkat bersama istrinya (Sun Kyung) yang sedang hamil ke Busan, di kereta yang sama dengan Seok Woo dan Soo An. Disini tidak begitu dijelaskan alasan mereka pergi ke Busan. Scene pertama mereka adalah saat Sang Hwa sedang menunggu istrinya yang sedang berada di dalam toilet. 

--> Choi Woo Shik (as Young Gook) & Ahn So Hee (as Jin Hee)

Young Gook bersama teman-teman dan guru sekolahnya sepertinya berangkat ke Busan untuk mengikuti suatu pertandingan olahraga, terlihat dari seragam yang mereka pakai. Jin Hee baru datang kemudian dan segera duduk disamping Young Gook, sepertinya mereka saling suka. 

--> Kim Eui Sung (as Yong Suk)

Ha! Ini dia tokoh antagonisnya. Si bapak ini berangkat ke Busan untuk menemui ibunya. Kenapa dikatakan antagonis? Karena di sepanjang film ini dia berperan sebagai seseorang yang egois, hanya mementingkan diri sendiri, dan dengan sukarela mengorbankan orang lain demi keselamatan dirinya sendiri :o Aktingnya disepanjang film ini dijamin bakal bikin kamu geram luar biasa!

4. Akting para aktor secara keseluruhan?

9,5 out of 10! Tapi khusus untuk Gong Yoo dan Su An aku bakal kasih 10/10! Semua aktornya mampu membawakan film ini dengan begitu baik. Terutama Gong Yoo dan Soo An. Yang aku tahu selama ini Gong Yoo hampir selalu membawakan karakter seorang lelaki single yang penuh pesona. Ini pertama kalinya aku melihat dia berperan sebagai seorang ayah (dengan segala pengorbanan yang ia lakukan demi keselamatan anaknya) dan ia memerankannya dengan luar biasa! Mereka berdua mampu menyampaikan cerita dan mengaduk emosi dengan baik :")

5. Jalan cerita secara keseluruhan?



Film ini bergenre thriller. Menceritakan tentang virus zombie yang menyerang penduduk Korea Selatan, dan (kebetulan) satu-satunya kota yang masih aman untuk dituju adalah Busan. Perjalanan kereta ini ke Busan akan begitu damai kalau saja sang petugas stasiun tidak lengah dan membiarkan seorang perempuan yang telah terinfeksi masuk ke kereta. Pada awalnya perempuan ini masih berada dalam fase prodromal (gejala patognomonik zombie nya belum terlihat, dia masih dalam keadaan sadar). Namun beberapa saat kemudian, ia mulai kejang-kejang dan menyerang seorang petugas kereta yang berniat menolongnya. Dan begitulah cerita ini berjalan, semakin banyak penumpang kereta yang terserang dan berubah menjadi zombie, yang membuat para penumpang yang masih selamat semakin terpojok.

Cerita mengenai zombie-nya mungkin terdengar klasik. Namun cerita yang sesungguhnya, yang mampu membuat geram dan mengaduk perasaan itu justru berasal dari kehidupan dan perjuangan para aktor utama tadi untuk menyelamatkan diri :o

6. Editing film secara keseluruhan?

Sesuai ekspektasi. Editingnya bagus dan tentu saja terlihat nyata, tapi tidak bisa dibilang sempurna juga. Bisalah diberi 9,8 out of 10 :)

7. Pesan yang dapat diambil?

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini. Tentang menetapkan prioritas, yang seharusnya menetapkan posisi keluarga lebih tinggi dari pekerjaan. Tentang sifat asli manusia yang muncul disaat nalurinya untuk bertahan hidup digenjot habis-habisan. Tentang perjuangan yang tidak semuanya berujung sesuai harapan. Tentang pengorbanan demi keselamatan seseorang yang dicinta. Tentang kehilangan dan ketegaran untuk tetap bertahan dan melanjutkan kehidupan.

dan.. masih banyak lagi.

8. Kata terakhir?

This movie is so much worth to watch! I strongly recommend this one. Jangan sungkan untuk berbagi pengalaman in comment section down below :)





This entry was posted in

Friday, September 30, 2016

[DAILY LIFE] S a r c a s m



Baiklah. Akan kumulai darimana hari ini?

Akhirnya. Pagi ini mataku terbuka lagi. Tanganku masih mengucek mata, seperti biasa. Oh, tanganku masih bisa digerakkan. Aku beranjak dari tempat tidur. Hendak merapikan. Prototipe yang sudah diajarkan sejak kecil melalui lagu anak-anak. Oh, sebentar. Kakiku masih bisa bergerak, kalau begitu. Aku menghembuskan napas lega. Oh, aku masih bernapas seperti biasa. Sepertinya semua berjalan normal seperti hari-hari kemarin. Aku masih utuh. 

Mempersiapkan diri untuk hal-hal yang dicanangkan untuk dilakukan hari ini. Mandi pagi, berpakaian rapi, dan bersolek, secantik/segagah mungkin. Demi memenuhi tuntutan untuk membersihkan diri, dan tak lupa juga, untuk memenuhi kepuasan akan pujian. Menyenangkan, bukan? Dipuji oleh setiap yang lewat?

Berangkat dan sampai di tempat tujuan. Sesuai ekspektasi. Sapaan oleh mereka yang mengenal. Pujian bagi mereka yang lebih dekat. Hidup terasa bahagia. Kebahagiaan bagi seseorang bisa sesederhana memperoleh pujian. Semenit kemudian, sosok yang diakui sebagai sahabat mendekat. Menanyakan 'sudah sarapan belum?'. Berencana melakukan hal-hal yang belum sempat dilakukan saat jam istirahat bermulai. Menyenangkan, bukan? Memiliki teman yang senantiasa menemani. Teman yang kita selalu bangga bila berjalan dengannya. Teman yang selalu kita pamerkan di media sosial. Teman yang bahkan kita tidak tahu apakah dia menganggap kita juga teman atau bukan. Well, dunia tidak selamanya sesuai ekspektasi, bukan? Tidak semua hubungan itu dikaitkan dengan kata "saling". Tidak semua hubungan itu berjalan dua arah.

Aku tidak menakut-nakuti. Hanya saja itu memang kenyataan. Berapa taksiran angka probabilitasnya? Ya tergantung situasi. Contohnya saja, semakin berat usaha untuk 'bertahan', angka probabilitas bisa mencapai lebih dari 50%. Seperti sekumpulan ular yang terkurung di dalam sebuah box. Merasa senasib. Merasa sama-sama terkungkung. Merasa sama-sama kelaparan. Tapi pada akhirnya lihat saja nanti. Siapa pada akhirnya yang akan duluan menggigit ekor ular lain.

Selepas kegiatan. Mencari tempat tuk istirahat sejenak. Memesan makanan dari sebuah kedai langganan. Ketika makanan sampai, begitu dilahap dengan segera tanpa curiga sedikitpun apakah makanan itu telah dibumbui keburukan atau tidak. "Tidak usah berlebihan, lah!" Aku tidak tahu bagaimana kamu menjalani hidup selama ini. Tapi di dunia ini apapun bisa terjadi. Manusia tidak selamanya 'manusia'.

Melanjutkan kembali aktivitas. Mengakhirinya sesuai jam yang telah ditentukan. Sesuai protap. Prosedur tetap. Ah, hidup sehari-hari rasanya terlalu menyedihkan jika harus patuh setiap detik pada 'prosedur' yang ada. Prosedur yang sebenarnya bermakna pembantaian, pengolahan yang membuat kita berubah menjadi produk sampah yang sama mengerikannya dengan mereka-mereka yang menetapkan 'prosedur'. Tapi jika keluar dari prosedur, maka aku akan dikatai oleh setiap mereka yang melihat. Hingga di orang yang kesepuluh, namaku sudah habis tercoreng. Ah, tercoreng masih jauh lebih baik. Setidaknya aku masih memiliki nama. Daripada namaku lenyap tidak berbekas sama sekali.

Aku kembali pulang. Aku sudah selesai dengan 'perjudian' hari ini. Mengendarai kendaraan mengkilat yang aku cicil setiap bulannya. Perhentian di lampu merah, sebuah kendaraan lain yang tak kalah mengkilatnya berada di samping. Wah, kendaraan yang sudah lama diimpikan! Berpikir keras bagaimana cara agar bisa segera memilikinya. Tender mana yang harus segera dikejar dan dimenangkan. Saking seriusnya hingga suara kricingan dan ketokan dari anak-anak berbaju lusuh diluar kaca kendaraan tidak terdengar. Hingga suara klakson dari barisan kendaraan dibelakang tak tergubris, disaat lampu perempatan telah berubah menjadi hijau.

Sesampai di rumah. Membuang badan keatas kasur. Letih luar biasa. Tapi masih semangat dan serius memikirkan pencapaian-pencapaian yang harus diraih. Begitulah aku. Haus pujian. Haus harta. Selalu percaya seutuhnya pada siapapun. Iri pada siapapun yang memiliki lebih. Tidak peduli orang lain karena aku hidup bukan atas bantuan orang lain. Aku hanya aku. Dengan segala target yang aku kejar.

Bagaimana denganmu?

[TRAVELLING] Pesona Pantai Gunung Kidul: Couldn't Ask for More! (Part 2/2)

Welcome back, beach lovers! Beach maniac! Beach enthusiast! :D

As I promised, aku akan melanjutkan pemaparan mengenai inner and outer beauty dari pantai-pantai di Gunung Kidul :)


Kalau kalian belum sempat melihat part 1 dari postingan ini, bisa cuss kesini --> Part 1


7. PANTAI DRINI





Lokasi :

Koordinat GPS: S8°8'17" E110°34'40" Lokasi : Desa Banjarejo - Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
(in case kalian belum membaca part 1 postingan ini, semua data "lokasi" untuk 15 pantai ini diambil dari sini )

Kesan :
Tidak bisa tidak mengatakan bahwa pantainya soooo much beautiful :D Di pantai ini banyak yang jualan seafood juga, banyak perahu nelayan juga, sama kayak pantai Ngrenehan (lihat di part 1). Bedanya, pantai ini jauh lebih luas, ada bukit yang bisa dipanjat, dan bau udaranya ga se-amis pantai Ngrenehan. 

What I found :

1. Pantai yang luas
2. Pasir putih
3. Banyak kedai hidangan laut dan perahu nelayan
4. Ada bukit yang bisa dipanjat. Naiknya bayar, kalo ga salah sekitar 2.000-4.000.
8. PANTAI KRAKAL








Lokasi :

Koordinat GPS: S8°8'43" E110°35'59" Lokasi : Desa Ngestirejo - Kecamatan Tanjungsari,Kabupaten Gunungkidul

Kesan :

Pantainya luas banget dan cantik as I expected! Jadi ada bocoran nih, mulai dari pantai Krakal sampai pantai Ngandong itu prototipenya ga jauh beda. Lokasinya juga lebih bertetangga dibanding pantai-pantai lain. That's why, kalau kalian bingung harus memilih 2 dari 4 pantai ini, saranku mendingan kalian ke Krakal dan Ngandong aja, karena cantiknya lebih beda :)

What I found :

1. Pantai yang luaaaas
2. Pasir putih
3. Ada bukit yang bisa dinaiki, kalo ga salah bayar juga. Sekitar 2.000-4.000
4. Cukup bersih dan tampak terkelola dengan baik
5. Sangat bersebelahan dengan pantai Slili, tinggal jalan kaki doang, terus nyampe :)

9. PANTAI SLILI





Lokasi :

Koordinat GPS: S8°8'42" E110°36'10" Terletak di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Kesan :

Seperti yang sudah aku jelaskan di penjelasan pantai Krakal diatas, jika kalian punya waktu terjepit tapi ingin mengunjungi semua pantai yang ada di Gunung Kidul, pantai ini termasuk daftar yang dibawah-bawah (IMHO). I mean, semua pantai disini emang bagus banget, hampir semua berpasir putih dan airnya like crystal clear. Bukan berarti pantai Slili dan pantai Sadranan ga bagus untuk dikunjungi, but ada pantai-pantai lain yang lebih worth it untuk didatangi, yang "lebih bikin kita rajin zikir" karena memuji keindahan ciptaan-Nya terus :)
What I found :

1. Pasir putih
2. Ada bukitnya juga like you see in this photo, tapi ga bisa buat dinaiki (kalo ga salah), jadi bukitnya sebagai pembatas dengan pantai disebelahnya aja.
3. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari pantai Krakal


10. PANTAI SADRANAN




Lokasi :

Koordinat GPS: S8°8'44" E110°36'16" Lokasi : Desa Sidoharjo - Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Kesan :

Sama seperti pantai Slili.
What I found :

1. Pasir putih.
2. Pantai yang cukup luas
3. Pantai ini sama seperti pantai Krakal-Slili, kita bisa pindah ke pantai selanjutnya (pantai Ngandong) hanya dengan berjalan kaki :) Tidak ada bukit yang membatasi. Garis batas antara keduanya sejajar dengan pulau yang bisa kalian lihat di foto diatas.


11. PANTAI NGANDONG




Lokasi :
Koordinat GPS: S8°8'47" E110°36'20" Lokasi : Desa Sidoharjo - Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. 
Kesan :

Sebenarnya pantainya sama dengan yang lain (pasir putih dengan air superbening), tapi di pantai ini ada bukit yang bisa dinaiki, bayar juga naiknya (semacam sumbangan sukarela gitu kalo ga salah). Dari atas bukit ini kita bisa ngeliat sejauh mata memandang! Bukit yang ada tulisan Pantai Krakalnya pun masih bisa terlihat di puncak bukit ini. Btw foto yang ketiga itu diambil dari puncak bukitnya :)

What I found :

1. Pasir putih
2. Ada bukit yang bisa dinaiki
3. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari pantai Sadranan.
12. PANTAI INDRAYANTI (PULANG SAWAL)





Lokasi :
Koordinat GPS: S8°9'2" E110°36'44" Lokasi :Desa Tepus - Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Kesan :

Hasil dari review beberapa orang, sebagian besar merekomendasikan pantai ini. Dan benar saja, saking direkomendasikanya, pantai ini termasuk dua dari lima belas pantai (satunya lagi pantai Baron) yang aku kunjungi yang kumpulan manusianya paling membludak :0 Jadi keindahan pantainya yang sesungguhnya jadi agak berkurang :( tapi TBH kalo kesini pas lagi ga hari libur dan sepi pasti bakal bagus banget :')


What I found :

1. Pantai yang luaas
2. Pasir putih
3. Ada bebatuan besar
4. Bukitnya ada dua yang bisa dinaiki, satu di barat, satu di timur. Dua-duanya bayar (lupa berapa, tapi ya kisaran segitu juga, 2.000-4.000). Bukit yang di timur lebih gede dari yg dibarat. Foto yang kedua itu diambil dari atas bukit yang di barat. Di bukit yang sebelah timur kita bisa langsung lihat dan bahkan turun ke pantai selanjutnya, yaituuu :

13. PANTAI TRENGGOLE


Lokasi :
Koordinat GPS: S8°9'7" E110°36'53" Lokasi : Sebelah timur/bersebelahan dengan pantai Indrayanti. Desa Tepus - Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta 
Kesan :

Yep! Foto ini diambil dari atas bukit bagian timurnya pantai Indrayanti. Coba tengok, walaupun pantainya bersebelahan, tapi jumlah kumpulan manusianya jauh berbeda. Yang satu super ramai dan yang satu malah sepi. Padahal kalau dilihat-lihat, prototipenya ga jauh beda. Mungkin akses daratnya kali yang agak susah (kurang tau juga sih, karena aku ga turun ke pantai ini).


What I found :

Sama seperti pantai Indrayanti. Ada pasir putih dan bebukitan yang bisa dinaiki.


14. PANTAI POK TUNGGAL



Lokasi :
Koordinat GPS: S8°9'20" E110°37'17" Lokasi : Desa Tepus - Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Kesan :

Dibanding pantai-pantai lain, akses ke pantai ini bisa dibilang cukup "hmm". Lebih sempit dan kalau tidak salah ga diaspal. Tapi worth it untuk ditempuh kok! Aku nyampe sini pas udah sore, jadi pantainya udah mulai surut (bisa dilihat dari foto diatas). Pantainya luas banget. Seru buat acara keluarga-keluarga kecil (ala-ala Return of Superman gitu ^^). 

Karena pantainya lagi surut, jadi bisa keliatan kalo sebenarnya tekstur pasir dan batu-batu kecil tempat kita berpijak di pantainya itu ga rata. Didekat bebukitan yang ada di foto kedua itu, banyak cekungan-cekungan mulai dari yang dangkal sampai yang selutut. Jadi hati-hati kalo bawa anak kecil bisa kecebur di cekungannya. BTW di cekungan itu banyak ikan-ikan kecil plus bintang laut juga :)

Oiya satu lagi. (Sepertinya ini berlaku untuk semua pantai disini). Meskipun sore dikatakan adalah waktu surutnya pantai, tapi harus siap siaga dengan serangan ombak besar yang tiba-tiba datang (serius!). Serangan ombaknya ini datang episodik, hanya sebentar, tapi sekali datang itu gede bangett. Kalo lagi sial bisa langsung basah sampai ke pinggang :0


What I found :

1. Pantai yang luass
2. Ada bukit yang bisa dinaiki juga
3. Bebatuan kecil-besar
4. Pasir putih yang bikin kaki tenggelam

15. PANTAI SIUNG



Lokasi :
Koordinat GPS: S8°10'55" E110°40'58" Lokasi : Desa Purwodadi - Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Kesan :

Dari 15 pantai yang aku kunjungi selama dua hari perjalanan ini, pantai Siung adalah penutup yang L-U-A-R-B-I-A-S-A. Di pantai ini ada bebatuan yang lebih banyak. Prototipenya mungkin sama dengan pantai lainnya. Yang bikin excited itu adalah saat kalian naik ke bukitnya, dan ngeliat pemandangan yang ada dari puncak bukit tersebut (terutama pemandangan disebelah kiri/timur). Sayang banget waktu nyampe di puncak udah mulai magrib, dieksaserbasi dengan kemampuan kamera HP yang tidak mumpuni disaat gelap, jadi hasil fotonya kurang bagus. But seriously pemandangan dari puncak bukitnya itu so hard to move on :") extremely mashaAllah :") 
Oiya, dipuncak bukit itu lebar jalannya cuma sekitar 1 meter plus anginnya lumayan kencang. Jadi harus hati-hati :o



What I found :

1. Struktur pantai yang terlihat cukup berbeda dari pantai sebelumnya
2. Pasir putih
3. Banyak bebatuan
4. Ada bukit yang bisa dinaiki dan memang harus dinaiki! Sayang banget kalau ke pantai Siung tapi ga naik ke puncak bukitnya :0


............................................................................................................

Akhirnya tulisan ini selesai jugaa. Overall dari lima belas pantai yang sudah aku kunjungi dan review disini, it'll be better kalo aku memberi rating, mana pantai-pantai yang lebih wajib dikunjungi. IMHO ini pantai-pantai terbaik :D
1. Pantai SIUNG
2. Pantai NGOBARAN
3. Pantai KUKUP
4. Pantai POK TUNGGAL

Postingan ini memang baru membahas 15 dari 48 pantai yang ada di Gunung Kidul, but semoga ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkan. Kalau ada tanggapan, jangan sungkan-sungkan memanfaatkan kolom komentar down below :))

Wednesday, September 28, 2016

[REVIEW] Tes Kepribadian dan Penentuan Bakat di Youthmanual !~


Beberapa minggu yang lalu, disaat lagi ngutak-atik gadget, ga sengaja nemu OA Line yang nge-promote buat ikut semacam acaranya Youthmanual gitu, sama ikut tes juga untuk tau kepribadian dan bakat kita. Mumpung si OA Line langsung ngasih link ke web-nya, jadi cuss langsung nyobain.

Dan.

Tes nya banyak banget :D

Jadi secara keseluruhan ada tiga macam tes :
1. Tes Kepribadian 
2. Tes Minat
3. Tes Gaya Belajar

daan.. soal di masing-masing tes itu ada banyaak. Sebenarnya sih ini bagus, karena makin banyak soal, makin banyak parameter yang jadi acuan, dan kemungkinan valid makin besar.

Sebenarnya aku awalnya cuma mau ikut tes kepribadiannya aja, karena aku sudah kuliah (tahun akhir!) dan sudah jatuh cinta dengan apa yang dijalani saat ini. But i ended up ikut ketiga-tiganya karena "yaudahlah, tanggung, coba aja semuanya" :D

Jadi, bagaimana hasilnya? Worth it gak sih?
Jika harus dihitung skala 1-10, I'd love to give 9.5 ! :))

(+) Soalnya banyak banget. Jadinya validitasnya juga lebih baik.
(+) Websitenya terlihat professional
(+) Sangat dianjurkan untuk anak-anak SMA yang masih bingung mau lanjut kuliah dimana
(+) Juga dianjurkan buat kamu yang suka evaluasi diri, mencari tahu potensi positif dan energi negatif yang harus segera dibuang.
(+) GRATIS

Buat yang penasaran, ini link nyaa --> Youthmanual
Ini link buat kamu yang pengen tahu lebih jauh apa itu Youthmanual --> Tentang Youthmanual
Selamat mencobaaa :D

Buat yang pengen tahu hasilnya itu nanti bakal kayak gimana, bisa lihat gambar screenshot-an dibawah ini :












This entry was posted in

Tuesday, September 27, 2016

[DAILY LIFE] Homesick (part 2)


Pernahkah seseorang bertanya kepadamu,
"Pernahkah kamu menangis saat begitu rindu ingin pulang?"

Kalau ada,
Boleh ku bertanya, "apa jawaban yang kamu berikan padanya?"

Jika jawabanmu 'Pernah',
Boleh ku bertanya, "berapa lama kala itu kamu menangis?"

Boleh ku bertanya lagi,
"apa yang kamu lakukan kala itu agar bisa tetap bertahan?"

Boleh ku bertanya lagi,
"apa kamu pernah menyesal telah pergi?"

Boleh ku bertanya lagi,
"apa kamu pernah menyesali kehidupan yang kamu jalani sekarang?"

Boleh ku bertanya lagi,
"jika pernah, apakah penyesalan itu pernah hilang dan hanya bersifat sementara atau menetap hingga saat ini?"

Monday, September 26, 2016

[DAILY LIFE] Homesick



Seberapapun besarnya perasaan homesick, seberapapun kuatnya rasa tidak ingin balik, seberapapun menyedihkannya berpisah, aku harus tetap kembali.

Ke perantauan.
Mengusahakan sesuatu yang dulu sudah aku putuskan untuk jalani.
Menyelesaikan sesuatu yang dulu sudah terlanjur aku pilih.

Semua pasti akan berakhir. Semua pasti akan ada ujungnya. Wahai aku, bersabarlah (!)

Karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk 'memilih'.

Waktu tidak kenal istirahat. Pulang itu pasti akan datang. Usahakan yang terbaik, agar banyak yang bisa diceritakan, agar banyak yang bisa dibagikan, nanti, saat pulang.